홈 / Romansa Pria / Tambah Lagi Dong Pak Sopir! / Bab. 37 Bodyguard Pribadi

공유

Bab. 37 Bodyguard Pribadi

last update 게시일: 2026-10-06 01:05:42

Kakek Bram mengibaskan tangannya pelan, memberi isyarat agar seluruh anggota keluarga keluar dari ruang perawatan VIP, kecuali Elang dan Rania.

Bima yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya rapat-rapat.

"Kakek, Bima mau tunggu di dalam saja menemani Kakek—"

"Keluar, Bima," potong Kakek Bram dingin tanpa sudi menoleh. "Setiap kali melihat mukamu, dadaku malah makin sesak."

Dengan wajah merah padam menahan malu, Bima terpaksa melangkah keluar diiringi tatapan prihatin dari kerabat Adh
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 52 Malah Nyaman

    Bima berjalan gontai di koridor lantai empat dengan dua kantong plastik penuh berisi kue sus, buah-buahan, dan minuman kaleng. Dasi mewahnya sudah melar entah ke mana, rambutnya agak berantakan, dan wajah mewahnya tampak benar-benar lelah usai dimaki-maki Kakek Bram serta pusing memikirkan tingkah Rania. Cklek! Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Bima mendorong pintu kamar 402. "Bocah! Ini aku bawa makanan enak!" Amira yang sedang asyik melukis di atas ranjang perawatannya sampai tersentak kaget. Ia menoleh, lalu memutar matanya malas begitu melihat sosok pria berjas yang melangkah masuk tanpa sopan santun. "Eh, Om Bima Pemarah!" seru Amira menepuk jidatnya. "Masuk itu ketuk pintu dulu kenapa sih? Kebiasaan banget main selonong kayak Satpol PP mau razia!" "Sembarangan kamu!" Bima mengomel seraya meletakkan dua kantong plastik itu kasar ke atas meja samping ranjang. Pria itu menyandarkan bokongnya di kursi empuk, menghembuskan napas panjang yang amat berat. "Ini aku bawa ku

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 51 Bocah Aneh

    "Dasar supir sialan! Istri kurang ajar! Awas kalian berdua, lihat saja nanti apa yang bakal gue lakukan!"Bima mengumpat tiada henti, menyusuri koridor yang mulai sepi dengan hentakan kaki kasar. Baju jas mewahnya agak basah tersiram air hujan, namun panas di dadanya jauh lebih membakar ketimbang dinginnya angin malam. Bayangan wajah Rania yang tersenyum manis saat disuapi Elang, serta kalimat ketagihan yang meluncur dari bibir istrinya, terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang menyiksa batin."Wah, Om Pemarah lagi!"Langkah Bima seketika terhenti mendadak. Ia menoleh ke arah sudut koridor dekat taman dalam, mendapati seorang gadis remaja bertubuh kurus dengan piyama rumah sakit sedang duduk di atas kursi roda, memegangi tiang infus dengan wajah ceria tanpa dosa.Bima mengernyitkan dahi tebalnya, menatap anak itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh kekesalan. "Ngapain kamu di sini jam segini?! Terus kamu panggil saya apa tadi?! Om?!"Amira terkekeh renyah, mendoro

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 50 Ketagihan

    "Suka-suka aku dong, Mas! Memangnya ada undang-undangnya istri tidak boleh disuapi sama pengawalnya sendiri?!" semprot Rania langsung tanpa ragu, menatap Bima dengan pandangan menantang.Bima melotot lebar, mukanya yang tadinya pucat karena capek langsung memerah padam. "Rania! Jaga ucapan kamu ya! Kamu itu makin hari makin tidak sopan sama suami sendiri! Kamu lupa posisi kamu?!"Elang berdehem pelan dengan nada berat dan tenang, menggeser posisinya sedikit untuk menghalangi pandangan Bima ke arah Rania. "Maaf, Pak Bima. Bu Rania tadi mendadak lemas dan tangannya gemetaran karena belum makan malam. Sesuai perintah Kakek Adhitama untuk memastikan kesehatan Bu Rania terjaga dua puluh empat jam, saya ambil tindakan cepat untuk membantu beliau makan.""Alasan! Kamu itu cuma supir, Elang! Jangan sok perhatian sama istri orang! Lupa perjanjian awal kita?" bentak Bima frustrasi, memukul pinggiran pintu mobil dengan telapak tangannya.Bima lalu menatap Rania tajam. "Rania, turun sekarang! K

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 49 Kamu Istriku!

    "Huek! Uhuk-uhuk!"Rania berlari kecil menuju wastafel kamar mandi rumah sakit, memegangi perutnya yang mual luar biasa. Kakek Bram yang baru saja tertidur pulas akibat efek obat tidak terbangun, namun Elang yang berjaga di luar pintu kamar langsung sigap mendorong pintu pelan."Rania? Kamu kenapa?" bisik Elang penuh kepanikan, menghampiri Rania yang sedang membasuh wajahnya dengan air dingin.Rania menyandarkan tubuh lemasnya pada dada bidang Elang. Napasnya terengah-engah, matanya berkaca-kaca menatap Elang lewat cermin."Mual banget, Lang. Perutku enek," cicit Rania manja, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elang yang hangat.Elang membalas pelukan itu, mengelus punggung Rania dengan penuh kelembutan. "Pasti morning sickness bawaan anak kita. Mau aku ambilkan minyak kayu putih atau teh hangat?"Rania menggelengkan kepalanya cepat. Bibir cantiknya mendadak mengerucut maju. "Nggak mau teh. Aku mau makan.""Mau makan apa, Sayang? Biar aku belikan sesuatu di kantin?" tawar Elang

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 48 Niat Buruk

    "Sebenarnya cucu Kakek itu aku atau Elang sih?!" protes Bima tak terima. Amarah yang dipendamnya sejak tadi akhirnya meledak. Bima menunjuk-nunjuk Elang, mukanya merah padam ditatap semua orang."Kakek selalu saja membela Elang! Dari kemarin Elang terus yang dipuji-puji, seolah-olah dia itu cucu kandung Kakek dan Bima cuma orang asing!" lanjut Bima histeris.Kakek Bram menghentikan gerakanya, mengunyah sup dengan santai lalu mengelap bibirnya memakai tisu. Matanya menatap Bima dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun."Kamu mau tahu jawabannya?" sahut Kakek Bram santai namun menohok. "Pikir saja sendiri! Kalau Rania dulu nikahnya sama Elang, pasti Rania sudah hamil sekarang! Nggak seperti kamu, tiga tahun cuma bisa kasih alasan!"Uhuk! Rania yang sedang berdiri di samping ranjang seketika tersedak air liurnya sendiri. Napasnya tersengal, wajah cantiknya langsung memerah seperti buah tomat akibat kalimat spontan dari Kakek Bram yang begitu tepat sasaran.Bima mengernyitkan dahinya penu

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 47 Serba Salah

    Dion melangkah masuk lebih dulu, disusul Rania dan Elang . Begitu pintu berderit, Bima yang sedang duduk cemberut di sofa sudut ruangan langsung melonjak berdiri. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah Elang yang berjalan sangat dekat di samping Rania."Dari mana saja kamu, Rania?!" bentak Bima tanpa tedeng aling-aling, mukanya merah padam. "Ditelepon berulang kali tidak diangkat! Malah jalan berduaan sama supir ini!"Tanpa membuang waktu, Bima merangsek maju dan melayangkan tangannya, hendak menarik kasar pergelangan tangan Rania. "Sini kamu!"Sebelum jemari Bima sempat menyentuh kulit Rania, sebuah tangan kekar bergerak secepat kilat. Elang mencengkeram pergelangan tangan Bima di udara dengan kekuatan kokoh yang tak tertahankan."A-aduh! Lepas!" ringis Bima serta-merta, matanya mendelik kesakitan mendapati pergelangan tangannya terkunci rapat bagaikan dijepit tang besi.Elang menatap Bima dengan pandangan dingin dan menusuk, suaranya terdengar begitu berwibawa di dalam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status