Ruangan sidang itu dinginnya bukan main. Dingin yang menusuk sampai ke sumsum. Bukan karena AC 16 derajat, tapi karena ratusan mata di dalamnya menelanjangiku hidup-hidup. Baunya mual. Kecampur bau kayu jati meja hakim yang udah minum keringat puluhan tahun, bau parfum mahal para pengacara, bau rokok yang nyelip di jas wartawan, dan bau logam dari borgol di tanganku._Tok. Tok. Tok._ Palu hakim menghantam tiga kali. Suaranya menembus gendang telinga. "Sidang perkara nomor 127/2026/PN.JKT atas nama terdakwa Macho Pratama, dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum."Jantungku naik ke tenggorokan. Rasanya mau muntah. Borgol baja di pergelanganku berat, dingin, dan meninggalkan luka lecet. Baju tahanan oranye yang aku pakai basah di punggung. Bukan karena AC, tapi karena keringat dingin. Aku duduk di kursi pesakitan paling tinggi, di atas podium. Disorot lampu. Dipajang. Kayak maling ayam di pasar.Di bawah sana neraka. Kamera TV nasional, kamera wartawan online, pulpen yang nulis tiap ke
Last Updated : 2026-07-16 Read more