LOGINSementara di lantai bawah, suasana berbanding terbalik seribu derajat. Bima berdiri sendirian di teras samping villa yang terlindung dari tempias rintik hujan malam. Gemericik air yang jatuh menimpa dedaunan talas berpadu dengan hembusan angin gunung yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Bima menyesap rokok di sela jarinya dalam-dalam. Bara merah itu menyala terang sejenak sebelum ia menghembuskan gumpalan asap putih pekat ke udara dingin yang hampa.Dari posisi tempatnya berpijak, samar-samar telinganya menangkap suara decitan ranjang kayu yang berirama konstan. Bunyi itu disusul gesekan kain dan desahan lirih yang lolos dari celah jendela kamar lantai dua yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit. Itu adalah suara Rania. Istrinya. Wanita yang dinikahinya dalam pesta megah berbalut kemewahan semu tiga tahun lalu, kini tengah merintih nikmat di bawah kungkungan tubuh pria lain. Anehnya, dada Bima tidak berdenyut nyeri. Tak ada rasa cemburu, tak ada amarah yang membakar, apalagi harg
Elang melangkah masuk ke dalam kamar utama yang sengaja tidak dikunci. Pria berpostur tegap dan kekar itu tampak menelan ludah dengan susah payah. Jujur saja, jantungnya berdebar dua kali lebih kencang dari semalam.Rania sendiri sudah bersiap di atas tempat tidur. Wanita itu duduk bersandar pada headboard, memeluk selimut tebal kuat-kuat sampai sebatas leher, persis seperti kepompong. Rasanya amat sangat canggung. Berlipat-lipat lebih canggung dibanding semalam.Bagaimana tidak? Malam ini, Rania tidak berada dalam pengaruh obat perangsang atau teh penenang apa pun yang sengaja dicekokkan Bima. Kesadarannya penuh seratus persen. Ia tahu persis siapa pria yang baru saja masuk ke kamarnya, dan apa yang harus mereka lakukan."Elang, bisa tolong padamkan lampunya?" ucap Rania sama sekali tak berani menatap langsung wajah maskulin supir pribadinya itu.Elang yang baru saja mengunci pintu terhenti sejenak. Tangannya yang besar masih menempel di dekat dinding. Ia menoleh menatap majikannya
Angin malam berhembus cukup kencang menyapu area villa, namun Elang tak berniat beranjak dari balkon samping. Pria itu menyendiri sembari menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. Kepulan asap putih keluar dari bibirnya, membaur dengan udara dingin.Pikirannya melayang pada kejadian di ruang tamu beberapa saat lalu. Membayangkan bagaimana wajah Rania yang memerah, air mata yang membasahi pipi wanita itu, dan tatapan terluka yang begitu kentara. Ada sesuatu di sudut dadanya yang berdenyut, membuat Elang merasa sedikit sesak. "Masa iya hanya karena menghabiskan waktu semalam, aku mulai ada perasaan sama Bu Rania?" gumam Elang pelan pada dirinya sendiri.Sesaat kemudian, Elang menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah berusaha mengusir bayangan wajah rapuh Rania. Ia tahu batasan. Ia tak pantas memikirkan Rania, apalagi wanita itu adalah istri sah dari majikannya sendiri. "Ngaca, Lang! Ngaca! Kamu ini siapa? Cuma supir yang dibayar untuk menyelesaikan tugas kotor. Bisa-bisanya m
"Apa kamu bilang, Mas? Menginap semalam lagi? Apa kamu sudah gila?!" pekik Rania tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya yang selama ini sangat ia cintai melebihi apa pun."Kenapa? Kamu keberatan, Sayang?" Bima melangkah mendekat, mengabaikan raut terluka di wajah istrinya. Ia membungkuk, lalu berbisik tepat di telinga Rania, "Ayolah, hanya semalam lagi. Supaya kamu cepat hamil dan tidak perlu repot-repot lagi menghabiskan malam dengan Elang."Plak!Suara tamparan keras memecah keheningan ruang tamu villa.Entah keberanian dari mana, mendengar ucapan bernada merendahkan dari suaminya, Rania refleks melayangkan telapak tangannya tepat ke pipi kanan Bima."Rania! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Bima murka, memegangi pipinya yang mendadak panas.Ini pertama kalinya sejak tiga tahun pernikahan mereka, Rania berani mengangkat tangan padanya.Rania tersenyum kecut sembari menatap telapak tangannya sendiri yang terasa kebas dan gemetar. Harusnya, ia melakukan tamparan ini sejak awal,
"Aku harus pergi sekarang sebelum orang tuaku kembali meneror dan memintaku menjemput Rania," ucap Bima terburu-buru. Pria itu berdiri di depan cermin besar di kamar sebuah apartemen mewah, sibuk merapikan kerah kemeja.Di atas ranjang berukuran king size, kekasih Bima bangkit dengan wajah ditekuk cemberut. Sosok berbalut jubah mahal yang membalut tubuh proporsionalnya itu melangkah mendekat dengan langkah gontai."Kamu yakin nggak mau menginap di sini malam ini, Bim?" tanyanya dengan nada manja. Sepasang lengan yang wangi oleh parfum bertaraf internasional itu memeluk pinggang Bima rapat-rapat dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung tegap sang pujaan hati."Lain kali, Sayang. Aku janji bakal lebih banyak menghabiskan waktu denganmu setelah urusan di Puncak beres," bujuk Bima memutar tubuhnya perlahan, membelai telapak tangan kekasihnya yang melingkar manja di dadanya."Aku lelah sembunyi-sembunyi dari semua orang, Bima. Aku ini icon. Aku terbiasa jadi pusat perhatian. Tap
"Ngapain kamu masih di sini? Bukannya kamu mau menyusul istrimu, Bim?" tanya Dimas, menatap tajam ke arah putranya yang masih asyik duduk bersandar di kursi makan. "Santai, Pa. Bima sarapan dulu buat isi energi," sahut Bima. Melihat kelakuan putranya yang kelewat santai, wajah Dimas perlahan memerah menahan emosi. Urat-urat di leher pria paruh baya itu mulai menonjol. "Santai-santai gundulmu!" sembur Dimas seraya menggebrak meja makan. "Istrimu itu pasti sudah menunggu kamu, Bima! Kamu ini mbok ya becus sedikit jadi suami. Gimana mau cepat punya anak kalau tingkahmu begini terus? Istri ditinggal sendirian, suami malah leyeh-leyeh di rumah!" Rasanya, nafsu makan Dimas pagi ini hilang tak bersisa melihat betapa menyebalkannya putra semata wayangnya ini. Dimas selalu mendambakan kehadiran seorang cucu untuk meneruskan bisnis keluarga, tapi melihat kelakuan Bima yang tidak ada tanggung jawabnya sama sekali, harapan itu terasa makin jauh. Alih-alih merasa bersalah atau seti






