HYANG YUDA

HYANG YUDA

Oleh:  mahesvara  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
75Bab
2.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Hyang Yuda, Dewa Perang yang Agung dari Amaraloka mulai merasa jenuh dengan tugas - tugasnya. Dalam pengejaran iblis, Hyang Yuda tidak sengaja bertemu dengan gadis manusia bernama Sasarada yang membuatnya mulai teringat dengan kenangan masa lalunya yang hilang. Di sisi lain, Mahamara yang merupakan sebutan untuk musuh bebuyutan Amaraloka terus menerus mengusik ketenangan Amaraloka dan Hyang Yuda menggunakan Sasarada. Perang besar yang melibatkan tiga alam pecah, membuat Hyang Yuda yang kehilangan ingatannya terpaksa menemukan ingatannya lagi untuk menghentikan perang dan kehancuran tiga alam. Dalam proses ingatannya yang kembali, Hyang Yuda menemukan dirinya saat masih hidup sebagai manusia dengan nama Sena yang merupakan Panglima Kerajaan Majapahit. Perlahan Hyang Yuda menemukan banyak tipuan muslihat, fitnah dan pemberontakan yang terjadi di sekitarnya ketika masih hidup sebagai manusia bernama Sena. Janji lama, cinta, pengorbanan dan kehilangan yang sempat dilupakan Hyang Yuda perlahan kembali bersama dengan ingatan yang hilang. Di saat yang sama, Hyang Yuda pun menemukan tujuan peperangan yang dibuat Mahamara.

Lihat lebih banyak
HYANG YUDA Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
75 Bab
1. DEWA PERANG YANG MULAI MERASA BOSAN
Tahun 1810. Suara pedang yang saling menyentuh dan bertabrakan satu sama lain. Suara daging segar yang terbelah oleh tajamnya pedang. Suara berisik teriakan banyak prajurit yang siap mati, prajurit yang kesakitan dan prajurit yang berharap pada kemenangan terdengar di kedua telinga Hyang(1) Yuda(2). Pemandangan yang sama dan suara yang sama sudah dilihat dan didengar Hyang Yuda selama kurang lebih lima ratus tahun lamanya. Dari puncak gunung di dekat tempat terjadinya perang, Hyang Yuda hanya duduk diam sembari memperhatikan bagaimana jalannya perang yang sedang terjadi. (1)Hyang dalam bahasa sansekerta memiliki arti Dewa.(2)Yuda dalam bahasa sansekerta memiliki arti Perang. Di sampingnya, duduk Hyang Marana(3) dan Hyang Tarangga(4) yang sedang mencatat jumlah kematian yang datang dan takdir manusia yang akan bertahan hidup. Hyang Marana menghitun
Baca selengkapnya
2. DEWA PERANG MENGEJAR IBLIS
Hyang Yuda yang baru saja memfokuskan pandangannya ke arah perang di hadapannya, kini justru perang di hadapannya itu perlahan mulai usai. Kelelahan yang teramat sangat dan titik kemenangan yang tidak terlihat di antara kedua belah pihak, membuat dua pihak yang berperang memutuskan untuk mundur di saat yang bersamaan. “Sial. . .” umpat Hyang Marana dengan kesal secara tiba – tiba. Umpatan Hyang Marana itu berhasil membuat Hyang Tarangga yang fokus dengan pekerjaannya mengalihkan perhatiannya sejenak. “Ada apa, Hyang Marana?” tanya Hyang Tarangga. “Hyang Yuda. . .” teriak Hyang Marana masih dengan rasa kesalnya. “Karena rasa bosanmu, apa kamu tidak melihat dua Durbiksa(1) yang baru saja melarikan diri?” (1)Durbiksa dalam bahasa sansekerta berarti iblis. Hyang Marana berteriak dan membentak Hyang Yuda dengan penuh amarah sembari menunju
Baca selengkapnya
3. DEWA PERANG BERTEMU DENGAN GADIS MANUSIA
Hyang Yuda menghentikan langkahnya yang hendak melayang pergi dan memastikan lagi pendengarannya yang mendengar suara teriakan seorang gadis manusia dari tempatnya berada.“Kumohon. . . siapapun tolong aku. . .” Teriakan itu terdengar lagi oleh Hyang Yuda untuk kedua kalinya. Haruskah aku menolongnya?Hyang Yuda bertanya dalam pikirannya sendiri. Tidak. . . itu tidak perlu. Pasti akan ada manusia yang lewat yang akan menolongnya.Hyang Yuda menjawab sendiri pertanyaan yang baru saja ditanyakannya kepada dirinya sendiri. Untuk meyakinkan dirinya sendiri, Hyang Yuda menunggu selama beberapa waktu untuk memastikan bahwa akan ada manusia yang lewat dan memberikan pertolongan kepada gadis manusia itu. Namun setelah lima kali teriakan permintaan tolong dari gadis itu, Hyang Yuda tidak menemukan satu manusia pun yang lewat yang akan memberikan pertolongan kepada gadis manusia itu. De
Baca selengkapnya
4. DEWA PERANG MENGINAP DI RUMAH MANUSIA
Setelah menyelesaikan percakapan mereka, gadis manusia itu mempersilakan Hyang Yuda untuk masuk ke dalam rumahnya yang sederhana. Begitu masuk ke dalam rumah gadis manusia itu, Hyang Yuda benar – benar terkejut melihat bagian dalam dari rumah itu. Rumah itu sedikit lebih baik di bagian dalamnya dari pada yang terlihat dari luar. Ruangan di dalam rumah terasa hangat dan bersih. Beberapa perkakas dan perabotan yang dimiliki gadis itu terawat dengan baik. Meski ukuran rumah tidak besar, tapi Hyang Yuda melihat semua yang dibutuhkan gadis itu ada di dalam rumah itu. “Duduklah di sana, Tuan yang baik hati. . .” Gadis manusia itu menunjuk ke arah kursi besar di sudut ruangan di dekat pintu masuk rumah miliknya. “Tuan bisa menunggu di sana sembari saya memasak makan malam untuk kita berdua.” Hyang Yuda menuruti ucapan gadis manusia itu dan duduk manis di kursi besar yang ada di sudut ruangan itu. Sembari menunggu, Hyang Yuda terkadang
Baca selengkapnya
5. DEWA PERANG TIDAK BISA TERTIDUR
Dinginnya angin malam di Janaloka yang berembus membuat Hyang Yudi yang terbiasa hidup nyaman di Amaraloka sedikit kesulitan untuk tidur. Tapi, bukan hanya itu saja alasan Hyang Yuda tidak bisa memejamkan matanya. Sesuatu di luar sana, di tengah kegelapan malam mengganggu Hyang Yuda yang berniat untuk tidur. Dalam embusan angin malam yang dingin, Hyang Yuda mencium bau darah yang memuakkan dan membuat jijik Hyang Yuda. Awalnya, Hyang Yuda berniat untuk membiarkan hal itu begitu saja. Namun semakin lama, bau darah yang memuakkan itu semakin menusuk indra penciuman Hyang Yuda dan membuat Hyang Yuda semakin terganggu karena perasaan jijiknya. Mau tidak mau, Hyang Yuda akhirnya memilih bangun dan bangkit dari tempatnya berusaha untuk tertidur. Hyang Yuda kemudian membuka pintu rumah gadis manusia itu dan berjalan keluar di tengah gelapnya malam di Janaloka. Sebelum pergi meninggalkan rumah gadis manusia itu, Hyang Yuda memasang Awarana Catra(1) di sekitar
Baca selengkapnya
6. DEWA PERANG MENANGKAP RAJA ULAR
Setelah berusaha memberikan sugesti kepada dirinya sendiri, Hyang Yuda kini mulai bisa menahan rasa mualnya lagi dan fokus mendengarkan saluran komunikasi dengan Amaraloka yang dibukanya.  “Hyang Madyapada. . .” panggil Hyang Yuda melalui saluran komunikasi.  [Aku di sini. . . apa yang ingin Hyang Yuda tanyakan padaku?]  Hyang Madyapada menjawab panggilan dari Hyang Yuda. “Bisakah aku bertanya, apa mungkin Hyang Madyapada mengetahui tentang Nagendra yang sedang memakan banyak manusia di sekitar tempatku berada?” tanya Hyang Yuda.  [Tunggu sebentar, biarkan aku melacak lokasi tempat Hyang Yuda berasa saat ini.] Hyang Madyapada dengan kemampuan khusus miliknya mulai melacak lokasi di mana Hyang Yuda berada. Sementara Hyang Madyapada sedang sibuk melacak lokasi, Hyang Tarangga berbicara dalam saluran komunikasinya.  [Sejak siang tadi, ke mana saja Hyang Yuda pergi?]  “Bisakah Hyang Tarang
Baca selengkapnya
7. DEWA PERANG MENGETAHUI NAMA DARI GADIS MANUSIA
Di Amaraloka yang tenang. . .Sangkar Kausala tiba – tiba muncul di tengah – tengah aula Amaraloka dan membuat beberapa beberapa Raksaka(1) yang berjaga terkejut.  (1)Raksaka dalam bahasa sansekerta berarti Penjaga. Sangkar kausala yang tiba dengan Nagendra di dalamnya, kemudian berteriak dengan kencang memanggil nama Hyang Marana. “Hyang Marana yang terhormat. . . aku, Sangkar Kausala pusaka dari Hyang Yuda datang mengantarkan hewan peliharaanmu. . .”Teriakan Sangkar Kausala yang benar – benar kencang berhasil menarik perhatian beberapa Hyang yang terjaga akhirnya datang ke aula Amaraloka. Dari pintu gerbang Aula Amaraloka terlihat kedatangan Hyang Tarangga, Hyang Baruna, Hyang Byomanthara(2), Hyang Samirana, Hyang Amarabhawana dan terakhir Hyang Marana.  (2)Byomanthara dalam bahasa sansekerta berarti
Baca selengkapnya
8. DEWA PERANG KEMBALI KE AMARALOKA
Setelah makan pagi bersama dengan Sasadara, Hyang Yuda kemudian mengucapkan terima kasih kepada Sasadara dan berpamitan pergi.  “Jaga dirimu, Sasadara. Seorang gadis tinggal seorang diri di tempat yang jauh dari pemukiman dan dekat dengan hutan. . . itu pasti sangatlah berat,” ucap Hyang Yuda sebelum pergi. Sasadara menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Hidup seorang diri di pinggir hutan akan lebih mudah bagi saya dan juga banyak orang daripada saya harus tinggal di desa dan membuat banyak orang di desa kesusahan.”  Hyang Yuda mengerutkan alisnya dan memandang heran ke arah Sasadara, “Apa maksudnya dengan itu?”  Sasadara tersenyum melihat ke arah Hyang Yuda, “Jika kita berjodoh dan bertemu lagi, saya akan menceritakan hal ini kepada Tuan. Bagaimana menurut Tuan?”  Hyang Yuda tersenyum mendengar ucapan bijak dari Sasarada kepada dirinya. “Baiklah, jika kita berjodoh dan bertemu lagi. . .” jawab Hyang Yuda. Baca selengkapnya
9. DEWA PERANG HENDAK PERGI BERPERANG
Hyang Tarangga yang baru saja kembali dari tanah Girilaya kini berdiri di depan Hyang Amarabhawana di aula Amaraloka. Dengan menggunakan saluran komunikasi pribadi, Hyang Amarabhawana meminta Hyang Tarangga untuk segera menemuinya ketika tiba di Amaraloka. Dengan menahan rasa mualnya yang belum hilang sejak melihat kondisi Girilaya yang menjadi tempat pesta makan besar Nagendra, Hyang Tarangga menguatkan dirinya berdiri menghadap Hyang Amarabhawana.  “Hyang Tarangga. . .” panggil Hyang Amarabhawana ketika melihat kedatangan Hyang Tarangga.  “Ya, saya di sini, Hyang Amarabhawana.”  “Maafkan ketidaksabaranku karena meminta Hyang Tarangga segera datang menemuiku setelah pekerjaan Hyang Tarangga yang berat pagi ini.”  “Tidak, Hyang Amarabhawana. Sudah menjadi tugas saya mencatat semua atma dan manusia di Janaloka,” jawab Hyang Tarangga dengan sopan dan merendah.  “Aku meminta Hyang Tarangga datang kemari karena ada se
Baca selengkapnya
10. DEWA PERANG MENGHADAPI SERANGAN DI JANALOKA
Setelah memberikan tugas khusus kepada Hyang Yuda, Hyang Amarabhawana kemudian membagi para Hyang menjadi beberapa kelompok.  Kelompok pertama terdiri dari Hyang Tarangga dan Hyang Byomanthara bertugas menjaga Amaraloka dan memantau situasi dari semua kelompok dari Amaraloka. Jika diperlukan, Hyang Tarangga dan Hyang Byomanthara dapat melancarkan serangan dari Amaraloka untuk membantu kelompok yang terdesak.  Kelompok kedua terdiri dari Hyang Manasija dan Hyang Samirana yang bertugas untuk mengatasi kelompok Baluka. Kelompok ketiga terdiri dari Hyang Baruna dan Hyang Warsa yang bertugas untuk mengatasi Rase. Kelompok ketiga terdiri dari Hyang Marana dan Hyang Madyapada yang bertugas mengatasi Saradula dan terakhir Hyang Amarabhawana yang akan seorang diri mengatasi kelompok Nagendra.  Sementara itu, Hyang Yuda akan berkeliling ke seluruh Janaloka untuk memberi bantuan kepada setiap kelompok sembari mencari dalang di balik serangan ini. Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status