Se connecterBima menata ulang rambutnya yang berantakan di depan cermin, memoles senyum selebar mungkin, lalu menarik napas panjang. Di tangannya, terprakos sekeranjang buah-buahan impor segar dan satu setel makanan sup sarang burung walet yang dibelinya dengan harga fantastis dari restoran ternama.Ini adalah misi penjelamatan harga dirinya. Bima harus membujuk Kakek Bram agar membatalkan keputusan konyol menjadikan Elang sebagai bodyguard pribadi Rania.Klek.Bima mendorong pintu ruang VIP dengan hati-hati. Di dalam ruangan, Kakek Bram sedang bersandar di ranjang perawatan. Di sisi ranjang, berdiri orang tua Bima yang tampak berbincang pelan dengan sang patriarch."Kakek, Bima bawakan sup favorit Kakek sama buah-buahan segar," panggil Bima dengan suara manis yang dibuat-buat, melangkah anggun mendekati ranjang.Kakek Bram melirik sekeranjang buah itu dengan sebelah mata, lalu mendengkus keras. "Ngapain kamu balik lagi ke sini? Mau bikin tensi darahku naik lagi?""Aduh, Kakek, Bima cemas sama
Bima berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan napas memburu dan raut wajah kelam. Hatinya panas bukan main. Keputusan sepihak sang kakek benar-benar membuatnya murka. Bagaimana bisa kakeknya secara mendadak memerintahkan Elang, untuk berputar arah menjadi bodyguard pribadi Rania?"Tua bangka! Selalu saja mengambil keputusan seenak jidatnya!" umpat Bima pelan.Langkah kakinya mendadak terhenti di dekat taman dalam rumah sakit. Rasa frustrasi yang membumbung tinggi membuat dadanya serasa mau meledak. Tanpa pikir panjang, mata Bima tertuju pada sebuah tempat sampah kaleng di sudut koridor.Brak! Satu tendangan keras melayang, membuat tempat sampah itu terpental dua meter dan mengeluarkan suara nyaring yang menggema di koridor yang lengang."Sialan!!" desis Bima pada dirinya sendiri, mengusap wajahnya yang memerah."Ck, Ck, Ck... Om, kalau kurang pekerjaan atau stres butuh pelampiasan, mending daftar jadi atlet sepak bola sana. Kasihan tempat sampah itu, salah apa dia sampai diten
Lampu kabin yang remang membingkai keheningan di antara mereka berdua setelah Rania sempat menyandarkan kepalanya di bahu tegap Elang.Elang menarik napas panjang, mencoba menetralkan degupan dadanya. Pandangannya lurus menatap jalanan yang sepi sebelum akhirnya ia memberanikan diri melirik Rania dari samping."Bu Rania," panggil Elang pelan, suaranya serak dan dalam.Rania mendongak, menatap mata Elang dengan pendar hangat yang belum padam. "Iya, Elang?""Saya mau tanya sesuatu." Elang ragu sejenak, membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan padaku.""Apakah sudah ada tanda-tanda?"Rania mengernyitkan dahinya bingung. Tatapannya dipenuhi rasa heran. "Tanda-tanda? Tanda-tanda apa maksudmu, Elang?""Maksud saya..." Elang menatap langsung ke dalam manik mata Rania, suaranya makin merendah hingga menyerupai bisikan. "Tanda-tanda kalau Bu Rania hamil."Deg!Pertanyaan itu menghantam dada Rania seperti sengatan listrik. Rania seketika bungkam, li
Kakek Bram mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar seluruh anggota keluarga keluar dari ruang perawatan VIP, kecuali Elang dan Rania.Bima yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Kakek, Bima mau tunggu di dalam saja menemani Kakek—""Keluar, Bima," potong Kakek Bram dingin tanpa sudi menoleh. "Setiap kali melihat mukamu, dadaku malah makin sesak."Dengan wajah merah padam menahan malu, Bima terpaksa melangkah keluar diiringi tatapan prihatin dari kerabat Adhitama lainnya. Pintu kamar VIP tertutup rapat.Kakek Bram menatap Elang yang berdiri tegap di ujung ranjang. "Anak muda, tadi siapa namamu?""Elang, Tuan Besar," sahut Elang sopan namun dengan intonasi mantap."Mulai hari ini, tugasmu bukan cuma menyetir untuk Rania," ujar Kakek Bram, suaranya terdengar berwibawa meski lemah. "Kamu jadi bodyguard pribadi cucu menatuku ini. Dampingi Rania ke mana pun dia pergi. Kalau Bima bertindak ceroboh atau kasar, kamu punya wewenang penuh dari saya untuk m
Suara teriakan dan buku-buku berjatuhan ke lantai mendadak bergema dari arah ruang perpustakaan pribadi di lantai dua kediaman Adhitama."Kakek! Kakek kenapa, Kakek?! Tolong! Jangan begini, Kakek!"Bima berlari keluar dari pintu perpustakaan dengan wajah pias tanpa darah, napasnya memburu panik. Tangannya gemetar hebat, tak tahu harus berbuat apa melihat Kakek Bram terkulai lemas di atas kursi kulit dengan tangan mencengkeram dadanya rapat-rapat.Rania yang sedang berada di lorong langsung berlari mendekat. "Ada apa, Mas?! Kakek kenapa?!""Kakek... tiba-tiba memegangi dadanya terus pingsan!" gagap Bima panik setengah mati. "A-aku... aku bingung harus panggil siapa! Ambulans! Iya, ambulans!"Di tengah kepanikan Bima yang berputar-putar tak tentu arah seperti ayam kehilangan induk, sebuah langkah kaki tegap bergerak cepat menyibak kerumunan pelayan. Elang muncul dengan raut wajah sangat tenang. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk banyak bicara, Elang langsung menerobos masuk ke
Elang mematung di depan pintu. Jemari tangannya terangkat pelan, menyentuh permukaan bibirnya yang masih menyisakan rasa hangat dan manis dari kecupan mendadak Rania.Jantung di dalam dadanya berdegup liar bak ditabuh ribuan drum."Dia benar-benar mencium ku?!" batin Elang tak percaya."Tolong! Elang! Rania! Kecoa nya terbang ke arah muka ku aaghh!"Jeritan histeris dari balik pintu kayu tebal itu seketika memecahkan lamunan Elang. Pria itu menghela napas panjang, menetralkan raut wajahnya secepat mungkin sebelum berdehem pelan.Dengan santai seolah tak ada kejadian berdesir beberapa detik lalu, Elang menendang engsel pintu yang macet itu dengan sekali dorongan terukur.Dari dalam kegelapan, Bima melangkah keluar seperti orang kesetanan. Baju kemeja mewahnya sudah robek di bagian bahu, rambut klimis nya penuh jelaga dan jaring laba-laba, sementara wajahnya pias tak berdarah."Kamu dari mana saja, Elang?!" maki Bima dengan napas memburu, merapikan bajunya yang berantakan. "Hampir saj