Linggar masih tidak beranjak. Ia bahkan masih enak ngobrol dengan Lintang dan Bu Ratih juga Nia. "Tiap hari begini, kan enak, Mbak, " ucap Nia sbil makan lontong sayur. "Emakmu sendiri, Nia. Kamu bisa leyeh-leyeh kan? Kita yang bosen makan lontong terus.""Ya, nggak lontong terus, Bu. Besuk, bisa nasi pecel," usul Nia dengan segera menunduk begitu Bu Ratih mulai kesal Iinggar melirik Ilalang yang masih menunggunya dengan mondar-mandir. Sampai rasa jengkel membuatnya berdiri. Sesampainya di kamar, lelaki itu bilang. "Buatkan aku kopi? Dari kemarin nggak minum kopi kamu, aku ngerasa nggak seger.”Linggar tidak menoleh. Hanya segera ke dapur. Ia mengambil gelas. Biasanya ia akan bertanya kopi seperti apa. Manis atau tidak. Pakai susu atau tidak. Soalnya lelaki itu suka gonta ganti selera tiap harinya. Namun kali ini tidak. Tangannya hanya sibuk menyiapkan kopi.Ia tahu Ilalang mungkin heran ia tak tanya apapun, sampai lelaki itu sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.“Kam
Last Updated : 2026-09-05 Read more