Retrocognition (Melihat Masa Lalu)

Retrocognition (Melihat Masa Lalu)

Oleh:  A.R. Ubaidillah  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
Belum ada penilaian
78Bab
2.0KDibaca
Baca
Tambahkan
Report
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Jika Anda mampu melihat masa lalu seseorang, masa lalu siapa yang ingin Anda lihat? Jika Anda mampu melihat masa lalu suatu tempat, tempat apa yang ingin Anda lihat masa lalunya? Wira tiba-tiba mampu melihat masa lalu seseorang dan suatu tempat. Mulanya ia merasa terbebani, karena mau tak mau mengerti background seseorang meski ia tak ingin tahu. Semakin lama ia semakin mampu mengendalikan kelebihannya, hal yang justru menyeretnya berurusan dengan orang-orang dari masa lalu penyebab kematian sang Bapak. Mampukah Wira membongkarnya?

Lihat lebih banyak
Retrocognition (Melihat Masa Lalu) Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
78 chapters
Jl. Pemuda 88
“Permisi, paket....”Seorang perempuan muda berhijab lebar sampai ke pinggang keluar dari gerai makanan waralaba. Ia terlihat seperti banyak pembeli yang akan tersenyum saat paket yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ia bisa saja menerima paket dari balik booth makanannya, tapi perempuan itu lebih memilih keluar. Sebuah hal kecil yang membuat kurir seperti Wira merasa dihargai.“Atas nama Aisya, betul?” tanya Wira meminta konfirmasi.“Betul, Mas.”Wira menyerahkan paket kepada perempuan muda itu sembari mengakses aplikasi kamera di gawainya. Jaman sekarang semua sudah serba daring dan digital. Laporan pengiriman bisa di kirim saat itu juga di manapun kurir berada. Para pemilik paket pun sudah paham, kurir pasti akan mengambil gambar mereka sebagai dokumentasi pengiriman.“Terima kasih, Mas....” ujar perempuan itu sambil memastikan bahwa paket yang ia terima memang benar miliknya.&ldquo
Baca selengkapnya
Penglihatan Aneh
“Mas, bengong aja! Makasih ya,”“Oh, iya, Mbak. Sama-sama,” balas Wira, ia masih menyimpan rasa tak percaya di benaknya.“Mas, mas ... ini, makasih udah anter paketku ya.”“Lho, ini apa, Mbak?” tanya Wira sesaat sebelum menerima sebuah kotak kecil berwarna hitam.“Hadiah, Mas. Semoga bermanfaat buat Mas-nya,” ujar Melati. Ia tampak tersipu dan segera berbalik kembali masuk ke rumah berpagar putih itu.Wira melanjutkan perjalanan begitu Melati menghilang di balik pintu rumah nomor 88. Ia simpan hadiah dari perempuan itu di sling bag-nya. Pemberian seperti ini amat jarang terjadi. Wira seperti baru saja memenangkan sebuah penghargaan semisal Kurir Award. Dalam hati sebenarnya ia penasaran apa isi kotak itu. Tapi tugasnya masih banyak dan harus segera diselesaikan.Rasa penasaran Wira juga masih ada tentang keberadaan rumah yang Melati tinggali. Ia yakin betu
Baca selengkapnya
Pemahaman Baru
Wira membuka matanya, lampu di ruang tempatnya berbaring begitu menyilaukan mata. Ia masih begitu lemah. Ingin sekali ia mengusap mata, namun kedua tangannya menolak untuk bergerak. Pemuda itu hanya mampu menggerakkan bola mata. Sedikit ke kiri, kanan dan ke bawah. Ke atas tak mungkin karena sinar lampu tadi. Ke kiri dan kanan ia hanya melihat tirai hijau, ke bawah yang ia liat hanya selimut putih menutupi tubuh.Tirai di sebelah kirinya terbuka, beberapa orang pun masuk, semuanya perempuan. Seorang paling depan menggantungkan stetoskop di lehernya. Seorang berpakaian serba putih dengan sedikit aksen hijau membawa berkas yang dijepit pada papan ujian. Seorang lagi berpakaian serupa datang terakhir mendorong semacam troli berisi banyak peralatan dan obat-obatan. Orang pertama tampak menanyakan sesuatu pada orang kedua. Percakapan mereka tak bisa Wira dengar.“Mas? Sudah sadar? Bisa dengar saya?” tanya orang pertama sembari mencondongkan wajahnya ke arah Wira
Baca selengkapnya
Arloji Kuno
Wira kini sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Energinya sudah terasa terisi ulang. Anehnya melihat Mamak muda tidak menguras energinya. Beda dengan tiga penglihatannya terakhir yang menguras habis energi dalam tubuhnya. Wira meraih gawainya di atas meja, tadi ia minta Mamak untuk mengisi ulang baterainya. Jemari tangan kanannya berusaha untuk melepaskan charger dari port-nya di bagian bawah gawai. Tangan kirinya hendak membantu tapi tak sampai karena infus masih terpasang. Gawai itu tak bisa ia lepaskan dari charger. Sedang kabelnya tak cukup panjang sampai ke tempat Wira berbaring. Tiba-tiba Wira teringat Melati. Perempuan dengan tampilan jadul yang memberinya hadiah dalam kotak kecil warna hitam. Kotak itu ia simpan dalam sling bag yang kini ia tak tahu ada dimana. Mamak sedang keluar membeli makan siang, tak ada yang bisa ia minta tolong mencari sling bag-nya. “Selamat siang....” Seorang perempuan
Baca selengkapnya
Pesan Mamak
Mamak menarik kursi plastik dan ia dekatkan pada tempat tidur Wira. Ia tinggalkan makan siang nasi padang lauk rendang yang baru ia kunyah beberapa suap. Matanya nanar memandang arloji dalam genggaman tangannya. Wanita paruh baya itu duduk, beberapa kali bolak balik bola matanya beralih dari arloji ke anak semata wayangnya itu. Ada banyak hal yang tampaknya sudah seharusnya Wira tahu.“Ini beneran punya Bapak, Mak?” tanya Wira. Ia meraih rantai arloji namun Mamak menahan Arloji dalam genggamannya.“Benar, Wir. Kamu dapat dari mana?” tanya Mamak datar. Wira menyadari ada yang tak beres dengan ibunya.“Dari orang yang aku anter paketnya, Mak. Namanya Melati, dia seneng banget katanya paketnya udah lama nggak sampe. Makanya begitu aku anterin, dia kasih aku hadiah arloji ini,” tutur Wira.“Melati katamu?”“Iya, Mak. Kenapa ya?”Mamak mengusap keningnya, beberapa anak rambut yang menjun
Baca selengkapnya
Upgrade
Jaka keluar dari ruang Officer sambil menggerutu. Ia remas-remas selembar kertas di tangannya dan ia lemparkan ke sudut kantor tempat biasa ada kotak sampah. Ia berjalan cepat keluar menghampiri sepeda motornya yang belum selesai memuat paket-paket yang harus diantarkan hari ini. Ario memperhatikannya dari sisi pagar sambil berjongkong menghisap sebatang rokok. “Kenapa Lu, Bro?” Ario setengah berteriak. Jaka menoleh sekilas, ia meletakkan begitu saja paket tanggung jawabnya di tanah. “Ada lagi nggak?” tanya Jaka menempelkan dua jarinya di bibir. Ario membuka resleting jaket dan meraih sebungkus rokok. Melihat gelagat dan mimik muka Jaka, ia pasti tengah menjalani hari yang tak menyenangkan. Jaka lelaki periang, ia baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki dari istrinya yang seorang janda. Dari pernikahan pertama ia punya satu anak perempuan. Belakangan mungkin itu yang membebani pikiran Jaka, karena tentu kebutuhan keluarganya bertambah. “Satu aja .
Baca selengkapnya
Melati
Bilik pojok yang Wira huni mendadak sepi setelah Jaka dan Ario pamit pulang. Pasien sebelah mungkin sudah bernapas lega sekarang. Beberapa kali Wira mengucapkan permintaan maaf namun tak ada jawaban. Mungkin pasien beliau sudah beristirahat. Atau justru meminta pindah bilik agar tidak terlalu berisik.Kehadirian dua sahabatnya tadi cukup mengusir sejenak kejenuhan Wira. Ia merasa sudah lama rebah di tempat tidur ini. Kini tenaganya sudah mulai pulih. Ia sudah tak bersandar, punggungnya sudah dapat ditegakkan. Beberapa kebutuhannya sudah dapat ia lakukan sendiri.“Udah pulang temanmu, Wir?” Mamak muncul dari balik tirai hijau.“Udah, Mak. Kasian tuh pasien sebelah kebrisikan. Becanda mulu tu Jaka Ario,” ujar Wira.“Pasien sebelah mana?”“Ya ini sebelah kita. Kenapa, Mak?” Wira penasaran, ekspresi Mamak seketika berubah.“Kosong sebelah kita, Wir. Dia meninggal sebelum kamu sadar!”Baca selengkapnya
Mendeteksi Yura
“Apa maksud Mbak Niken?” Wira menegakkan kepalanya.“Ayolah, Mas. Saya butuh pertolongan Mas Wira. Tolong lihat dimana anak saya sekarang!” Niken mulai memohon.“Kenapa Mbak Niken yakin saya bisa menolong?” tanya Wira. Ia ingin mengetahui dari mana Niken tahu tentang kemampuannya.“Melati bilang begitu.”“Melati? Mbak kenal Melati?” tanya Wira setengah histeris.“Nggak. Tapi jauh sebelum Mas Wira dirawat disini, perempuan itu datang beberapa kali di mimpi saya. Dia bilang akan datang orang yang bisa membantu saya menemukan Yura, anak saya.” Mata Niken mulai berkaca-kaca.“Terus kenapa Mbak yakin kalo orang itu saya?”“Mas sendiri tadi yang tanya soal anak saya kan? Tolong saya, Mas....” Niken mulai terisak. Kedua telapak tangannya terkatup di depan dada. Ia mendekat ke arah Wira.Kurang ajar sekali Melati. Memupuk harapan pada seoran
Baca selengkapnya
Sensitivitas
Wajah Niken memerah, kedua pipi yang basah semakin meranumkan wajahnya. Ia lepaskan pelukan di leher Wira. Tak ada yang dilakukannya, hanya mundur satu langkah yang justru semakin memperlihatkan wajah yang dirundung malu itu. Kini ia tak berani menatap wajah Wira. Ia takut melihat reaksinya, terlebih kalau pasien yang ia rawat ini dapat lebih banyak mendapatkan bayangan masa lalunya.Wira tak kalah salah tingkahnya. Tentu sebuah hal yang tak disangka-sangka Niken memeluknya seperti itu. Setengah hatinya merasa begitu malu, namun setengahnya lagi merasa beruntung. Untung saja hanya sebentar. Kalau tidak memang ia tak kehilangan tenaga mendeteksi Yura, tapi justru kehabisan napas karna dipeluk perawat cantik ini.“Mbak, semoga segera bertemu Yura ya?” ujar Wira mencairkan suasana.“Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih. Saya nggak tau gimana cara bales pertolongan Mas Wira.”“Duh, Mbak. Jangan gitu dong ngomongnya, saya ini ikhlas
Baca selengkapnya
Masa Lalu Suatu Tempat
“Nih,” Mamak menyerahkan kacamata hitam pesanan Wira.“Wih, keren juga, Mak. Berapaan ini?” tanya Wira.Wira memperhatikan kacamata hitam itu. Ia berharap bisa sedikit menurunkan penglihatan masa lalu orang-orang yang beradu pandang dengannya. Ia takut tak bisa fokus dengan real time karena terlalu terpaku pada masa lalu orang lain. Jika sekali lagi bertemu Melati, ia akan menanyakan banyak hal terkait kemampuannya ini. Dan tentu saja hubungannya dengan Bapaknya, juga dengan Niken.“Lima belas ribu, kaya pesenanmu lah,” jawab Mamak sambil mengenakan tas ransel di punggungnya. “Yakin mau bawa motor, Wir?” tanya Mamak tak yakin.“Iya, Mak. Aku udah sehat kok,” jawab Wira.Ia kenakan kacamata hitam tadi. Tas ransel berisi pakaian selama dirawat ia kenakan di depan. Sedang barang-barang lain dalam beberapa kantung plastik ia gantung di depan sepeda motor maticnya. Ia lalu naik dan men
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status