Sudut Pandang Vionne.Perjalanan lift menuju kamar hotelnya sunyi, penuh ketegangan yang menekan dada dan membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku bisa merasakan tatapannya yang menusuk saat kami naik lantai demi lantai. Dia tak menyentuhku, tapi kehadirannya memenuhi ruang sempit itu seperti asap—berat, hangat, dan berbahaya.Kamarnya berada di lantai dua belas. Bersih. Remang-remang. Sebuah tempat tidur besar menanti di tengah ruangan, seperti janji diam yang menggoda. Dia menutup pintu di belakang kami, dan bunyi kunci yang terkunci mengirimkan getar nikmat ke seluruh tulang punggungku.Aku menoleh. Dia sudah ada di depanku. Dan aku menciumnya lagi.Ciuman itu penuh keputusasaan. Panas. Mulut kami bertemu dengan rakus, seolah kami telah menunggu terlalu lama. Tangannya meluncur ke pinggangku, menarikku lebih dekat, mencengkeram seolah tak ingin melepaskan. Jari-jariku menemukan tengkuknya, menyusup ke rambut pendeknya, berpegangan erat padanya.Kami tak berbicara. Tak perlu.P
Última actualización : 2026-07-23 Leer más