Aku mengetuk pintu kamar.“Masuk,” terdengar sahutan lirih dari dalam.Aku memutar kenop pintu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.Lampu kamar hanya menyala redup. Ines bersandar di kepala ranjang dengan piyama bermotif polkadot merah muda.“Kau sakit, Nes?”Aku melangkah mendekat, lalu menarik kursi di samping ranjang.Belum sempat kudengar jawabannya, Ines tiba-tiba bergeser mendekat.“Erul...”Kedua lengannya langsung melingkari pinggangku.“Aku sakit, Rul.”Aku terdiam di tempat, membiarkan kedua tanganku menggantung canggung di udara tanpa membalas pelukannya.Aku menempelkan punggung tangan ke dahinya.“Keningmu dingin,” kataku datar.Aku menarik tangan kembali.“Kau tidak demam, kok.”Ines hanya menunduk.Pandanganku beralih ke semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja rias.Aku mengambil mangkuk itu, lalu kembali duduk di samping ranjang.Aku menyendok sedikit bubur hangat, lalu menyodorkannya ke depan bibirnya.“Buka mulut,” ujarku pelan.Ines menga
Last Updated : 2026-08-16 Read more