LOGINDalam diam, Banyu menundukkan wajahnya. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Kalimat Jayendra berhasil memantik amarah yang sejak tadi ia tahan. “Kenapa kamu diam saja?” tanya Jayendra, menanti jawaban dari sang kusir. Banyu menarik napas perlahan sebelum menjawab. “Baik, Juragan. Saya akan melaksanakan perintah Juragan besok.” “Pastikan kamu mendapatkannya dari semua orang. Tanpa terkecuali,” pesan Jayendra. Pria itu kemudian bersandar santai. “Kalau ada yang tidak mau memberi, kamu bisa melakukan apa saja. Memukul mereka, atau merampas apa pun yang menjadi milik mereka.” Rahang Banyu mengeras. Pria yang berdiri di hadapannya benar-benar tidak punya hati. Dengan mudahnya ia menyuruh orang lain mengambil sesuatu yang menjadi hasil kerja keras para petani. “Apa tidak akan menjadi masalah, Juragan?” tanya Banyu, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Jayendra tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati Banyu dari kepala hingga ujung kaki. “Masalah?” ulangnya. Jayendra
"A-apa?" tanya Wening terbata. "Memakai harta bawaanku?" ulangnya kemudian dengan kening yang berkerut. Jayendra berdiri di depan Wening, bertindak seolah ia adalah perisai untuk istrinya. "Bu, tapi itu harta bawaan wening. Kita tidak boleh—" "Jayendra!" Kanjeng Ibu memotong kalimat putranya. "Bukannya kamu sedang bingung darimana kita membyar upeti? Memangnya apa salahnya kalau kita pakai harta bawaan Wening. Toh Wening juga bagian dari kluarga ini." Wening berdecih di dalam hati. Jika menyangkut masalah, ia diakui sebagai keluarga. Tapi jika tidak ada hal untuk dimanfaatkan, ia akan diangap sepetti sampah. "Atau..." Kanjeng Ibu menjeda kaliamtnya cukup lama. Ia menatap wening penuh arti. "Bukankah kamu juga memiliki harta yang Jayendra berikan padamu? Jayendra sering memberikanmu perhiasan emas. Kita bisa pakai itu dulu." Kanjeng Ibu memberikan usul lain untuk masalah upeti. Wening tetap bersikap tenang. Ia seolah tidak sama sekali terpancing emosi. "Bu, tanpa mengurangi rasa
"Banyu, semalam saya cari kamu tidak ada. Kamu pergi kemana?" tanya Wening pagit itu. Wajahnya terlihat serius, menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Banyu. Ia berdiri di belakang Banyu dengan kedua tangan bertenger di pinggangnya.Banyu yang sedang memandikan kudanya terpaksa berhenti dan menoleh ke arah Ndoro ayunya. "Saya sudah pamitan, mau keluar bertemu seorang teman," jawab Banyu.Tangan yang semula berada di pinggang, kini beralih turun, lalu melipatnya di depan dada. Dengan mata memicing, ia bertanya, "Kapan?"Banyu berdiri hendak memberi jawaban. Namun belum sempat kalimat itu keluar dari bibirnya, sosok Marni berjalan mendekat ke arah mereka. Membuat Banyu terpaksa mengurungkan niatnya untuk menggoda Wening."Kang Banyu, pagi-pagi sudah ditemani Ndoro Ayu. Bagaiaman tidak bersemangat bekerja," sarkas Marni yang diakhiri dengan tawa renyah penuh nada mencibir.Wening menoleh perlahan pada pelayan yang berada di belakangnya. Tatapannya yang sedingin es itu terarah lurus
Sambil terkekeh pelan, Jayendra menyahut, "Syukurlah kalau Tuan menyukainya." "Dari mana kamu dapatkan gadis perawan seperti itu?" tanya Jadipura dengan nada licik yang tak ditutup-tutupi. "Kalau saya sudah bosan dengan yang kemarin, bisa kan saya minta lagi yang baru?" "Saya akan usahakan, Tuan," jawab Jayendra. "Tuan..." Suara Jayendra terdengar ragu. Yang membuat Banyu menggukir irinya pada Jatra dengan kening yang berkerut. "Putra Adipati... Apa yang ia lakukan sekarang? Saya tidak pernah dengar kabar," tanya Jayendra dengan tawa canggung diakhir kalimat. Banyu dan Jatra masih saling berpandangan, menanti jawaban yang akan diberikan oleh Jadipura. "Aku dengar kalau bocah ingusan itu mengurung dirinya di kamar sejak kematian istrinya." Terdengar suara berdenting yang berasal dari gelas keramik di ruangan itu. "Menurutmu, apa itu pantas? Putra seorang Adipati, yang memimpin kadipaten ini malah lebih mementingkan masa berkabung daripada mengurusi rakyatnya yang kelaparan? Mema
Nyai tersenyum puas mendengar pertanyaan Banyu. Pertanyaan itu bukan sekadar meminta penjelasan, melainkan tanda bahwa Banyu menerima tawarannya. "Begini, Den. Aden berdua tentu tahu kalau tempat seperti milik saya ini sering kena inspeksi rutin dari kadipaten. Bisa tidak, kalau nanti ada penertiban, saya diberi tahu lebih dulu?" ujar Nyai. "Pelanggan di sini rata-rata pejabat kadipaten dan orang-orang terpandang. Saya bisa kehilangan mereka kalau sampai ada yang tertangkap. Bagaimana, Den? Permintaan saya tidak sulit, kan?" Nyai lalu melanjutkan, "Sebagai imbalannya, saya akan berikan informasi yang saya tahu." Tanpa berpikir panjang, Banyu langsung menyetujuinya. Urusan inspeksi keamanan bukanlah hal sulit baginya. Yang terpenting, ia bisa mendapatkan apa yang diinginkan: mendengar pembicaraan Jayendra dan Jadipura. "Jadi, apa yang Aden butuhkan? Saya juga punya gadis baru yang cantik. Belum ada harga yang cocok untuknya. Mungkin Aden berminat menawar?" tanya Nyai seraya mengedi
Jatra sigap pasang badan, menyiku dada salah satu pengawal hingga pria itu terjerembap. Namun, kalah jumlah membuat perlawanan mereka tak bertahan lama. Dua pasang lengan kekar langsung mengunci tubuh Banyu dan Jatra, menekan mereka hingga berlutut di atas lantai kayu yang berdebu. Banyu dan Jatra masih berusaha melawan. Ia tak mau mati konyol hanya karena bersembunyi untuk mengawasi Jayendra dan jadipura. Kata-kata umpatan tak luput dari mulut Banyu yang sedang terpojok. Namun tidak ada satupun diantara orang-orang itu membalas Banyu. Pandangan kedua pria itu akhirnya bertemu saat sebuah langkah berat menghampiri mereka. Jantungnya berpacu cepat secara mendadak. Seolah apa yang mereka pikirkan adalah sama. "Jangan-jangan aku ketahuan oleh brengsek itu!" pikir Banyu dalam hati. Seketika otaknya berpikir keras bagaiamana caranya keluar dari tempat ini. Meskipun mereka harus bertaruh nyawa, identitas mereka tidak boleh tertangkap. Apalagi oleh Jadipura, paman sekaligus musuh bebuyu







