Dua bulan kemudian....Pukul tujuh pagi. Rumah Mama Heny sudah rame. "Seren, udah siap? Bajunya yang rapi ya, Nak." ucap Mama Heny lembut.Seren mengangguk. Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Perutnya sudah semakin besar. Ia menutupnya dengan blazer.Yuda nyodorin air putih. "Minum dulu. Biar nggak dehidrasi."Di kamar lain, Galang juga siap. Kemeja, jas, dasi. Wajahnya pucat karena semalaman nggak tidur. Rara dari kamar tamu ngintip. Pakai dress ketat. Sengaja. "Mas, aku ikut ya?" "Enggak." Jawab Galang singkat. "Ini urusan aku sama Seren."Rara mendengus. "Yaelah. Pelit banget."Di mobil, suasana hening. Galang nyetir. Yuda di depan. Seren di belakang. Nggak ada yang ngomong. Hanya suara GPS yang menunjukkan jalan. Dipengadilan Agama...Ruang sidang tiga terasa dingin. Mereka duduk di kursi kayu. Hakim belum masuk. Tetapi Panitera sudah memanggil nama Galang dan Seren.Jantung Galang berdebar. Seren duduk tegak. Yuda di bangku penonton. Mama Heny juga datang.Tak lam
Última actualización : 2026-09-10 Leer más