LOGINTubuh Wening sontak membeku. Kepalanya terasa digodam oleh besi besar, begitu juga dengan hatinya. Remuk, hancur tak bersisa. Sudut matanya bergetar, terasa panas karena mata air yang sudah mengajak di pelupuk matanya. Tangannya mengurai genggamannya dari lengan Marni. Ia refleks mundur selangkah. Lidahnya terasa kelu, semua kata-kata yang berputar di otaknya tercekat di tenggorokannya. Kaki Wening terasa lemas, seolah tak mrmiliki tulang untuk sekedar mrnopang tubuhnya. Ia limbung. Jika Mbok Suti tidak segera menangkap tubuhnya, mungkin Wening sudah terjatuh ke tanah. "Ndoro Ayu," desis Mbok Suti seraya menahan air matanya. "A-apa kamu bilang tadi?" Kanjeng Ibu mendekat, lalu mengulang pertanyaan itu pada Marni. Marni tertunduk, ia tidak berani mendongak barang sedetikpun. Tangannya meremas ujung kain kemben yang menutupi dadanya. "Jayendra! Kamu mau menikahi pelayan rendahan ini?" tanya Kanjeng Ibu pada putranya. "Kangmas! Kangmas serius?" Kanti mendekat pada Jayendra dan m
"Ternyata Nyi Kanti yang akan menjadi istri kedua Juragan," bisik seorang abdi yang baru mengantar teh hangat ke pendopo. "Nya Kanti sendiri yang mengatakan pada Ndoro Ayu," imbuhnya lagi. "Hus! Kamu jangan ngawur!" tegur Mbok Suti pada pelayan itu. Keluar untuk mengantar minuman tapi kembali membawa berita yang cukup menggemparkan seisi dapur. Berita itu cukup membuat para abdi terkejut dan saling berbisik. "Saya dengar sendiri, Mbok. Ndoro Ayu langsung pergi setelah mendengar hal itu." Mendengar pengakuan itu, hati Mbok Suti menjadi gelisah. Kekhawatiran itu menyusup ke dalam hatinya dan semakin membuatnya tidak tenang. Ia meletakan lap yang ada di tangannya, berniat untuk datang ke kamar Wening ingin melihat keadaan Ndoro Ayunya. "Ndoro Juragan sudah nyusul." Langkah Mbok Siti seketika berhenti. Ia urung untuk datang ke kamar. Marni, berada di luar dapur. Langkahnya mendadak terhenti saat mendengar jika Juragan akan memperistri Kanti, dan bukan dirinya. Tangannya mengepal e
Jayendra tersentak kaget. Matanya membola, napasnya tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Ia bahkan tidak pernah membayangkan kalau Wening mengetahui hubungan terlarangnya dengan Kanti. Sudut matanya bergetar, ia mencoba meraih tangan Wening. "Wening..." "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" teriak Wening seraya menahan langkah Jayendra ketika pria itu mendekat selangkah. "Bagaiaman bisa Kangmas tega, saat aku sedang kesakitan, Kangmas bersenang-senang dengan Kanti. Kangmas benar-benar jahat!" Jayendra tidak melakukan pembelaan, ia hanya berdiri terpaku seraya menatap istrinya yang hatinya terluka. Jayendra mendekat, berusaha meraih tangan Wening untuk digenggamnya. Namun, bahkan belum sempat kulit mereka bersentuhan, Wening menepisnya. "Jangan sentuh aku!" "Wening! Jangan bersikap kurang ajar, kamu!" teriak Kanjeng Ibu di ambang pintu kamar. Kemudian ia memberanikan diri melangkah masuk, ke dalam ruang privasi menantunya. "Sudah aku katakan, semua ini demi keluarga. Demi ke
"Bawa barang-barangnya. Ditata yang rapi," titah Wening pada salah satu abdi ketika ia sudah sampai di kediaman. Baru satu langkah kakinya melangkah ke dalam kediaman. Ia mendengar suara bising dari dalam pendopo yang membuat satu alisnya terangkat. "Apa ada tamu?" tanya Wening kemudian. "Ada Ndoro Besar, Ndoro Ayu." "Kanjeng Ibu?" ulang Wening. Kemudian menoleh sesaat pada Banyu yang masih berada di luar. "Apa yang aku khawatirkan benar-benar akan terjadi?" Tiba-tiba dadanya bergemuruh. Merasakan firasat buruk dengan kedatangan ibu mertuanya. Tawa penuh canda mulai terdengar dari pendopo utama saat langkah kakinya semakin dalam. Dari kejauhan, Wening dapat melihat ibu mertuanya tertawa bersama dengan kedua anaknya, Sani dan Jayendra. "Mbakyu!" teriak Kanti pada Wening seraya menghampiri wanita itu. Wajahnya sumringah, meraih lengan Wening dan bergelanyut manja pada Wening. "Mbakyu darimana? Saya sudah menunggu kepulangan Mbakyu dari tadi." Wening menaikan satu alisnya, m
Jayendra terpaku, mundur satu langkah untuk memberi jarak. Rasa hangat yang tadi menyelimuti dadanya mendadak menguap, berganti desir dingin yang menjalar hingga ke ujung jari. "Marni, jangan ngawur," ujar Jayendra dengan suara tertahan. Ia mengusap wajahnya kasar, membuang pandangan ke sembarang arah, tak sanggup menatap sorot mata Marni yang begitu polos namun menuntut. "Marni, kamu tahu sendiri. Keadaan sedang tidak baik-baik saja. Kanjeng Ibu sejak kemarin—" "Apa Ndoro akan melamar Nyi Kanti seperti yang dikatakan Kanjeng Ndoro besar?" Marni menyela kalimat Jayendra. Kali ini ia lebih berani. "Bu-bukan seperti itu." "Lalu? Apa karena Marni hanya abdi rendahan? Ndoro Juragan malu punya istri seorang pelayan?" Jayendra menghela napas berat, merasakan dadanya makin sesak oleh tuduhan yang dilontarkan Marni. Ia memegang kedua bahu gadis itu, mencoba meredam emosi yang perlahan menyulut di antara mereka. "Bukan masalah pelayan atau abdi rendahan, Marni," tegas Jayendra dengan su
Kediaman Jayendra terlihat seperti biasa. Tak ada aktivitas khusus di dalamnya. Pagi-pagi, Jayendra akan sibuk dengan ayam dan juga burung perkututnya. Sedangkan Wening sibuk mengatur para abdi di dapur dan urusan lain. Keributan yang terjadi kemarin, terasa seperti ditelan oleh bumi dalam waktu semalam. Wajah Wening terlihat berseri, seolah kegelisahan kemarin sudah terhapus oleh langit malam. "Sepertinya ada yang aneh dari Ndoro Ayu," bisik seorang pelayan yang sedang menjemur pakaian pada Marni. Marni—gadis itu menanggapinya dengan enggan, seolah topik pembicaraannya tidak menarik baginya. "Memangnya apa yang aneh?" Lawan bicaranya mengikis jarak diantara mereka berdua. Kemudian berbisik pada Marni, "Kamu tidak lihat, wajah Ndoro Ayu hari ini terlihat segar. Tidak nampak seperti wanita yang sedang sedih. Apa Ndoro Ayu dan Juragan semalam..." "Tidak mungkin!" pekik Marni refleks. Dan karena teriakannya itu, ia mendapat sebuah tabokan di bahunya. "Kata siapa kamu?" tanyanya den






