LOGIN“Aku senang kamu mau memakai gaun yang sudah ku siapkan. Oh iya, sebentar. Aku melupakan sesuatu.” Malam ini Sean tampak bahagia karena gaun yang ia pilihkan ternyata pas di tubuh Gyana. Sean lebih senang lagi karena kali ini Gyana bersedia mengenakannya tanpa adanya penolakan. Penampilan Gyana malam ini pun tidak terlalu mencolok tetapi tetap menunjukkan pesonanya. Gaun burgundy tanpa lengan tersebut memberi kesan kulit Gyana semakin cerah. Rambutnya sengaja diikat setengah, lalu membiarkan setengahnya menjuntai menutupi punggung. Penata rias yang ditunjuk Sean juga merias wajah Gyana dengan look simpel tapi tetap elegan. Gyana yang memang tidak terlalu semangat itu hanya diam menunggu Sean keluar kamar. Pikirannya justru tertuju pada pria pemilik punggung yang ada di profil Nyonya Saras. Terlihat sama dengan Nael. Namun, bukankah terasa aneh jika itu memang Nael? Tidak pernah ada yang mengungkit nama Nael dan Claudia saat Gyana berada di kediaman utama Airlangga. Di foto yang t
"Tegap amat itu punggung!” celetuk Valerie yang entah sejak kapan berada di belakang Gyana. “Kamu udah punya cadangan, ya?” Suara cempreng Valerie spontan membuat Gyana terperanjat kaget. Saking fokusnya ia memperhatikan foto pria di samping Nyonya Saras, Gyana sampai tidak menyadari bahwa Valerie sudah selesai mandi. Senyum jahil Valerie lantas muncul dan langsung ditanggapi dengan rotasi bola mata Gyana. “Jadi udah beneran lupain Sean dan lagi dekat sama itu cowok?” tanya Valerie yang langsung duduk di ujung sofa. Gyana menggeleng pelan. “Jangan asal tebak. Aku nggak lagi dekat sama siapapun. Gila aja berani main api di belakang Sean!” Meski rumah tangga yang ia jalani bersama Sean jauh dari kata harmonis, Gyana tidak punya pikiran untuk menjalin hubungan terlarang sama sekali. Status pernikahannya memang hanya ada di atas kertas, tetapi bukan berarti ia akan mencari hiburan dengan pria lain di luar sana. Otak Gyana masih cukup waras untuk tidak melakukan itu. Ia tidak peduli
“Nanti malam akan ada makan malam keluargaku dengan keluargamu. Aku harap kamu bisa bersikap sehangat ini nanti.” Bersamaan dengan selesainya Gyana mengatakan hal itu, mobil lain berhenti tepat di belakang mobil milik Sean. Tak lama, seorang pria paruh baya muncul dan langsung membukakan pintu di barisan kedua mobil. “Silakan, Nyonya.” Gyana mengangguk kecil. Kemudian dengan tatapan sekilasnya pada Sean, Gyana pun melangkah menuju mobilnya. Tanpa sepatah kata dan raut wajahnya yang ramah. Hati Gyana sudah sangat beku menghadapi Sean. Pria yang pernah menempati posisi istimewa di hatinya itu kini ia anggap tidak lebih dari seorang asing yang hidup satu atap dengannya. Gyana masih terlau sakit saat membayangkan foto Tania yang terpajang di ruang pribadi pria itu. Belum lagi fakta bahwa selama ini Sean terlihat seperti suami idaman hanya demi warisan dari sang nenek. Jika Sean hanya menganggapnya sebagai alat, maka Gyana juga akan melakukan itu. Sean adalah tiketnya untuk keluar
“Itu yang di tivi. Bodoh banget suaminya!” Gyana mengunyah cemilan dengan cepat. Sedikit pun ia tetap bertahan untuk tidak menoleh pada Sean yang baru muncul. Sean merespon kekesalan Gyana dengan senyum yang sangat tipis. Sedikit pun tidak ada prasangka dalam hatinya bahwa Gyana baru saja menyindir dirinya sendiri. “Memangnya kenapa suaminya?” Sean duduk di samping Gyana. Gyana kembali memasukkan cemilan ke mulut seraya melirik malas Sean dari ekor matanya. “Masa iya dia nggak tahu makanan favorit istrinya sendiri. Bukannya nanya sama istrinya, eh malah nanya sama selingkuhannya. Kan bodoh namanya!” sungut Gyana dengan fokus menatap layar televisi. Kening Sean berkedut samar. Kemudian menatap layar televisi bergantian dengan sosok yang duduk di sampingnya. Perkataan Gyana sempat mengusik hatinya. Bukankah itu seperti mencibir dirinya sendiri? Sementara di layar televisi tersebut malah menampilkan drama keluarga yang sama sekali tidak sama dengan penuturan Gyana. Sean hendak mem
"Lain kali nggak perlu repot belikan aku hadiah. Lagian bulan ini aku nggak ada perayaan apa-apa.” Gyana berlalu begitu saja setelah mengatakan hal itu. Wanita dengan setelan piyama satin berlengan panjang itu bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Sean. Ia sudah terlalu malas sekedar basa basi dengan pria yang masih terpaksa ia pertahankan sebagai suami itu. Sean baru saja kembali dari kantor. Kali ini ia benar-benar menghabiskan banyak waktunya di perusahaan. Permasalahan di perusahaan membuatnya tertahan lebih lama di sana. Dan, bayangan Gyana akan menyambutnya dengan senyum manis seperti dulu pun langsung lenyap. Alih-alih senyuman, Sean justru Gyana suguhkan dengan wajah datar dengan sorot dinginnya. “Hadiah itu tanpa maksud apa-apa, Gya.” “Gaunnya lebih baik kamu berikan ke Tania saja. Potongan gaun itu lebih disukai Tania. Ukurannya juga bukan ukuranku.” Tidak ada nada tersinggung apalagi kecewa yang keluar dari mulut Gyana. Wanita itu justru terkesan tidak peduli dengan
“Anak itu… !” Raut Xavier langsung berubah. Kemarahannya sudah menuju kepala dan tinggal menghitung waktu untuk meledak. Sorot matanya sekejap berubah tajam. “Apa yang dilakukannya kali ini?” Tania menahan senyum di wajahnya agar tidak langsung terbit. Muslihatnya berhasil. Dan hanya demi melihat Gyana semakin dibenci oleh kakaknya sangat bisa memuaskan hati Tania. “Gya memprovokasi Kak Sean untuk mengabaikanku. Dan tadi, Kak Sean bahkan membatalkan janji untuk makan bersama Ayah hanya demi Gya.” Tania meraih tangan Xavier lalu menggenggamnya. “Bagaimana kalau Kak Sean sampai membenci dan tidak mau bertemu aku lagi, Kak? Aku sudah merelakan Kak Sean menikah dengan Gya tapi aku tidak akan kuat jika Kak Sean benar-benar menjauhiku.” Emosi yang berkumpul di kepala Xavier membuat pria itu tidak bisa berpikir tenang dan logis. Rasa sayang kepada Tania membuat hatinya buta. Xavier mengusap lembut puncak kepala Tania. Kemudian mengulas senyum hangat penuh kelembutan. “Jangan cemas,







