Air mata yang Kutumpahkan

Air mata yang Kutumpahkan

Oleh:  Suzy Wiryanty  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Belum ada penilaian
49Bab
60.7KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Menikah dengan Panji Wicaksana, yang tidak lain adalah pacar adik kembarnya, bukanlah keinginan Keira Prawirajaya. Masalahnya adik kembarnya tersebut kabur seminggu menjelang hari pernikahannya. Sementara keluarga besarnya memerlukan tameng untuk menutupi aib keluarga. Dan seperti biasa, Keira lah yang harus mengambil alih semua dosa-dosa adik kembarnya. Masalah timbul saat Keisha kembali. Keisha memutarbalikkan fakta, dan menjadikan Keira kambing hitam atas segala kesalahannya. Panji yang masih sangat mencintai Keisha, mengupayakan segala cara agar bisa menceraikan Keira. Termasuk menuduh Keira berselingkuh dan mengandung benih dari pria lain. Keputusan apa yang akhirnya akan diambil oleh Keira? Mempertahankan rumah tangga dan maruah keluarga, atau menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang wanita? "Aku diam bukan karena aku kalah. Aku hanya tidak mau kamu semakin mempermalukan dirimu sendiri. Karena secepat apapun kebohongan berlari, yakinlah bahwa kebenaran pasti akan selalu melewatinya." -Keira Prawirajaya- "Bertahanlah, jika kamu betah. Dan pergilah, jika kamu lelah. Aku tidak pernah memaksa." -Panji Wicaksana- "Jangan biasakan menelan stigma bulat-bulat tanpa ditelaah terlebih dahulu. Cinta boleh, tapi tolong otak kamu itu dipakai!" -Alrasya Abiyaksa-

Lihat lebih banyak
Air mata yang Kutumpahkan Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
49 Bab
Chapter 1
Keira memindai jam di pergelangan tangannya. Pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Berarti lima belas menit lagi baru jam kerjanya akan berakhir. Hari ini ia memang kebagian shift sore di ruang IGD. Yang artinya ia akan bertugas mulai dari pukul dua sore sampai dengan pukul sembilan malam. Sebagai seorang perawat, jam kerjanya memang diatur sesuai dengan shift yang ditentukan oleh pihak rumah sakit.Kamu ingin cepet-cepet pulang untuk apa, Ra? Untuk Panji? Tapi suamimu itu toh tidak pernah menanti kepulanganmu? Sudahlah. Jangan terus membohongi hatimu, Ra. Kasihan. Karena kamu telah menipunya sekian lama.Keira mengeleng-gelengkan kepala. Mencoba mengibaskan bayang-bayang gelap hidupnya selama kurang lebih satu setengah tahun ini. Ya, satu setengah tahun lalu, ia terpaksa menggantikan adik kembarnya, Keisha, untuk menikah dengan Panji Wicaksana. Adik kembarnya itu kabur seminggu m
Baca selengkapnya
Chapter 2
Suasana pagi yang damai. Dua pasang suami istri berbeda generasi sedang menikmati sarapan pagi. Ritual pagi di keluarga Wicaksana memang seperti ini. Semua penghuni rumah wajib sarapan pagi bersama sebelum memulai aktifitas masing-masing.Keira menuangkan kembali air minum Panji saat melihat isinya hampir habis. Tindakannya itu dihadiahi seulas senyum manis oleh Panji.Tidak ada seorang pun yang akan percaya kalau rumah tangga mereka sebenarnya bermasalah, apabila mereka menyaksikan keintiman mereka pagi ini. Begitu juga dengan ke dua orang tua mereka masing-masing. Di mata mereka, pernikahan anak menantu mereka sempurna adanya. Hanya ada satu hal yang mereka rasa masih kurang. Tentu saja masalah momongan. Satu setengah tahun menikah, dalam diri Keira belum juga tampak adanya tanda-tanda kehadiran calon cucu yang sudah lama mereka idam-idamkan."Panji, Rara. Bukannya Ibu bermaksud untuk mencampuri rumah tangga kalian. Ibu hanya sekeda
Baca selengkapnya
Chapter 3
Sudah sepuluh menit Keira duduk di hadapan Rasya. Tetapi orang yang bersangkutan masih terus saja mendiaminya. Rasya hanya duduk santai di kursi kebesarannya sambil sesekali mengetik di keyboard laptop. Matanya hanya fokus memandangi layar laptopnya. Kehadirannya hanya dianggap seperti lemari arsip saja sepertinya. Semenit, dua menit, tiga menit pun berlalu. Keira mulai gerah dan merasa tidak betah.Apa mungkin si Rasya ini sedang menunggunya mengakui kesalahannya terlebih dahulu ya? Biasanya dalam film-film detektif 'kan seperti itu. Pengacara menunggu clientnya menceritakan semua permasalahannya sampai tuntas terlebih dahulu. Setelah itu, baru 'lah si pengacara mencari solusi untuk menolong clientnya. Baiklah. Mungkin sebaiknya ia mengaku duluan saja. Mudah-mudahan kemarahan si Rasya ini bisa sedikit reda kalau ia menunjukkan itikad baiknya. Keira berdehem beberapa kali sebelum mulai berbicara."Saya minta maaf
Baca selengkapnya
Chapter 4
Keira terbangun dengan kepala yang berdenyut-denyut. Sepertinya kemarin malam ia menangis sampai ketiduran. Hanya memejamkan mata beberapa jam, tidak heran kalau sekarang kepalanya seperti dipasangi kitiran. Harap-harap cemas, Keira melirik ke samping kanan tempat tidurnya. Masih serapi semula. Itu artinya sampai pagi ini, Panji belum juga kembali ke rumah. Keira beringsut dari ranjang menuju kamar mandi. Sudah waktunya untuk membersihkan diri. Saat mencuci muka dan menggosok gigi, ia memandangi cermin. Dan penampakannya di sana sangat mengenaskan. Pantulan cermin memperlihatkan seorang gadis kurus dengan kantong mata menghitam. Dengan cepat ia membersihkan diri dan siap-siap bekerja. Ia tidak ingin terlalu lama mengasihani diri sendiri. Apapun yang terjadi, hidup ini memang harus terus berjalan. Siap tidak siap, suka tidak suka, semua harus dijalaninya.Saat ia melangkahkan kaki ke dapur untuk sarapan, suasana terasa begitu sepi. Biasanya pagi hari
Baca selengkapnya
Chapter 5
"Bercerai? Ibu 'kan sudah berulang kali bilang kalau Ibu tidak setuju dengan keinginan kamu itu? Sudah. Ibu tidak mau membahas masalah itu lagi!" bentak Danti seraya mengibaskan tangan ke udara. Ia kesal karena anak perempuannya ini selalu membahas masalah yang itu-itu saja. Ia sudah mencium bau-bau tidak enak saat anak perempuannya ini tiba-tiba saja menyambanginya. Pasti ada berita tidak enak yang dibawanya. Ternyata firasatnya benar. Putri bodohnya ini meminta dukungannya untuk bercerai."Tapi Keira sudah tidak tahan hidup begini terus, Bu. Semalam Mas Panji tidak pulang. Pada Keira, Mas Panji ngakunya sedang ada urusan penting. Tapi saat Keira melihat story Soraya, Mas Panji malah terlihat sedang bersenang-senang di club dengan seorang perempuan. Mereka saling berpelukan mesra, Bu. Keira... Keira sakit hati, Bu," adu Keira dengan suara terbata-bata."Makanya kamu usaha dong, Ra, biar bisa hamil secepatnya. Panji itu begitu, pa
Baca selengkapnya
Chapter 6
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam kurang sepuluh menit. Itu artinya sepuluh menit lagi shift malamnya akan berakhir. Hari ini Robin izin untuk tidak masuk kerja. Ia sedang sibuk menyiapkan sidang skripsinya. Itu artinya ia harus pulang sendiri. Sebenarnya ia bisa saja menghubungi Pak Min, supir keluarga mereka. Hanya saja ia segan harus merepotkan Pak Min pada jam-jam seperti ini. Pak Min itu sudah tua dan sakit-sakitan. Ia tidak tega mengurangi jadwal istirahatnya di luar jam kerja normalnya. Makanya ia memutuskan akan memesan taksi online saja. Setelah menukar seragamnya, ia bersiap-siap keluar dan memesan taksi online. Belum sempat mengeluarkan ponsel dari tasnya, sebuah suara cempreng singgah di pendengarannya."Ra, taksi online lo udah nyampe tuh di parkiran. Beruntung banget ya lo bisa dapet driver dan mobil grade A begini?" Marlina, perawat satu 
Baca selengkapnya
Chapter 7
Seminggu telah berlalu dari pembicaraannya dengan Pandu. Tetapi Panji sama sekali belum mengambil sikap apa-apa. Sepertinya ia masih bimbang memberitahukan keinginannya pada kedua orang tuanya. Tetapi Keira tau kalau sebenarnya Panji tengah menerapkan strategi baru. Sekarang Panji telah mengurangi jadwal keluar malamnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengobrol dan membahas masalah pekerjaan dengan sang ayah. Panji sedang berupaya untuk mengambil hati ayahnya.Pandu juga sudah dua minggu penuh ini ada rumah. Biasanya kakak iparnya itu tidak pernah tinggal lama setiap berkunjung ke Jakarta. Paling banter seminggu. Menurut ibu mertuanya, Pandu sedang mengurus kerjasama dengan pabrik pembuat teh instan di sini. Di zaman modern seperti ini membuat teh dengan cara diseduh atau pun dicelup terkadang membuat orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi merasa repot. Karenanya mereka lebih memilih mengkonsumsi teh dalam kemasan instan
Baca selengkapnya
Chapter 8
Keira menutup kotak perhiasan yang berselimutkan beludru merah dengan hati-hati. Di dalam kotak itu terdapat sepasang anting-anting mutiara Tahiti grade A+ yang sudah diincarnya sejak lama. Ia menabung selama tiga bulan penuh untuk bisa memiliki mutiara laut berwarna hitam berkilauan ini. Mutiara ini ia beli sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya. Beberapa bulan lalu, ibunya pernah bercerita kalau ia sangat menginginkan mutiara berwarna hitam seperti yang dikenakan oleh teman arisannya, Bu Sastro. Saat itu ibunya mengatakan kalau ia menginginkannya karena warnanya yang unik. Ibunya memang telah memiliki anting-anting mutiara sebelumnya. Hanya saja warnanya putih. Keira mencatat keinginan ibunya itu dalam hati dan berjanji bahwa ia akan membelikannya apabila ia mempunyai rezeki berlebih. Dan setelah menabung tiga bulan lamanya, ia bisa juga mewujudkan keinginan ibunya dengan memberikannya sebagai hadiah ulang tahun. Kerja kerasnya membuahkan hasil.
Baca selengkapnya
Chapter 9
"Kamu jangan kurang ajar sama orang tua ya, Ra? Apa maksud kamu menyindir-nyindir Ibu seperti itu?" Ibunya memelototinya. Selama ini ia memang selalu diam setiap kali dipersalahkan. Melihatnya melawan seperti ini, pasti membuat ibunya kesal."Waktu itu 'kan Ibu sama sekali tidak tahu kondisi rumah tangga kamu. Ibu pikir, ada campur tangan orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Makanya Ibu ingin agar kita mencari solusi bersama. Tapi ternyata masalahnya bukan di orang lain bukan? Tapi di antara kalian sendiri."Keira tersenyum di antara kabut yang menggelayuti matanya. Ia sedih. Ia sedih bukan karena akan bercerai dari Panji. Ia sudah siap lahir batin untuk itu. Tapi ia sedih karena ibunya begitu kentara membedakan kasih sayangnya. Dari mereka kecil, selalu saja seperti ini. Kerap dijadikan kambing hitam. Hanya karena ia tidak pandai berurai air mata seperti Keisha, maka ia lah yang selalu disalahkan apabila mereka berdua berselis
Baca selengkapnya
Chapter 10
Keira mendorong brankar dengan tangan gemetar. Sementara Keisha dan ayahnya dengan setengah berlari mengikutinya dari belakang. Ia dan petugas ambulance terus mendorong brankar menuju ruang IGD. Saat brankar masuk ke dalam ruangan, pintu otomatis tertutup. Saat ini tidak dalam masa tugas. Jadi kehadirannya di rumah sakit ini hanya sebagai keluarga dari pasien. Bukan sebagai perawat. Makanya ia tidak berhak masuk ke dalam ruangan IGD dan memberi pertolongan seperti biasanya. Ia berikut ayahnya dan Keisha hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas di depan pintu ruangan."Lo ini kan perawat, Ra. Mana lo kerjanya di rumah sakit ini lagi. Masa lo nggak bisa minta dispensasi apa kek gitu biar kita bisa masuk?" Suara cempreng Keisha memecahkan keheningan di ruang tunggu IGD."Terus kalau kita semua bisa masuk, ibumu bisa langsung sadar, begitu?" Keisha langsung kicep begitu ayahnya bersuara. Bila tidak ada ibunya, Keisha mema
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status