Share

74. Diam

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-09-05 14:00:03

Linggar masih tidak beranjak. Ia bahkan masih enak ngobrol dengan Lintang dan Bu Ratih juga Nia.

"Tiap hari begini, kan enak, Mbak, " ucap Nia sbil makan lontong sayur.

"Emakmu sendiri, Nia. Kamu bisa leyeh-leyeh kan? Kita yang bosen makan lontong terus."

"Ya, nggak lontong terus, Bu. Besuk, bisa nasi pecel," usul Nia dengan segera menunduk begitu Bu Ratih mulai kesal

Iinggar melirik Ilalang yang masih menunggunya dengan mondar-mandir. Sampai rasa jengkel membuatnya berdiri.

Sesampainya di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   111. Tanda merah

    Malam itu di ruang keluarga. Bu Ratih bersama Nia nonton TV sambil nungguin Lintang yang hendak belajar didampingi Linggar. “Sepertinya sekarang ada yang rajin pakai hijab di rumah," canda Bu Ratih ketika Linggar datang bersama Ilalang. Linggar spontan menundukkan wajah. Malam itu ia memang sengaja mengenakan hijab meski hanya berada bersama keluarga. Kain tersebut menutupi lehernya yang masih menyisakan bercak kemerahan akibat ulah Ilalang. Ia berharap tidak ada yang memperhatikan, tetapi rupanya Bu Ratih justru lebih dulu menyadarinya.Linggar semakin salah tingkah ketika Ilalang yang duduk du sebelahnya menyenggol sikunya pelan.Ia melirik lelaki itu dengan kesal, tetapi Ilalang justru memasang wajah tanpa dosa.Mbak Nia yang berada tidak jauh dari mereka tampak menahan senyum. Linggar bisa melihat sudut bibir perempuan itu bergerak, seolah berusaha keras agar tidak tertawa.Sayangnya, Lintang yang belum mengerti apa-apa justru bertanya dengan polos.“Bunda kenapa pakai hijab te

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   110. Malam pertama

    Ilalang seketika kaget dengan pertanyaan Linggar.“Cindy bukan orang seperti itu.”Suara Ilalang terdengar tenang, tetapi justru membuat dada Linggar terasa sesak.“Dia wanita yang selama aku tahu, menjaga diri.”Linggar tidak bicara.Ilalang masih berdiri menghadapnya. Tatapannya lurus, seolah ingin memastikan Linggar benar-benar mendengarkan setiap perkataannya.“Setidaknya saat bersamaku, dia begitu,” lanjut Ilalang. “Aku memang biasa tinggal di luar negeri, tapi aku punya prinsip. Aku nggak sembarangan berhubungan dengan perempuan."Linggar menundukkan wajah.Entah kenapa, penjelasan itu sama sekali tidak membuat hatinya lega, padahal seharusnya ia senang, kalau Ilalang menjaga batasannya.“Dan sepertinya Cindy tahu prinsipku itu.”Linggar mengembuskan napas pelan. Cara Ilalang bicara tentang Cindy seperti itulah yang bikin dia merasa Ilalang membela Cindy tanpa ragu.Ilalang memperhatikan wajah Linggar yang sejak tadi berubah.Lelaki itu menyipitkan mata.“Kenapa kamu kok aneh?"

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   109. Anak

    “Linggar.”Suara Ilalang membuat Linggar tersadar dari lamunannya.Sejak Lintang masuk ke dalam kelas, pandangannya belum beranjak dari pintu yang telah tertutup. Ada ketakutan yang sulit ia jelaskan. Bukan karena Lintang berada di sekolah. Anak itu sudah sering ia tinggalkan untuk belajar.Namun pagi ini terasa berbeda.Entah kenapa, tatapan Cindy kepada Lintang terus terbayang.Cara perempuan itu mendekat. Cara tangannya menyentuh pipi Lintang. Bahkan senyum yang sempat muncul sebelum Cindy mencium kepala anak itu.Linggar tidak tahu kenapa semua terasa begitu ganjil. “Linggar. Kamu kenapa? Wajahmu pucat."Kali ini suara Ilalang terdengar lebih dekat.Linggar menoleh.Tanpa banyak bicara, Ilalang menggenggam tangannya.Sentuhan itu membuat Linggar sedikit terkejut.“Mas?”“Kita berangkat.”Linggar mengangguk pelan.Cindy yang berdiri tak jauh dari mereka memperhatikan tangan Ilalang yang masih menggengga tangan Linggar sebelum berkata,“Aku ikut ke perkebunan. Kita bahas kerja sama

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   108. Mirip

    "Siapa bilang?" Linggar mengibaskan tangan Ilalang yang melingkar di pinggangnya."Ngaku, deh.""Mas, kamu kok maksa sih."Ilalang terkekeh lalu kembali memeluk Linggar dari belakang."Pagi ini dingin, ya."Bisikan Ilalang membuat Linggar menegang.Rintik hujan terdengar pelan dari balik jendela. Udara pagi terasa lembap. Tubuh lelaki itu semakin mendekat, lalu tangannya sudah menjalar menyentuh tubuh Linggar.Linggar menggeliak menikmati sentuhan itu."Enaknya ngapain ya?"Bibir Ilalang menyentuh lehernya.Linggar makin memejamkan mata. Terlena dalam buaian lelaki itu. Tidak ada lagi rasa takut seperti dulu. Tidak ada keinginan untuk segera menjauh.Namun hanya sesaat. Pikiran lain menyelinap saat mendengar adhan Subuh menggema."Mas baru pulang?""Siapa bilang. Kamu sih, tidur kayak babi. Dipeluk pun nggak ngerti."Ilalang makin membuat Linggar menggeliak. Namun tiba-tiba Linggar membuka mata. Tangannya menahan dada lelaki itu."Sudah, Mas. Nanti kita kesiangan."Ilalang berhenti."K

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   107. Menunggu

    “Nenek sudah tahu kalau Cindy sudah kembali?”Bu Ratih mendengus.“Kamu pikir Pak Budi itu orangmu hingga dia nggak cerita sama Nenek?”“Bukan begitu, Nek. Aku hanya tidak ingin Nenek berpikir yang macam-macam.”“Kamu sudah menikah. Nenek tidak mau kamu terus mengurusi wanita itu.”Kaki Linggar berhenti. Ia berdiri beberapa langkah dari ruang tengah.Suara Ilalang terdengar beberapa saat kemudian.“Dia di sini sudah nggak punya siapa-siapa, Nek.”“Pembantu yang mengurusi rumah leluhurnya juga ada.”“Tapi tetap saja.”“Walau begitu, kenapa kamu yang repot?”“Dia sedang sakit.”“Lalu?”“Nenek mau aku membiarkannya sendiri?”Bu Ratih menghembuskan napas panjang.“Ilalang.”“Apa?”“Kamu itu sudah punya istri.” Suara Bu Ratih terdengar lebih tegas. “Linggar adalah istrimu.”Tak ada jawaban.Linggar menunduk. Merasa tak enak hati. Karena permintaan wanita itulah hingga Ilalang terpksa menikahinya.“Nenek tidak peduli apa yang terjadi sebelum kamu menikah.”Linggar menatap lantai.“Tapi sete

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   106. Fakta

    Suara telepon membuat tubuh Linggar tersentak.Ilalang meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari mereka.Linggar ikut menoleh saat layar ponsel itu menyala. Ia sempat melihat satu nama yang muncul jelas sebelum Ilalang membalikkan ponsel tersebut.Jantung Linggar seketika serasa berhenti ketika telepon itu terus berdering.“Angkat teleponnya, Pak. Jangan sampai menyesal kalau tak mengangkat.”Ilalang menatap Linggar tajam mendengar Linggar kembali menjadi orang asing. Lalu meraih telpon itu kembali.Ia menatap layar beberapa detik. Lalu tangannya bergerak hendak mengangkat panggilan. Walau kemudian ia mengurungkannya, bahkan merengkuh Linggar kembali.Linggar hanya mampu menatap Ilalang dengan tatapan sedih.Setelah mereka kembali begitu dekat, rasa hangat yang tadi memenuhi dadanya berubah menjadi dingin. Sangat dingin.Linggar hendak beranjak merapikan pakaiannya, tapi tangan Ilalang menariknya.Ilalang menatap Linggar sebentar, lalu mengangkat telponnya."Halo..."Di saat yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status