แชร์

18. Kamar Pelayan

ผู้เขียน: Author_Lee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-17 20:14:20

Sepeninggal Banyu, Wening bangkit dan duduk di bibir ranjang. Tatapannya tertuju pada nampan yang berisi makanan yang diantar Banyu tadi.

Wening menarik napas kasar. Kemudian berjalan menuju meja rias. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, lalu merapikan rambutnya.

Pipinya penuh dengan jejak air mata yang sudah mengering. Namun wajahnya masih terlihat sembab dengan mata yang merah.

Ingatannya kembali saat pagi tadi. Setelah mereka selesai sarapan, Wening mengajak Jayendra untuk bicara
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   23 Tidak Bisa Punya Anak

    "Kangmas memang sengaja pilih yang berbadan bagus. Supaya bisa diandalkan," balas Sani seraya melirik punggung Banyu. Kanti mendekatkan wajahnya, kemudian berbisik, "Kalau pria seperti ini ada di rumah Nyai, pasti banyak Nyonya yang antre minta dipuaskan." Sani tertawa melengking mendengar gurauan Kanti. Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa Banyu yang duduk di depan bisa mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut gadis-gadis priyayi tersebut. Sementara itu, Wening berpura-pura tuli. Tidak disangka, putri kedua keluarga Broto ternyata mengetahui tempat hiburan para Nyonya, batin Wening. "Kalau di rumah Nyai ada pria macam ini, tentulah aku yang harus pertama mencobanya," ujar Sani. Kalimat itu mungkin terdengar seperti candaan biasa. Namun bagi Banyu, itu adalah sebuah penghinaan. Ia menggenggam erat tali pengendali kudanya. Cih! Ini yang disebut wanita terhormat? Banyu tampak tenang mengendalikan kuda, tetapi hatinya mendengus geram. Pembicaraan adik majikannya i

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   22. Wanita Gatal

    "Mbok, kapan nyimas Kanti pergi dari sini?" bisik Marni pada Mbok Suti yang sedang menyiangi kangkung di pawon. Wanita paruh baya itu menoleh pada Marni, lalu pandangannya beralih pada Banyu yang duduk tidak jauh dari tempatnya. "Kenapa kamu tanya seperti itu?" "Karena ku tidak menyukainya, Mbok," bisik Marni dengan wajah cemberut. Ia memutar bola matanya malas. "Loh, apa urusannya kamu yang tidak menyukai Nyimas Kanti? Kita ini cuma abdi, lagipula Nyimas Kanti itu kan tamu Ndoro Juragan, mau sampai kapan Nyimas kanti ada di rumah ini ya bukan urusan kita," jawab Mbok Suti. "Saya cuma kasihan sama Ndoro Ayu, MBok," jawab Marni beralasan. Marni menunjuk ke arah pendopo samping dengan dagunya. "Lihat, Ndoro Juragan ada di rumh tapi perhatiannya ke Nyai Kanti. Ndoro Ayu seperti tidak dianggap." Banyu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Marni. Di sana, menampakan Jayendra sedang bersenda gura

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   21. Cukup Sekali

    "Sstt!" Desisan halus lolos dari tenggorokan Wening ketika Banyu mendorong tubuhnya semakin dalam. Rasa sempit dan desakan yang teramat kuat membuat jemari Wening makin dalam meremas punggung Banyu, menyisakan bekas kemerahan di sana. "Pelan-pelan, Banyu." Banyu berhenti sejenak, membiarkan tubuh Wening beradaptasi dengan ukuran pusakanya yang merenggangkan kepasrahan wanita itu. Ia memagut bibir Wening lembut, mengalihkan rasa nyeri yang tersisa dengan ciuman-ciuman dalam yang memabukkan. Saat dirasakannya napas Wening mulai teratur dan ritme dadanya kembali berpadu, Banyu mulai bergerak. Pinggulnya terayun dalam tempo yang pelan namun bertenaga, mengirimkan gelombang kenikmatan baru yang asing sekaligus meremukkan seluruh pertahanan Wening. "Milik Ndoro Ayu sempit sekali, saya menyukainya," desis Banyu. "Milikmu yang terlalu besar, Banyu. Sangat terasa

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   20 Aku Siap

    "Bukanya kamu bilang kalau kamu tidak bisa menahannya? Aku juga merasakan hal yang sama, Banyu. Jadi... sepertinya kita tidak perlu malu-malu atau merasa tidak enak, bukan". Banyu tersenyum samar. Saking tipisnya, Wening bahkan tidak menyadari hal itu. "Akhirnya!" pekik Banyu dalam hati. "Tapi, di tempat ini sepertinya akan tidak nyaman, Ndoro Ayu. hanya ada tikar pandan. Saya takut, Ndoro Ayu..." Wening mengangkat tubuhnya, berpindah ke pangkuan Banyu tanpa melepaskan lengannya dari leher pria itu. "Jangankan tikar tipis, Banyu. Bahkan batu saja teras empuk jika gairah sudah membara," balas Wening dengan nada sensual penuh godaan. Banyu tersenyum. Di dalam hati, ia membenarkan ucapan Wening. Jika gairah mendominasi, maka akal sehatpun mendadak tidak ada. Sama seperti apa yang sedang di lakukan oleh Wening saat ini. "Cium aku, Banyu!" "Dengan senang hati, Ndoro," bisik Banyu seraya mendaratkan ciuman di bibir Wening sesuai permintaannya. Tangan Banyu melingkar di ping

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   19. Menagih Janji

    "Ndo-Ndoro Ayu membutuhkan sesuatu?" tanya Banyu tergagap dengan hati yang berdebar. Ia mencubit tangannya sendiri. Memastikan jika yang berdiri di depannya bukanlah mimpi. Wanita priyayi, seorang istri dari Juragan tempatnya mengabdi malam-malam datang ke biliknya yang hanya seorang pelayan. Wening sedikit tersentak saat Banyu membuka pintu dalam keadaan telanjang dada. Sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan, malam ini ia dapat melihatnya dibawah cahaya remang lampu teplok yang tersemat di dinding. Banyu yang baru menyadari penampilannya, segera meraih baju lurik yang tergantung tidak jauh dari tempatnya berdiri, lalu memakaiannya. "Kamu tidak menyuruhku masuk?" Banyu semakin tergagap. Buru-buru ia menggeser tubuhnya dan mempersilakan Wening untuk masuk ke dalam biliknya. "Mo-monggo Ndoro." Wening langsung duduk di dipan yang terbuat dari bambu dan beralaskan tikar pandan. Bilik yang berukuran kecil itu tampak rapi dengan perlengkapan sederhana. Wening menatap Ban

  • Aduh! Kangmas Tak Tahan   18. Kamar Pelayan

    Sepeninggal Banyu, Wening bangkit dan duduk di bibir ranjang. Tatapannya tertuju pada nampan yang berisi makanan yang diantar Banyu tadi. Wening menarik napas kasar. Kemudian berjalan menuju meja rias. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, lalu merapikan rambutnya. Pipinya penuh dengan jejak air mata yang sudah mengering. Namun wajahnya masih terlihat sembab dengan mata yang merah. Ingatannya kembali saat pagi tadi. Setelah mereka selesai sarapan, Wening mengajak Jayendra untuk bicara empat mata. Ia mempertanyakan kedatangan Kanti yang tanpa izin darinya. Dan membuat kericuhan di kediaman. Alih-alih meminta maaf karena ceroboh, Jayendra malah menganggap jika apa yang dilakukannya sudah benar. Suaminya juga meminta Wening untuk tidak mempermasalahkan kedatangan Kanti di kediaman. "Sebagai Nyonya rumah, seharusnya kamu bisa menyambut dengan baik tamu yang datang. Lagipula, Kanti ini masih kerabat dengan keluarga kita." Kalimat itu keluar dari mulut Jayendra. Yang semak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status