Kakek Bram mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar seluruh anggota keluarga keluar dari ruang perawatan VIP, kecuali Elang dan Rania.Bima yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Kakek, Bima mau tunggu di dalam saja menemani Kakek—""Keluar, Bima," potong Kakek Bram dingin tanpa sudi menoleh. "Setiap kali melihat mukamu, dadaku malah makin sesak."Dengan wajah merah padam menahan malu, Bima terpaksa melangkah keluar diiringi tatapan prihatin dari kerabat Adhitama lainnya. Pintu kamar VIP tertutup rapat.Kakek Bram menatap Elang yang berdiri tegap di ujung ranjang. "Anak muda, tadi siapa namamu?""Elang, Tuan Besar," sahut Elang sopan namun dengan intonasi mantap."Mulai hari ini, tugasmu bukan cuma menyetir untuk Rania," ujar Kakek Bram, suaranya terdengar berwibawa meski lemah. "Kamu jadi bodyguard pribadi cucu menatuku ini. Dampingi Rania ke mana pun dia pergi. Kalau Bima bertindak ceroboh atau kasar, kamu punya wewenang penuh dari saya untuk m
Last Updated : 2026-10-06 Read more