"Rania, Sayang, ayo tambah lagi lauknya. Kamu kelihatannya pucat dan kurusan belakangan ini, Nak. Jangan sampai telat makan, ya," ucap Ningsih dengan suara lembut yang penuh kasih sayang.Tangannya yang dipenuhi perhiasan emas dengan cekatan memindahkan sepotong daging rendang berukuran besar ke atas piring menantunya.Ya, malam ini mereka datang berkunjung ke rumah Bima karena merindukan menantunya itu. Sekaligus, ingin tahu kabar Rania setelah semalaman ditinggal Bima sendirian di puncak."Iya, Ma. Terima kasih," jawab Rania tersenyum tipis, merasa sedikit terhibur oleh perhatian tulus mertuanya, sebuah kebalikan drastis dari perlakuan dingin sang suami selama ini.Di seberang meja makan yang panjang itu, Dimas mengangguk setuju. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu menatap Rania dengan sorot kebapakan yang hangat."Benar kata ibumu, Nak Rania. Kamu ini menantu kesayangan Papa, harus banyak gizi. Apalagi kalian sedang bersiap memberi Papa cucu yang sehat," ucap Dimas.Namun
Last Updated : 2026-09-24 Read more