"Sialan!" decakan terlontar diiringi umpatan. Melihat perubahan raut wajah Lily membuat Dimas sadar bahwa dirinya sama sekali tidak diharapkan. "Toko sedang sepi, dan aku hanya ingin menikmati udara luar. Memangnya tidak boleh, hah? Ini kursi umum, bukan?" ujarnya kemudian, memberi alasan selogis mungkin. Tapi, Dimas berbohong. Ia memang sengaja menemani gadis itu untuk menjaganya. Ia peduli, apalagi ketika mengingat bahwa Lily hidup sebatang kara. Dan perasaannya tulus, tanpa mengharapkan balasan. "Yah, jujur saja. Aku merasa tidak nyaman diperhatikan ketika sedang makan." Hela napas terembus, Lily mengakui alasan yang sebenarnya. Biar bagaimanapun menyebalkan, ia tahu bahwa Dimas sebenarnya adalah teman yang baik. "Kau hanya perlu diam dan melanjutkan menikmati bekalmu, anggap saja aku tidak ada di hadapanmu. Aku hanya akan duduk sambil bermain ponsel." Selanjutnya Dimas memajukan wajah, berbisik lirih di hadapan Lily seraya memberikan lirikan ke arah kanan. "Pria di seberang jal
Last Updated : 2026-08-22 Read more