Share

Bayang-Bayang Dendam

Author: Maidina Asifa
last update publish date: 2026-09-19 21:42:28
"Bunuh aku, Hendra, maka kau juga akan mati malam ini!"

Jeritan Maya berbaur dengan bunyi deru angin badai yang menggetarkan kaca jendela apartemen. Wanita itu mencondongkan lehernya ke depan, sengaja menekan kulit mulusnya ke mata pisau bedah yang dingin. Darah segar menetes tipis, membasahi ujung kerah gaun hamilnya.

Dokter Hendra terperanjat. Tangannya yang memiting leher Maya bergoyang pelan. "Kau gila, Maya! Kau pikir aku takut membunuhmu?!"

"Kau takut, Hendra," pangkas Maya seraya me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Masa Lalu Devan Yang Kembali.

    "Tugas saya di sini sudah selesai, Maya," kata Devan. Suaranya rendah dan teratur, bergema tipis di antara deru mesin sedan yang menggerung halus di bahu jalan tol. Maya tidak bergeming dari samping pintu mobil. Ia membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhnya, memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "Kau berbohong," desis Maya. Napasnya memburu, matanya memerah menatap Devan dari balik kaca mobil yang setengah terbuka. "Kau bisa mengalahkan semua musuh di luar sana, Devan. Tapi kau lari dari apa yang ada di antara kita." Devan mematikan mesin mobil. Keheningan mendadak menyergap, menyisakan irama rintik hujan yang menghantam atap besi. Pria itu melepaskan cengkeramannya pada lingkar kemudi, lalu menoleh menatap Maya. Tidak ada lagi senjata, tidak ada lagi dokumen hukum, tidak ada lagi ancaman klan Wibowo yang membentang di antara mereka. Hanya ada dua orang yang tersisa di tengah dinginnya malam London. "Selama empat tahun, aku berdiri di sampingmu karen

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Tugas Yang Sudah selesai

    "Hendarto kabur dari Zurich," kata Devan.Maya mematikan layar ponselnya. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan yang tajam. Raincoat hitamnya basah kuyup oleh guyuran gerimis Bandara Farnborough."Polisi Swiss tidak cukup cepat," sahut Maya.Devan merapikan mantelnya, berdiri setengah langkah di samping Maya. Wajahnya tenang, tetapi ada tembok berjarak yang tak lagi bisa ditembus. "Pria itu menyewa jet pribadi dari Jenewa. Dia tidak mengincar saham atau perusahaanmu lagi, Maya. Dia tahu segalanya sudah tamat.""Lalu kenapa dia ke London?""Dia mengejar Arka."Pintu sedan lapis baja di belakang mereka terbuka otomatis. Devan tidak menunggu Maya. Pria itu langsung duduk di kursi kemudi, memutar kunci kontak hingga mesin V8 menggelegar nyaring di dalam hangar."Naik," perintah Devan singkat. "Aku membawamu kembali ke Richmond, memastikan anakmu selamat, lalu aku pergi."Maya menerobos masuk ke kursi penumpang depan, membanting pintu. "Devan, soal

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Menyelesaikan Apa Yang Telah Dimulai

    "Pesawat Devan belum lepas landas," kata Adrian. Suaranya memecah keheningan kamar klinik yang mendadak terasa begitu sempit.Maya menyambar selembar kertas berdarah di atas meja kaca. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali—ritme konstan yang kembali dengan dorongan adrenalin yang jauh lebih liar."Sarang yang dimaksud di pesan itu bukan Amerika," bisik Maya, matanya membaca baris demi baris ancaman tertulis dari pengirim misterius itu. "Itu bandara penerbangan privat di Farnborough.""Siapa nama yang tertera di stempel bawah?" desak Adrian. Ia mencoba merosot turun dari ranjang medis, namun ringisan kencang tertahan di tenggorokannya saat luka tembak di bahunya tertarik keras."Julian Blackwood," jawab Maya dingin. "Dia tidak pernah benar-benar bangkrut. Dia cuma memancing Devan keluar dari lingkaran perlindungan kita agar Devan bergerak sendiri tanpa tim taktis.""Devan mengira dia pergi karena rasa cemburu," Adrian menatap Maya dengan mata membelalak. "Dia tidak

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Siapa Musuh Devan?

    "Kapan kau akan memberitahu Devan bahwa kau tidak pernah mencintaiku?" tanya Adrian.Maya berhenti tepat di ambang pintu kamar perawatan privat lantai tiga klinik Kensington. Jari telunjuk tangan kirinya yang biasa mengetuk paha kini tertahan kaku di balik saku mantel hitamnya. Aroma antiseptik pekat bercampur dinginnya pendingin udara ruangan menusuk hidung."Aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada Devan," sahut Maya.Adrian bersandar kaku di atas tempat tidur medis. Selang infus menempel di punggung tangan kirinya, sementara bahu kanannya terbebat kain kassa tebal yang merembes merah tipis. Matanya yang redup menatap lurus ke arah Maya."Devan mengemas barang-barangnya di Richmond satu jam lalu," kata Adrian. Suaranya serak, rendah, dan kaku. "Dia pikir panikmu semalam adalah bukti bahwa aku masih memegang hatimu."Maya tidak menjawab. Ia melangkah mendekati meja kecil di samping ranjang, meletakkan cangkir kopi panas yang uapnya membumbung tipis."Kau membiarkannya berpikir begitu

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Bagaimana Dengan Hati Devan?

    "Bawa dia ke klinik privat di Kensington," kata Maya. Suaranya gemetar, nada yang belum pernah Devan dengar selama empat tahun mereka menguasai London.Maya tidak menunggu respons Devan. Tangannya cemas menekan luka di bahu Adrian, membiarkan gaun sutra tebalnya bernoda darah pekat yang masih hangat. Jari telunjuk tangan kirinya tidak lagi mengetuk paha dalam irama konstan, melainkan gemetar hebat sewaktu menyapu keringat dingin di dahi Adrian.Devan berdiri kaku di ambang pintu kamar yang remang. Matanya tertancap pada jemari Maya yang sibuk mengusap luka Adrian, jemari yang sama yang tak pernah goyah saat menandatangani pengalihan saham bernilai jutaan poundsterling."Tim medis sipil sudah di jalan, Maya," ujar Devan. Suaranya datar, tetapi ada jeda tipis di antara kalimatnya. "Lebih aman jika dia dibawa dengan ambulans rahasia ke pelabuhan Felixstowe seperti rencana awal.""Tidak!" potong Maya cepat, kepalanya mendongak menatap Devan dengan tatapan panik. "Luka tembak ini menembus

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Aku Teman Lama Bundamu, Arka

    "Bawa Arka keluar dari rumah sekarang," kata Maya.Maya tidak menunggu jawaban Devan. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan yang tajam. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring menembus keheningan koridor Blackwood Tower sewaktu ia membalikkan badan.Devan merampas ponsel enkripsinya dari saku mantel, jarinya menggeser panel panggilan cepat tanpa melepaskan pandangan dari Adrian. "Sinyal kamera pengawas di Richmond mati sepuluh menit lalu."Adrian melangkah dua tindak mendekati pintu keluar. Langkah kaki kirinya yang tumpat menyisakan gesekan halus di atas marmer. "Hendarto menyewa tim eksekutor dari Marseille. Pria yang memimpin mereka memakai nama samaran Gaspard.""Gaspard?" Devan menegang. Matanya membelalak kaku. "Pria itu pembunuh bayaran yang membakar gudang cadangan di Singapura lima tahun lalu.""Dia sudah di dalam hunian Richmond sejak pukul delapan malam," desis Adrian. "Dia tidak mencari uang atau saham. Hendarto memerintahkannya mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status