Keesokan harinya, Aula Utama Istana Timur memancarkan aura keangkuhan yang amat menekan. Di ujung aula, di atas takhta kayu cendana berukir naga emas yang megah, Putra Mahkota Zhao Chengyan duduk tegap. Di sisi kirinya, duduk sang adik, Putri Zhao Wen. Liang Jiu mengajak serta Qinglan untuk memenuhi panggilan sang calon pewaris tahta. Begitu tiba di titik pusat aula, keduanya membungkuk dalam-dalam untuk menyampaikan hormat resmi kekaisaran. "Hamba Liang Jiu dan Wu Yuehua menghadap Yang Mulia Putra Mahkota," tutur Liang Jiu dengan nada suara tegap. Zhao Chengyan tidak langsung menjawab. Ia mengambil cawan keramik murni di mejanya, menyesap teh hijau yang asapnya masih mengepul perlahan, lalu mengangkat pandangannya secara bertahap. Untuk pertama kalinya, manik mata sang Putra Mahkota berpapasan langsung dengan sosok wanita yang berdiri di hadapannya: Wu Yuehua. Seketika itu juga, dada Zhao Chengyan berdesir halus. Jemarinya yang menempel pada cawan keramik sempat tertahan
Last Updated : 2026-10-26 Read more