Gue inget banget pertama kali nemuin poster event Ajakal Jogja di tembok kosan tahun 2017. Warna-warnanya nyentrik banget, typography-nya edgy, langsung tau ini bukan komunitas biasa. Dari obrolan sama teman-teman seni di kota gudeg, ternyata embrio Ajakal udah ada sejak 2014—waktu sekelompok mahasiswa ISI dan UGM mulai ngadain pertemuan informal buat ngopi sambil tukar ide. Tahun 2015 baru deh resmi bikin nama dan struktur longgar. Mereka itu pionir scene creative gathering di Jogja yang benar-benar dari bawah, beda sama komunitas lain yang biasanya dimotori institusi.
Dulu pas masih sering hangout di Jogja, temen photographer gue pernah diajak dokumenterin acara Ajakal. Katanya vibes-nya itu loh, kayak punk show tahun 90-an tapi dibumbui aesthetic kekinian. Dari cerita banyak orang sih, mereka mulai konsisten bikin event sekitar 2015, tapi komunitasnya sendiri udah ngumpul setahun sebelumnya. Konsep dasarnya simpel: wadah buat yang merasa nggak cocok dengan galeri atau venue formal. Uniknya, meskipun identik dengan anak muda, Ajakal nggak pernah ngaku-ngaku sebagai wakil generasi tertentu—justru itu yang bikin eksistensi mereka awet sampai sekarang.
Ada sesuatu yang magis tentang Ajakal Jogja yang bikin aku selalu penasaran dengan akarnya. Komunitas ini muncul sekitar 2015-an, tumbuh dari semangat anak muda Jogja yang pengen ngumpulin orang-orang kreatif buat ngobrolin seni, musik, dan budaya urban. Awalnya cuma arisan diskusi kecil di kedai kopi, lama-lama jadi gerakan solid yang sering ngadain event jalanan sampai kolaborasi sama seniman lokal. Yang keren, mereka nggak cuma fokus di satu medium—mulai dari mural, indie music, sampai zine semua diramu jadi satu identitas DIY yang kental banget.
Uniknya, Ajakal nggak punya 'pendiri' tunggal. Lebih kayak collective yang berevolusi organik, dan itu justru bikin aura mereka lebih autentik. Denger-denger sih, trigger awalnya itu respon terhadap fenomena komersialisasi seni kota yang mulai kehilangan 'roh'-nya. Sekarang, mereka udah jadi semacam landmark budaya alternatif Jogja yang nggak bisa dipisahkan dari geliat anak mudanya.
Kalau ditelusuri garis waktunya, Ajakal Jogja itu seperti respon hidup terhadap vacuum ruang ekspresi anak muda di era 2010-an. Di tengah maraknya festival komersil, mereka muncul dengan format berbeda: tanpa stage, tanpa headliner, tanpa ticketing. All about raw energy and grassroots movement. Tahun berdiri pasti sekitar 2014-2015, tapi yang lebih penting itu filosofi di baliknya—ngumpulin orang-orang yang nggak nyaman dengan kotak-kotak seni mainstream. Ajakal itu seperti taman bermain dimana skater, musisi jalanan, pelukis, dan penulis bisa kongkow tanpa hierarki. Proses kreatifnya fluid banget, dan itu tercermin dari karya-karya kolaboratif mereka yang selalu surprise.
2026-06-30 00:15:39
2
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
PENDEKAR TERAKHIR TANAH JAWA
Yoyok RB
10
11.4K
Bermula pada suatu hari di tahun 1628, Bupati Tegal saat itu, Kyai Rangga mendapat tugas dari Sultan Agung untuk menyampaikan surat kepada Penguasa Batavia JP.Coen. Perjalanan ke Batavia menjadi awal pertemuan Kyai Rangga dengan Jampang, Untung Suropati, Sakerah, Sarip Tambakoso, bahkan dengan Badra Mandrawata atau si buta dari gua hantu. Di tengah jalan, di tempat yang jauh dari keramaian, rombongan Kyai Rangga bertemu dengan pasukan VOC dan pasukan mayat hidup, sehingga terjadi pertempuran yang hebat, tanpa pemenang. Ternyata rombongan pasukan VOC itu menyimpan harta karun di sebuah gua. Kyai Rangga yang mengetahu hal itu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan tugasnya mengirim surat ke Batavia, dengan pikiran akan kembali setelah tugasnya selesai.
Penemuan batu kuno di lereng Gunung Salak mengubah hidup Arjuna Wisangjati, arkeolog muda idealis. Suara misterius dari artefak itu membangkitkan ingatan masa lalu yang bukan miliknya—membuka jalan menuju dunia tersembunyi antara manusia dan roh.
Arjuna terpilih sebagai keturunan terakhir Sapta Raksa Rasa, penjaga keseimbangan antara Sekala dan Niskala.
Tapi kebangkitannya memicu perang antara roh leluhur dan manusia modern yang ingin menaklukkan rasa.
Di ujung perjalanan, Arjuna belajar bahw dia kekuatan sejati bukan pada kuasa, tapi pada kesadaran. “Sangkan Paraning Rasa teu meunang pareum.”
(Asal dan tujuan rasa tak boleh padam.)
Tubuh yang ringkih dan struktur tulang yang tidak memungkin untuk mampu menyerap ilmu Kanuragan membuat Jagat sering dihina bahkan dianiya oleh beberapa murid di padepokan Pandan Alas.
Hingga hari naas dirasakan oleh Jagat ketika dia harus bertemu dengan penguasa padepokan, Abimana. Hinaan dan penganiayaan terjadi, Jagat tidak mampu melawan.
Jagat terlempar, tubuhnya meluncur ke dasar jurang yang begitu dalam, tetapi keanehan terjadi. Tiba-tiba cahaya tipis memendar dari tubuhnya.
Apa yang terjadi dengan Jagat dan cahaya apa yang memendar dari tubuhnya?
Anjasmara, seorang putri patih kerajaan Majapahit, jatuh cinta pada seorang pemuda biasa. Damarwulan namanya, seorang lenjaga kuda di kediaman Lohgender. pepatah mengatakan bahwa cinta itu buta, atas nama cinta dia Anjasmara memutuskan untuk menikah dengan pemuda itu.
Namun keberuntungan tidak berpihak padanya. Damarwulan yang amat dicintainya bukanlah pria setia. Pernikahan yang awalnya sangat ia dambakan, berubah menjadi mimpi buruk.
Ia memohon pada dewa agar memberinya kesempatan sekali lagi. Dewa yang maha tinggi itu bersedia mengabulkan permohonannya. Namun dia tidak mendapatkan kehidupn keduanya begitu saja, kehidupam keduanya, dijalani oleh Asmara, reinkarnasi dari Anjasmara di dunia modern.
Mampukah Asmara memperbaiki keadaan dan mendapat akhir yang bahagia? bisakah dia kembali ke kehidupannya yang dahulu?
JEJAKA. Anak seorang dewa yang terlahir di muka bumi. Kelahirannya diiringi amukan badai petir yang maha dahsyat. Terlahir bersama seekor Naga Emas yang kemudian menitis dan menyatu kedalam raganya hingga akhirnya menjadi rajah naga emas melingkar di lengan kirinya. Lengan yang akan memiliki kekuatan Kuasa Dewa ‘Tinju Penggetar Bumi’. Dan memiliki senjata ajaib yang bernama 10 Gelang Dewa, warisan sang ayah.
Jejaka memiliki takdir yang akan menjadi ujian bagi dirinya untuk naik kelangit dan menjadi seorang dewa. Jika langit sudah berkehendak maka manusia hanya mampu menjalaninya.
Mampukah Jejaka memenuhi takdirnya untuk bisa naik ke langit dan menjadi seorang Dewa ?
“Aji! Apa tujuan akhirmu di Padepokan ini,” tanya Rimpang kepada Ajiseka saat mereka sedang beristirahat.
“Tidak ada, aku hanya ingin kuat dan membantu Romo menjaga kehidupan di wilayah Punden. Namun, aku berharap dapat membantu mengurangi kekejian di muka bumi ini, terlebih banyak siluman yang semakin merajalela dengan tingkat kekejian yang di luar nalar,” Jawab polos Ajiseka.
“Ah! Kau ingin jadi pelindung rupanya. Ambillah jalur Naga, agar sesuai dengan niatmu, Ajiseka. Romoku pernah berucap jika Naga adalah pelindung yang kuat,” timpal Condro Kumolo.
“Iya kah? Pasti akan sangat berat. Sudahlah, tidak perlu terlalu jauh berangan-angan. Aku sudah melihat banyak kematian, dan aku harus segera membantu Romoku menyelesaikannya.”
Mampukah Ajiseka menuntaskan tujuannya?
Apakah jalur naga jadi pilihan Ajiseka?
Kota Jogja itu kayak gudangnya kreativitas, dan konten yang sering muncul bener-bener variatif. Banyak banget konten kuliner, dari street food kayak 'angkrung' sampe cafe aesthetic yang instagramable. Ada juga konten travelling yang eksplor tempat-tempat hidden gem macam 'Bukit Bintang' atau kaliadem. Yang seru, konten budaya juga nggak ketinggalan—mulai dari wayang kulit, batik, sampai festival-festival unik seperti 'Jogja Night Carnival'.
Selain itu, konten seni jalanan dan musik indie sering banget diangkat, apalagi di daerah Malioboro atau kampus-kampus. Banyak musisi lokal yang share perform mereka atau even kecil-kecilan. Buat yang suka vibe nostalgic, konten tentang sejarah Jogja atau spot-spot vintage juga selalu menarik buat ditonton.
Aku baru saja ngecek channel Ajakal Jogja di YouTube, dan ternyata mereka punya sekitar 500 ribu subscriber! Angka yang cukup impressive untuk konten lokal yang fokus pada budaya dan kehidupan sehari-hari di Jogja. Konten mereka selalu authentic, dari street food sampai tempat hidden gem yang bikin pengen langsung booking tiket ke Jogja.
Yang bikin menarik, engagement di channel mereka tinggi banget. Komentar-komentarnya aktif, dan kayaknya komunitas penonton mereka solid. Ini bukti bahwa konten lokal dengan sentuhan personal bisa bersaing di platform global seperti YouTube.
Jakal Jogja adalah komunitas kreatif yang cukup terkenal di Yogyakarta, terutama di kalangan anak muda. Mereka dikenal lewat konten-konten humor, vlog, dan kolaborasi dengan kreator lain. Anggotanya termasuk Reza Oktovian (yang juga dikenal sebagai 'Reza Arap'), Gerald 'Gerald' Simanjuntak, dan beberapa figur lainnya yang aktif di media sosial. Mereka sering membuat konten bersama, tapi detail biodata lengkap seperti tanggal lahir atau latar belakang pendidikan jarang dibahas secara publik.
Yang menarik, gaya konten mereka sangat lokal tapi tetap relatable buat penonton dari berbagai daerah. Mereka suka eksplorasi konten absurd, parodi, atau bahkan diskusi santai tentang isu sosial. Kalau mau tahu lebih banyak, cek aja channel YouTube atau Instagram mereka—kadang mereka juga ngobrolin kehidupan pribadi di sana.
Batik Jogja itu punya cerita panjang yang bikin aku selalu terkagum-kagum. Konon, motif batik di sini mulai berkembang pesat sejak era Kerajaan Mataram Islam abad ke-17. Yang unik, banyak motifnya terinspirasi dari alam sekitar dan filosofi Jawa - seperti 'Parang' yang melambangkan kekuatan atau 'Kawung' simbol kesempurnaan.
Dulu, batik Jogja cuma boleh dipakai keluarga kerajaan lho! Warna dominannya putih dan coklat soga karena terbatasnya bahan pewarna alami. Tapi justru itu yang bikin batik Jogja beda - sederhana tapi dalam maknanya. Aku suka gimana masyarakat Jogja mempertahankan tradisi membatik sampai sekarang, meski sudah banyak modifikasi.