“Nanti malam akan ada makan malam keluargaku dengan keluargamu. Aku harap kamu bisa bersikap sehangat ini nanti.” Bersamaan dengan selesainya Gyana mengatakan hal itu, mobil lain berhenti tepat di belakang mobil milik Sean. Tak lama, seorang pria paruh baya muncul dan langsung membukakan pintu di barisan kedua mobil. “Silakan, Nyonya.” Gyana mengangguk kecil. Kemudian dengan tatapan sekilasnya pada Sean, Gyana pun melangkah menuju mobilnya. Tanpa sepatah kata dan raut wajahnya yang ramah. Hati Gyana sudah sangat beku menghadapi Sean. Pria yang pernah menempati posisi istimewa di hatinya itu kini ia anggap tidak lebih dari seorang asing yang hidup satu atap dengannya. Gyana masih terlau sakit saat membayangkan foto Tania yang terpajang di ruang pribadi pria itu. Belum lagi fakta bahwa selama ini Sean terlihat seperti suami idaman hanya demi warisan dari sang nenek. Jika Sean hanya menganggapnya sebagai alat, maka Gyana juga akan melakukan itu. Sean adalah tiketnya untuk keluar
Last Updated : 2026-10-18 Read more