Adegan klimaks di stasiun itu syutingnya seru banget katanya – tim produksi harus dapetin izin khusus buat rekam di Stasiun Gambir tengah malem. Beberapa spot lain yang keliatan: rooftop sebuah hotel di Kuningan buat scene confrontation, terus deretan ruko di Kemang buat sequence montage. Yang menarik, beberapa interior shot malah dibuat di studio Jakarta Barat dengan set design detail banget.
Dari credits filmnya keliatan kalo 'Setelah Semuanya Pergi' itu nggak cuma syuting di satu kota. Beberapa establishing shot malah diambil di Bali, terutama pantai-pantai yang sepi buat scene introspective si tokoh utama. Yang lucu, ada satu scene pasar tradisional yang ternyata syutingnya di Pasar Mayestik Jakarta tapi dikemas sedemikian rupa sampai looks like kota kecil. Cinematographer-nya emang jago banget mixing urban-rural vibes.
Gue baru-baru ini nemuin thread forum yang bahas detail lokasi syuting 'Setelah Semuanya Pergi', dan ternyata banyak spot hidden gem yang dipake! Yang paling sering muncul itu apartemen kuning di SCBD buat scene-flashback, terus ada juga café kecil di Pasar Santa yang jadi latar adegan putusnya. Katanya sih sutradara sengaja pilih tempat-tempat yang visually striking tapi tetap relatable buat anak muda urban.
Penasaran banget sama lokasi syuting 'Setelah Semuanya Pergi'? Awalnya gw kira film ini diambil di Jakarta doang, tapi ternyata lebih kompleks dari itu. Beberapa adegan outdoor yang iconic itu difilmkan di Bandung, khususnya sekitar Dago dan Lembang yang suasananya pas banget buat nuansa melankolis filmnya.
Yang bikin surprise, beberapa scene malah shot di Yogyakarta – liatin aja adegan kereta apinya yang estetik banget itu di Stasiun Tugu. Tim produksinya pinter banget memadukan urban vibes Jakarta dengan ketenangan Jawa buat bikin atmosfer ceritanya lebih 'bernafas'.
2026-07-16 00:20:10
2
すべての回答を見る
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
関連書籍
Biarkan Aku Pergi!
Selatan Dangkal
9.7
6.2M
[Setelah secara tidak sengaja bermain-main dengan sang legenda, dia dengan putus asa meminta bantuan ke Internet.] Setelah dikhianati oleh seorang mantan pacar bajingan dan kakak perempuannya, Catherine bersumpah akan menjadi bibi yang tidak tahu malu bagi mereka! Oleh karena itu, dia mengambil keuntungan pada paman mantan pacarnya. Dia tidak menyadari ternyata sang Paman itu lebih kaya dan lebih tampan dibanding mantan pacarnya. Sejak saat itu, dia menjadi istri yang romantis untuk paman mantan pacarnya dan selalu menggodanya. Meskipun pria itu akan memberinya sikap dingin, dia tidak keberatan selama dia bisa mempertahankan identitasnya sebagai bibi dari sang mantan pacar. Suatu hari, Catherine tiba-tiba menyadari bahwa dia menggoda orang yang salah! Pria yang selama ini dia rayu habis-habisan ternyata bukan paman si bajingan itu! Catherine sangat marah.”Aku sudah selesai. Aku ingin bercerai!” Shaun suaminya kehilangan kata-kata. Betapa tidak bertanggung jawabnya dia! Jika dia ingin bercerai, maka itu hanya akan menjadi mimpinya saja.
Nurma adalah istri kedua yang baik, justru kehadirannya sangat diinginkan oleh istri pertama, Giska, 27 tahun, wanita yang bisu dan lumpuh semenjak mengalami kecelakaan 3 tahun silam.
Giska menguak pengkhianatan suaminya pada Nurma. Bagaimana ceritanya kalau istri pertama dan istri kedua bersatu untuk menghancurkan suami nakal mereka?
Maharani melepas Fandy karena satu hal dan memilih menerima lamaran lelaki yang tak dicintainya. Akan tetapi, setelah menikah Rani mendapati kenyataan bahwa Fandy tidak jadi menikahi Laila karena satu dan lain hal.
Maharani yang terlanjur menikah dengan Lana merasa dilema. Satu sisi, Lana bertanggung jawab atas dirinya dan disisi lain ada Fandy yang menjadi pemilik hatinya. Sikap Lana membuat Rani merenung dan akhirnya memilih bertahan di sisi Lana.
Namun, kehadiran Renata, wanita dari masa lalu Lana, membuat hidup Rani berantakan. Rani diusir oleh Lana. Ia pergi dengan kondisi yang sedang tidak baik-baik saja. Simak kisahnya..
Anita banyak menghabiskan waktunya di rumah singgah demi kesembuhan anaknya. Hingga akhirnya ia mengetahui suaminya telah menikah lagi.
Ia berusaha mengabaikan perasaannya yang hancur dan memperlihatkan baik-baik supaya tidak mempengaruhi kesehatan anaknya.
Sayangnya, sang anak akhirnya mengetahui ayah yang ia rindukan memiliki perempuan lain, hingga berujung pada kondisi sang anak yang kritis.
Apakah Anita akan mempertaruhkan rumah tangga setelah kondisi anaknya semakin buruk atau memilih mundur dan mengabdikan diri pada rumah singgah?
Di sisi lain, ada Bayu, pemilik rumah singgah yang selalu mendukungnya. Dan Abbas, seorang ayah penyintas kanker yang juga menyukainya, membuat keadaan semakin rumit.
Kepada siapakah Anita akhirnya mengabdikan dirinya? Kepada laki-laki yang dicintai putrinya, pemilik rumah singgah atau seorang ayah penyintas kanker?
Jangan lupa follow dan subcribe untuk info update selanjutnya. Terima kasih.
Apa jadinya jika adik ipar adalah mantan kekasih? Itulah yang dialami Natalie Mckent, sulung dari dua bersaudara Mckent yang terbuang karena sebuah perjodohan yang ditolaknya 6 tahun silam hingga Natalie kabur dari kota kelahirannya Chicago dan memutuskan hidup mandiri di New York City.
Konflik dimulai ketika sang adik, Lindsay Mckent yang memiliki kelainan jantung sejak lahir akan menikah dengan seorang pengusaha muda dan kaya yaitu Christian Raven yang tak lain adalah mantan kekasih dari Natalie yang telah diputuskan secara sepihak oleh Natalie 6 tahun yang lalu.
Christian Raven menggunakan pernikahannya dengan Lindsay sebagai usaha untuk pembalasan dendam atas sakit hati dan penolakan di masa lalu dengan keluarga Mckent dan Chris mengancam agar Natalie mau menuruti keinginannya dengan menjadikan Natalie budak sebelum hari pernikahannya bersama Lindsay Mckent terjadi.
Apakah yang terjadi selanjutnya dan masih adakah cinta di hati Chris dan Natalie? Dan bagaimana nasib Lindsay Mckent jika ia tahu pernikahannya terjadi karena sebuah usaha pembalasan dendam bukan cinta?
AREA DEWASA!!
Di istana yang penuh intrik, ada seorang selir yang seolah tak pernah ada. Kaisar tak pernah memanggilnya, bahkan seolah melupakan namanya. Namun, di balik pengabaian itu tersimpan rahasia kelam. Apakah ia benar-benar terlupakan… atau justru sengaja disembunyikan?
Menggali latar belakang lokasi syuting 'Semua Terjadi Begitu Saja' itu seperti membuka puzzle nostalgia. Klip ini diambil di beberapa spot iconic Jakarta, terutama di kawasan Menteng yang masih mempertahankan arsitektur kolonial. Adegan jalan-jalan di taman dengan pohon beringin raksasa itu syutingnya di Taman Menteng, sementara bagian dalam ruangan difilmkan di sebuah rumah tua yang sudah dimodifikasi di sekitar Jalan Teuku Umar. Nuansa vintage yang kuat dipadukan dengan pencahayaan natural bikin suasana terasa sangat intimate dan personal.
Yang menarik, beberapa adegan jalanan dengan lampu neon sebenarnya diambil di daerah Kemang, tapi diedit sedemikian rupa untuk terlihat seperti bagian dari urban Menteng. Tim produksi memang jeli memilih lokasi yang bisa membangun atmosfer 'kota tua tapi modern'. Kalau jeli, penonton bisa spot beberapa landmark seperti gedung Art Deco di background beberapa shot.
Film 'Setelah Segalanya Hancur' punya nuansa urban yang kental banget, dan itu nggak lepas dari lokasi syutingnya yang mostly di Jakarta. Beberapa scene iconic diambil di sekitaran SCBD yang futuristik, terus ada juga shot malam hari di kawasan Kemang yang aesthetic banget. Yang bikin menarik, ada beberapa lokasi 'tersembunyi' seperti gedung-gedung art deco di Menteng yang dipakai buat adegan flashback.
Yang paling bikin penasaran itu scene klimaks di tepi tol dalam kota—ternyata syutingnya sempat bikin heboh warga karena ngeblokir akses sementara. Tapi hasilnya worth it sih, cinematography-nya bener-bener nangkep essence Jakarta sebagai kota yang paradox; megah tapi rapuh.
Ada sesuatu yang magis tentang lokasi syuting 'Memilih Mertuaku' yang bikin aku selalu penasaran. Setelah ngubek-ngubek forum dan baca beberapa wawancara kru, ternyata sebagian besar adegan diambil di daerah Bogor dan sekitarnya. Pemandangan hijau perbukitan yang jadi latar belakang rumah keluarga itu adalah Taman Wisata Matahari di Puncak. Nuansanya adem banget, cocok banget sama vibe keluarga harmonis tapi penuh drama dalam ceritanya. Beberapa adegan pasar tradisional difilmkan di Pasar Sukahaji, Bogor, yang masih menjaga suasana autentik. Aku suka gimana produksinya pilih lokasi yang nggak cuma estetis tapi juga bawa 'jiwa' ke cerita.
Yang bikin lebih seru, ternyata ada juga beberapa scene yang diambil di Jakarta, khususnya di daerah Menteng buat adegan-adegan kantor yang lebih metropolitan. Kontras antara suasana pedesaan dan perkotaan ini bener-bener nangkep konflik budaya dalam cerita. Aku bahkan sempet nyari spot persisnya di Google Street View buat liat langsung—ternyata rumah megah ala kadarnya itu memang dibuat khusus di tengah kebun teh!
Baru saja aku ngecek ulang info tentang 'Setelah Semuanya Pergi' karena ada temen yang nanya persis kayak gini. Sejauh yang aku tahu, belum ada pengumuman resmi tentang sekuelnya. Novel ini emang bikin penasaran banget dengan endingnya yang terbuka, jadi wajar aja banyak yang nunggu kelanjutannya. Tapi kayaknya penulis masih fokus ke proyek lain dulu. Aku sendiri sempet kepo dan cari tahu lewat forum penggemar, tapi belum nemu kabar konkret. Mungkin kita bisa berharap dalam beberapa tahun ke depan ada kejutan?
Kalau dari sisi pasar, sebenarnya potensi untuk sekuel besar banget—apalagi dengan basis fans yang loyal. Tapi ya gitu, kreator kadang pengin eksplor cerita baru dulu sebelum kembali ke dunia yang udah dibangun.
Malam ini baru aja ngebahas 'Setelah Semuanya Pergi' di grup WA pecinta film lokal. Banyak yang bilang film ini berhasil bikin emosi campur aduk—adegan perpisahan yang slow-motion pakai lagu melancholic beneran nyesek di dada. Tapi ada juga yang kritik pacing-nya agak lambat di pertengahan, kayak kurang bensin gitu. Yang unik, suara penonton usia 20-an lebih apresiatif soal visual cinematography-nya, sementara generasi lebih tua justru terkesan sama dialog-dialog filosofisnya yang sederhana tapi dalem.
Yang pasti, hampir semua sepakat ending-nya nggak cliché dan meninggalkan ruang buat interpretasi sendiri. Gue pribadi suka banget sama cara film ini ngangkat tema 'kehilangan' tanpa jadi overly dramatic. Beneran rare nemu film lokal yang bisa subtle tapi impactful kayak gini.
Kalau ngomongin lokasi syuting 'Tolong! Sang Penjahat', gw inget banget beberapa spot iconic yang dipake. Serial ini banyak syuting di sekitaran Jakarta, terutama daerah Kuningan dan SCBD yang jadi latar belakang adegan-adegan kantor megah si antagonis. Beberapa scene outdoor juga diambil di PIK yang suasananya pas banget buat vibe urban modern.
Yang bikin menarik, beberapa adegan konflik justru diambil di daerah Bogor lho! Ada satu scene chase yang syutingnya di sekitar Kebun Raya Bogor - pemandangannya kontras banget sama suasana kota yang biasanya muncul. Tim produksinya pinter banget memanfaatkan lokasi buat bikin cerita lebih hidup.