“Siang bolong begini, siapa yang tahu apa yang sebenarnya kalian lakukan di kamar?!”Aku membuang tongkat golf itu, lalu menarik-narik dasiku dengan kesal. Amarah yang membara di dalam dada tak kunjung mereda.“Dulu, kamu juga bisa bercinta denganku di dalam mobil di depan mata David. Bisa saja kamu juga menggunakan sandiwara yang sama untuk membohongiku?!”Usai mengatakannya, aku langsung menyesal.Namun, semuanya sudah terlambat.Kalimat itu bagaikan mata pisau bedah yang paling tajam, mencabik dan mengupas tuntas borok berkedok ‘cinta sejati’ yang selama ini melapisi hubungan kami.Mona tertawa sangking marahnya. Matanya memerah saat menatapku dengan tajam, lalu membalas dengan geram,“Oh begitu?! Akhirnya kamu mengungkapkan isi hatimu juga, ya? Emangnya kamu kira aku percaya begitu saja padamu?!”Dia tiba-tiba membuka laci nakas, lalu mengambil ponsel cadanganku dan melemparkannya tepat ke dadaku.“Setiap malam, saat kamu pergi mandi, aku selalu memeriksa semua riwayat percakapan d
더 보기