Share

Bab 90

Author: La Mian
last update publish date: 2026-10-31 23:32:18

Keheningan di Paviliun Taman terasa amat pekat setelah kepergian Putra Mahkota. Suara riak air dari kolam teratai dan embusan angin pagi menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.

Para kasim dan pelayan berdiri gemetar di sudut-sudut selasar, tak berani mengangkat kepala.

​Zhao Wen merosot di bangku pualam, menyapu air mata yang menggenangi pipinya seraya menatap gulungan lukisan kuda hitam di atas meja batu.

​"Yuehua ..., " bisik Zhao Wen dengan suara bergetar pelan. "Kau ... kau benar-benar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 92

    Keesokan paginya, pendar hangat matahari yang menerobos celah tirai sutra emas membakar lembut kelopak mata Qinglan. Kepalanya berdenyut hebat, menyisakan rasa pening yang menusuk tajam di balik pelipis.​Saat berniat memutar tubuhnya, Qinglan mendadak membeku kaku. Sebuah lengan tegap melingkar amat erat di pinggangnya.​Qinglan menoleh secara perlahan dengan napas tertahan. Matanya seketika membelalak kaku. Ia terbaring di atas ranjang megah, tepat di dalam pelukan hangat Putra Mahkota Zhao Chengyan yang masih tertidur dengan deru napas teratur.​"Astaga ..., " bisik Qinglan parau.​Qinglan terdiam sejenak, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Dengan jemari gemetar, ia mencoba menggeser lengan berat yang melingkar di pinggangnya. Namun bukannya melonggar, cengkeraman itu justru makin mengetat.​"Laki-laki ini ... bahkan dalam tidurnya pun sangat menyebalkan!" bisik Qinglan bersusah payah.​Dengan cepat ia memeriksa keadaannya. Pakaian yang dikenakannya masih utuh dan

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 91

    Malam kian melarut tatkala Qinglan melangkah perlahan menerobos temaram selasar. Seperti yang dikatakan Zhao Wen, langkah kakinya membawanya menuju taman di depan paviliun kediaman Putra Mahkota.​Di sana, di bawah naungan pohon meihua yang bermekaran gundah, sosok Zhao Chengyan duduk menyendiri di atas bangku batu. Pendar redup dari lentera yang tergantung di dahan menerangi raut wajahnya yang kaku. Sebuah guci dan cangkir porselen berisi arak berada dalam genggamannya. Pria itu terus menenggak cairan keras tersebut dalam kesenyapan.​Qinglan sempat ragu sejenak, menahan napas di balik pilar pualam. Namun keteguhan jiwa mendorong kakinya untuk tetap melangkah mendekati sang Putra Mahkota.​Menyadari kehadiran seseorang, Zhao Chengyan menoleh samar. Manik matanya yang meredup oleh pengaruh alkohol menatap Qinglan. Pria itu tidak mengusirnya, tetapi juga enggan menyambutnya.​"Kau lagi ... perempuan iblis," maki Zhao Chengyan dengan suara parau, menumpahkan cercaannya seraya kembali m

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 90

    Keheningan di Paviliun Taman terasa amat pekat setelah kepergian Putra Mahkota. Suara riak air dari kolam teratai dan embusan angin pagi menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Para kasim dan pelayan berdiri gemetar di sudut-sudut selasar, tak berani mengangkat kepala.​Zhao Wen merosot di bangku pualam, menyapu air mata yang menggenangi pipinya seraya menatap gulungan lukisan kuda hitam di atas meja batu.​"Yuehua ..., " bisik Zhao Wen dengan suara bergetar pelan. "Kau ... kau benar-benar nekad. Belum pernah ada seorang pun di kekaisaran ini yang berani memegang tangan Kakak Yan, apalagi menentang amarahnya setajam itu."​Qinglan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk meredakan denyut nyeri yang menjalar di lengan kirinya akibat gerakan mendadak tadi. Ketika ia membuka matanya kembali, binar di manik matanya tetap dingin dan tak tergoyahkan.​"Hamba tidak berniat merendahkan keagungan Yang Mulia Putra Mahkota," tutur Qinglan halus seraya merapikan ujung jubah lukisn

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 89

    Pagi harinya, cahaya hangat matahari menyinari Paviliun Taman yang berdiri anggun di tengah kolam teratai. Qinglan melangkah dengan penuh keanggunan menyusuri selasar kayu yang mengular di tepi air. Di tangannya, ia membawa sebuah gulungan kanvas yang terbungkus rapi oleh kain sutra hitam. ​Di dalam paviliun, Zhao Wen sudah menunggu di samping meja pualam putih. Melihat kedatangan gurunya, wajah sang Putri seketika berbinar ceria, mengikis ketegangan yang sempat melintas di dahinya. ​"Selamat pagi, Yuehua! Apa yang kau bawa di dalam gulungan kain itu?" tanya Zhao Wen dengan nada suara penasaran yang tak bisa disembunyikan. ​Qinglan meletakkan gulungan itu di atas meja batu dengan sangat hati-hati, memastikan setiap sudutnya mendarat sempurna tanpa cela, lalu membukanya secara perlahan. "Hamba membawa sesuatu dari gudang tua semalam, Yang Mulia." ​Gumpalan kain pelindung tersingkap anggun, membentangkan sebuah lukisan kuda hitam jantan yang tampak begitu gagah menerobos hempasan

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 88

    Qinglan duduk bersandar di kursi kayu Paviliun Willow, memandangi kanvas kuda hitam yang terbentang di atas meja kerja. Lampu minyak di sisinya membiaskan cahaya temaram, menyinari robekan tajam yang membelah tubuh kuda jantan tersebut.​Jemarinya secara perlahan mulai mengoleskan perekat pati transparan pada serat-serat kain beras yang terpisah. Dengan ketelitian luar biasa, ia mengaitkan benang sutra halus demi menyatukan kembali kain yang terkoyak tanpa meninggalkan kerutan sedikit pun. Setiap gerakan tangannya terukur, seolah ia tengah merawat luka fisik seorang manusia daripada sekadar selembar kain tua.​"Huahua, istirahatlah sebentar," bisik Xiaotao cemas seraya menaruh cangkir teh hangat di meja. Suara Xiaotao terdengar sarat kekhawatiran di tengah sunyinya malam. "Ini sudah melewati tengah malam."​"Sedikit lagi, Xiaotao," sahut Qinglan lembut tanpa mengalihkan matanya dari kanvas. Tangannya tetap stabil menuntun jarum dan perekat. "Serat dasar ini harus terkunci rapat mal

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 87

    Malam makin larut tatkala Qinglan melangkah perlahan mengitari selasar luar Paviliun Willow. Udara dingin menyusup lewat selendang hanfu-nya, namun pikirannya yang kalut tak membiarkannya beristirahat. Perdebatan sengit dengan Putra Mahkota tadi pagi masih menyisakan gema panas di dalam dadanya. ​Saat melintasi sudut selasar yang agak terpencil dan temaram, langkahnya terhenti. Sebuah bangunan kayu tua beratap rendah berdiri tersembunyi di balik deretan pohon bambu. Pintunya sedikit renggang, membias pendar redup sinar bulan dari luar. ​Qinglan mendorong pintu kayu itu pelan. ​Bau lekat tinta tua, debu, dan kain lembap seketika menyergap indra penciumannya. Di dalam ruangan sempit itu, berserakan belasan kanvas gulungan dan bingkai kayu yang berdebu. Qinglan mendekat, lalu berlutut memiringkan lentera di tangannya untuk memperjelas pandangan. ​Matanya membelalak kaku. Lukisan-lukisan di dalam gudang ini tidak sekadar memudar atau rusak dimakan usia—lukisan-lukisan ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status