Dia tidak tahu berapa hari dirinya tinggal di rumah kecil itu. Seolah-olah hanya dengan tetap tinggal di sana, dia masih bisa bertemu Avida lagi.Dia membeli kembali pernak-pernik yang dulu dia buang. Kertas dinding yang sama, perabotan yang sama, sofa yang sama. Akan tetapi, sekeras apa pun dia berusaha membuat replika, semuanya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu.Setiap hari, dia hidup dalam kebingungan. Urusan perusahaan diserahkan sepenuhnya kepada asistennya. Avida bagaikan sinar matahari baginya, memberi nutrisi bagi Glenn yang berusia 16 tahun. Avida juga merupakan mimpi buruknya. Setiap kali Glenn yang berusia 26 tahun memejamkan mata, yang muncul adalah wajah Avida saat dia pergi.Ketika dia terbangun lagi dari mimpinya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.Glenn mengangkat kepalanya. Dikelilingi dekorasi yang lekat dalam pikirannya ini, dia mengira dirinya telah kembali ke masa lalu. Waktu ini tepat jam Avida biasa pulang."Tunggu sebentar," jawabnya dengan linglung, l
อ่านเพิ่มเติม