POV ARMANAku menghirup udara Bali. Panas masih terasa terik. Aku berjalan keluar area menuju parkiran taksi yang ramai menawarkan tarif. Aku masuk disalah satunya. Aku menuju Ubud, tempat favorit yang pernah ku kunjungi. Aku masuk toilet. Kunci. Liat kaca. Umur 42. Tapi muka kayak 60. Keriput di dahi. Kantung mata hitam. Bibir pecah. Tangan yang dulu stempel APBN, sekarang pegang gagang koper plastik. Tapi aku tetap punya modal. Villa di puncak. Uang yang masih ada di koper. Dan beberapa properti yang bisa dijual cepat. Aku harus berubah atau mati seperti dulu. "Arman." kataku ke pantulan sendiri. "Kamu udah mati 22 tahun lalu. Yang jalan ini cuma mayatnya."Aku ketawa. Kering. Nggak ada yang denger. Perjalanan yang kering bukan nostalgia lebih tepatnya mengutip jejak yang tercecer 22 tahun yang kau abaikan. Aku naik taksi ke Ubud, tanpa tawar langsung naik. Sopir senyum simpul, entah mau bilang rezeki atau dapat korban baru lagi. Ku buka laptop Asus ku dan melihat email da
Last Updated : 2026-07-23 Read more