Share

Bab. 38 Di Mobil

last update publish date: 2026-10-07 20:51:03

Lampu kabin yang remang membingkai keheningan di antara mereka berdua setelah Rania sempat menyandarkan kepalanya di bahu tegap Elang.

Elang menarik napas panjang, mencoba menetralkan degupan dadanya. Pandangannya lurus menatap jalanan yang sepi sebelum akhirnya ia memberanikan diri melirik Rania dari samping.

"Bu Rania," panggil Elang pelan, suaranya serak dan dalam.

Rania mendongak, menatap mata Elang dengan pendar hangat yang belum padam.

"Iya, Elang?"

"Saya mau tanya sesuatu." Elang ragu s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 38 Di Mobil

    Lampu kabin yang remang membingkai keheningan di antara mereka berdua setelah Rania sempat menyandarkan kepalanya di bahu tegap Elang.Elang menarik napas panjang, mencoba menetralkan degupan dadanya. Pandangannya lurus menatap jalanan yang sepi sebelum akhirnya ia memberanikan diri melirik Rania dari samping."Bu Rania," panggil Elang pelan, suaranya serak dan dalam.Rania mendongak, menatap mata Elang dengan pendar hangat yang belum padam. "Iya, Elang?""Saya mau tanya sesuatu." Elang ragu sejenak, membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan padaku.""Apakah sudah ada tanda-tanda?"Rania mengernyitkan dahinya bingung. Tatapannya dipenuhi rasa heran. "Tanda-tanda? Tanda-tanda apa maksudmu, Elang?""Maksud saya..." Elang menatap langsung ke dalam manik mata Rania, suaranya makin merendah hingga menyerupai bisikan. "Tanda-tanda kalau Bu Rania hamil."Deg!Pertanyaan itu menghantam dada Rania seperti sengatan listrik. Rania seketika bungkam, li

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 37 Bodyguard Pribadi

    Kakek Bram mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar seluruh anggota keluarga keluar dari ruang perawatan VIP, kecuali Elang dan Rania.Bima yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Kakek, Bima mau tunggu di dalam saja menemani Kakek—""Keluar, Bima," potong Kakek Bram dingin tanpa sudi menoleh. "Setiap kali melihat mukamu, dadaku malah makin sesak."Dengan wajah merah padam menahan malu, Bima terpaksa melangkah keluar diiringi tatapan prihatin dari kerabat Adhitama lainnya. Pintu kamar VIP tertutup rapat.Kakek Bram menatap Elang yang berdiri tegap di ujung ranjang. "Anak muda, tadi siapa namamu?""Elang, Tuan Besar," sahut Elang sopan namun dengan intonasi mantap."Mulai hari ini, tugasmu bukan cuma menyetir untuk Rania," ujar Kakek Bram, suaranya terdengar berwibawa meski lemah. "Kamu jadi bodyguard pribadi cucu menatuku ini. Dampingi Rania ke mana pun dia pergi. Kalau Bima bertindak ceroboh atau kasar, kamu punya wewenang penuh dari saya untuk m

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 36 Pingsan

    Suara teriakan dan buku-buku berjatuhan ke lantai mendadak bergema dari arah ruang perpustakaan pribadi di lantai dua kediaman Adhitama."Kakek! Kakek kenapa, Kakek?! Tolong! Jangan begini, Kakek!"Bima berlari keluar dari pintu perpustakaan dengan wajah pias tanpa darah, napasnya memburu panik. Tangannya gemetar hebat, tak tahu harus berbuat apa melihat Kakek Bram terkulai lemas di atas kursi kulit dengan tangan mencengkeram dadanya rapat-rapat.Rania yang sedang berada di lorong langsung berlari mendekat. "Ada apa, Mas?! Kakek kenapa?!""Kakek... tiba-tiba memegangi dadanya terus pingsan!" gagap Bima panik setengah mati. "A-aku... aku bingung harus panggil siapa! Ambulans! Iya, ambulans!"Di tengah kepanikan Bima yang berputar-putar tak tentu arah seperti ayam kehilangan induk, sebuah langkah kaki tegap bergerak cepat menyibak kerumunan pelayan. Elang muncul dengan raut wajah sangat tenang. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk banyak bicara, Elang langsung menerobos masuk ke

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 35 Curi Pandang

    Elang mematung di depan pintu. Jemari tangannya terangkat pelan, menyentuh permukaan bibirnya yang masih menyisakan rasa hangat dan manis dari kecupan mendadak Rania.Jantung di dalam dadanya berdegup liar bak ditabuh ribuan drum."Dia benar-benar mencium ku?!" batin Elang tak percaya."Tolong! Elang! Rania! Kecoa nya terbang ke arah muka ku aaghh!"Jeritan histeris dari balik pintu kayu tebal itu seketika memecahkan lamunan Elang. Pria itu menghela napas panjang, menetralkan raut wajahnya secepat mungkin sebelum berdehem pelan.Dengan santai seolah tak ada kejadian berdesir beberapa detik lalu, Elang menendang engsel pintu yang macet itu dengan sekali dorongan terukur.Dari dalam kegelapan, Bima melangkah keluar seperti orang kesetanan. Baju kemeja mewahnya sudah robek di bagian bahu, rambut klimis nya penuh jelaga dan jaring laba-laba, sementara wajahnya pias tak berdarah."Kamu dari mana saja, Elang?!" maki Bima dengan napas memburu, merapikan bajunya yang berantakan. "Hampir saj

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 34 Kecupan Singkat

    "Beneran cuma nyari anting, kan?" tanya Bima sekali lagi, matanya menyipit menatap Rania yang sibuk merapikan gaun tidurnya di depan cermin."Aduh, Mas Bima! Berapa kali sih harus aku jawab?!" semprot Rania melotot, membalikkan badan dengan hembusan napas kasar. "Kalau nggak percaya, cari aja sendiri di bawah jok mobil sampai subuh! Lagian ngapain sih nanya-nanya terus? Kurang kerjaan banget!"Bima mengeraskan rahangnya, lalu mengusap kepapanya yang terasa pening. Curiga dan jengkel bercampur jadi satu di dadanya, namun melihat Rania yang galak seperti macan betina, ia memilih mengalah daripada kepalanya makin berdenyut."Ya sudah, ya sudah! Aku kan cuma nanya," ucap Bima ketus. Pria itu menyilangkan tangan di dada, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Besok malam kakek mengundang kita makan malam di rumah utama. Kamu harus siap-siap, jangan sampai terlambat."Rania hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mematikan lampu meja dan langsung merebahkan tubuhnya di

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 33 Hampir Ketahuan

    "Mau turun sekarang, Bu?" tanya Elang pelan.Rania tak langsung menjawab. Matanya menatap keluar jendela, mengamati rumah megah Adhitama yang sebagian besar lampunya sudah dipadamkan. Ada rasa enggan yang luar biasa besar untuk melangkahkan kaki keluar dari mobil ini. Di luar sana, ada kehidupan rumah tangga palsu dan dingin yang menunggunya. Namun di dalam mobil ini, bersama pria di sampingnya, Rania merasa begitu aman dan dihargai."Sebentar lagi, Lang," ucap Rania dengan suara nyaris berbisik.Elang melepaskan sabuk pengamannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Baik, Bu. Saya tunggu sampai Bu Rania siap."Keheningan kembali merayap di antara mereka. Kali ini atmosfer di dalam mobil berubah total. Kehangatan yang tercipta dari adegan elusan lembut di bahu Elang tadi masih menyisakan pendar getaran yang belum usai. Rasa canggung yang teramat pekat mendadak menyelubungi mereka.Rania meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, jantungnya berdegup kencang bak ditab

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status