Plot tentang anak yang tidak dianggap atau diabaikan sebenarnya cukup sering muncul dalam sinetron Indonesia, dan salah satu yang paling terkenal adalah 'Anak Jalanan'. Di sinetron ini, ada karakter bernama Boy yang sering merasa tidak dianggap oleh ayahnya karena konflik keluarga dan kesalahpahaman yang terus berulang. Boy akhirnya memilih untuk hidup di jalanan, mencari identitasnya sendiri, dan melalui berbagai drama emosional yang bikin hati miris. Tema seperti ini selalu berhasil bikin penonton terbawa perasaan karena banyak yang bisa relate, entah dari pengalaman pribadi atau orang di sekitar.
Selain itu, ada juga sinetron 'Cinta Fitri' yang menampilkan tokoh Fitri sebagai anak yang sering diabaikan oleh keluarga tirinya setelah ibunya meninggal. Fitri harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan, meskipun dia selalu diperlakukan dengan tidak adil. Konflik seperti ini sering dipakai dalam sinetron karena dramanya tinggi dan bisa bikin penonton emosi, terutama ketika akhirnya si anak berhasil membuktikan diri mereka. Rasanya puas banget ketika karakter yang awalnya diremehkan akhirnya menunjukkan bahwa mereka layak dapat pengakuan.
Kalau mau yang lebih baru, sinetron 'Orang Ketiga' juga menyentuh tema ini dengan cukup dalam. Di sini, ada anak yang merasa terabaikan karena orang tuanya sibuk dengan konflik rumah tangga mereka sendiri. Anak jadi korban dari pertengkaran orang tua, dan itu bikin banyak penonton tersentuh karena realita seperti ini memang terjadi di kehidupan nyata. Sinetron-sinetron begini biasanya sukses bikin orang mikir ulang tentang bagaimana memperlakukan anak dalam keluarga.
2026-08-08 11:34:50
1
すべての回答を見る
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
関連書籍
Anak yang Tak Diinginkan
Ricny
10
24.9K
Hanya karena saat mengandung Dewi ditinggal kabur oleh suaminya, wanita itu sangat membenci anaknya. Zehra kerap diperlakukan kasar dan tak berperikemanusiaan.
Sampai satu hari Zehra bertemu dengan keluarga baru ayahnya yang bisa memberinya kasih sayang utuh, barulah Dewi merasakan penyesalan.
Akankah Zehra mau kembali pada Dewi?
Aira gadis cantik yang memiliki trauma berat akibat perlakuan sang Ibu. Kehadirannya tidak pernah diinginkan oleh Dewi, sang Ibu, hanya Aina sang Kakak yang disayangi di keluarganya. Bahkan dengan tega Dewi menjodohkan paksa Aira dengan lelaki yang tidak dikenalnya demi kemajuan perusahaan Arman, Ayah Aira. Setelah menikah pun, Aira kembali mendapat penolakan atas kehadirannya. Dapatkah Aira bertahan untuk tetap kuat? Atau dia malah menyerah dengan keadaan?
"Aku benci anak itu, karena dia telah menghancurkan impianku!"
Rita sangat membenci Kayla, gadis cilik yang adalah anak kandungnya. Kenapa? karena Rita menganggap Kayla lahir karena kesalahan Richard, lelaki yang meninggalkannya setelah menghamili saat Rita kelas dua SMA.
Semua salah Kayla! Ayah Rita meninggal salah Kayla. Rita tidak lulus SMA juga salah Kayla! dan Rita sangat ingin membuang Kayla sejauh jauhnya dari hidupnya.
Bagaimana akhir kisah ini, apakah Rita benar-benar melakukan niatnya untuk membuang Kayla?
Tidak selamanya menjadi Istri Simpanan itu menyenangkan, terlebih saat mengetahui bahwa anak yang telah diakui selama ini ternyata bukan anak kandungnya.
Bagaimana Shella akan mempertahankan rumah tangganya? Apa lagi saat Hans tiba-tiba datang kembali ke kehidupannya.
Ketika cinta mampu merubah segalanya, melumpuhkan logika. Membuat yang merasakannya merasa di atas awan tanpa berpikir suatu saat akan terjatuh.
Seorang pemuda kesayangan orang tuanya, selalu menurut apapun perintahnya. menjadi pembangkang karena cinta. Hasna ialah wanita mampu merebut hati pemuda itu, Fandi. Senyum manisnya dengan lesung dipipinya meluluhkan pertahanan Fandi. Hasna yang bukan dari level mereka, apalagi seorang janda tentu bertentangan derajat keluarga besar mereka.
Demi cinta, mereka menyatukannya dengan pernikahan siri tanpa diketahui oleh orang tua. Menjalin hubungan secara diam-diam bukanlah hal yang mudah.
Sampai kapan mereka dapat menyembunyikannya? Dengan semua kerumitan ini mampukah Hasna bertahan sebagai menantu yang tidak pernah diinginkan?
Rindu, wanita muda yang harus membesarkan anak seorang diri karena kesalahan yang dilakukannya. Laki-laki yang menanamkan benih di rahimnya menolak bertanggungjawab karena tekanan dari keluarganya. Rindu pun harus diusir dari rumahnya hingga sempat hidup terlunta-lunta.
Bertahun kemudian, Rindu berhasil membesarkan anaknya dengan penuh cinta. Wanita yang dipaksa kuat oleh keadaan itu menjelma menjadi wanita sukses yang selalu menolak hadirnya laki-laki yang hendak mendekati dirinya.
Satya, laki-laki yang selalu berada di sisinya, memberinya kekuatan saat trauma masa lalu datang menghantui Rindu, tak henti memberi perhatian pada wanita itu dan anaknya. Laki-laki itu mengabaikan penolakan yang berulang kali Rindu tegaskan padanya.
Perjuangan Rindu makin berat saat Giandra, laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya datang dengan cara yang mengejutkan. Laki-laki itu mendapati kenyataan yang begitu mencengangkan saat melihat wajah anak Rindu yang begitu mirip dengannya.
Bagaimana Rindu akhirnya menemukan cinta sejatinya?
Ada satu pola yang sering banget muncul di sinetron Indonesia dan bikin gemas setiap kali nonton: sosok anak atau anggota keluarga yang berkorban mati-matian tapi malah dikhianatin sama orang terdekatnya. Ambil contoh 'Ikatan Cinta', di mana Aldebaran (yang katanya antagonis) sebenarnya punya niat tulus ngurusin keluarga besarnya, tapi malah dibalas dengan kecurigaan dan pengkhianatan. Ironisnya, justru karakter yang paling sering berkorban—rela kerja keras, ngurusin orang sakit, bahkan sampe ninggalin cinta sejati—akhirnya dianggap remeh sama keluarga sendiri.
Yang bikin plot ini makin menusuk itu detail-detail kecilnya. Misalnya adegan anak perempuan yang jual perhiasan buat biayain operasi ibunya, eh malah dituduh nyuri sama saudaranya sendiri. Atau adegan bapak-bapak yang rela kerja tiga shift buat bayarin kuliah anak, tapi si anak malah malu ngakuin bapaknya di kampus. Drama-drama kayak gini sukses bikin penonton emosi karena nyentuh persoalan nyata—rasa sakit hati ketika pengorbanan kita dianggap sepele sama orang yang paling kita sayang.
Tapi uniknya, justru karena konflik ini terlalu sering dipake, kadang penyelesaiannya jadi klise. Biasanya di episode-final bakal ada adegan 'penyesalan' keluarga yang sadar setelah si pengorban ini kecelakaan atau sakit parah. Padahal di kehidupan nyata, nggak semua pengorbanan yang nggak dihargai endingnya bisa dibalikin dengan air mata dan pelukan.
Ada satu aktor yang langsung terlintas di pikiran ketika membicarakan peran anak yang terabaikan atau tidak dianggap—Jacob Tremblay. Ingat penampilannya di 'Room'? Dia memainkan Jack, anak berusia 5 tahun yang terkurung dalam ruangan kecil bersama ibunya, dan cara dia menggambarkan kepolosan sekaligus ketahanan mentalnya bikin hati remuk redam. Yang bikin menarik, Tremblay sering dipilih untuk peran-peran emosional seperti ini karena kemampuan alaminya menyampaikan kompleksitas anak-anak yang sering diabaikan oleh dunia dewasa di sekitarnya.
Selain Tremblay, ada juga Jaeden Martell yang terkenal lewat 'It' dan 'Knives Out'. Karakternya sering jadi yang paling kecil atau paling tidak diperhitungkan, tapi justru itu yang bikin penonton simpatik. Di 'Knives Out', dia memerankan Jacob Thrombey, cucu yang dianggap cuma 'anak kecil' oleh keluarganya sendiri, padahal dialah yang paling jeli melihat kejanggalan dalam cerita. Martell punya aura unik yang bikin perannya selalu berkesan meskipun bukan yang utama.
Jangan lupa dengan Brooklynn Prince yang bikin heboh lewat 'The Florida Project'. Sebagai Moonee, dia menggambarkan anak yang tumbuh di lingkungan keras tapi tetap punya imajinasi liar. Film itu menyoroti bagaimana anak-anak seperti dia sering tidak dilihat oleh sistem, dan Prince memerankannya dengan begitu natural sampai rasanya seperti dokumenter. Kemampuannya membawa emosi tanpa berlebihan bikin perannya susah dilupakan.
Kalau mau lihat contoh dari Asia, ada Kim Soo-an yang bermain di 'Train to Busan'. Sebagai Su-an, dia jadi representasi anak-anak yang harus berjuang di situasi chaos tanpa benar-benar dimengerti oleh orang dewasa. Ada adegan where she cries for her father yang bikin penonton ikut hancur—itu menunjukkan betapa baiknya dia mengekspresikan perasaan terisolasi. Aktor cilik seperti ini punya bakat langka untuk membuat kita merasakan apa yang mereka rasakan tanpa banyak dialog.
Terakhir, mungkin kurang dikenal tapi sangat impactful: Sunny Pawar di 'Lion'. Dia memainkan Saroo kecil yang tersesat jauh dari rumah, dan ekspresi wajahnya yang bingung tapi penuh harap bikin kita semua ingin masuk ke layar untuk membantunya. Perannya menggambarkan betapa mudahnya anak-anak seperti Saroo hilang dalam sistem, dan Pawar membawanya dengan intensitas yang jarang terlihat di aktor seusianya. Kayaknya ada pola di sini—aktor yang sering main peran 'terlupakan' justru yang paling memorable.
Ada sesuatu yang menarik ketika kita mencermati bagaimana karakter istri sering kali hanya menjadi latar belakang dalam sinetron. Padahal, dalam kehidupan nyata, peran istri bisa sangat kompleks dan penuh warna. Salah satu alasan utama mungkin karena penulis naskah cenderung fokus pada konflik utama yang melibatkan tokoh protagonis atau antagonis, sementara istri sering dianggap sebagai 'pendukung' saja.
Di sisi lain, sinetron juga kerap mengikuti formula yang sudah terbukti menarik rating, seperti drama percintaan muda atau konflik keluarga besar. Karakter istri yang terlalu menonjol justru bisa mengalihkan perhatian dari alur cerita yang sudah dirancang. Tapi, menurutku, ini adalah peluang yang terlewatkan. Bayangkan jika karakter istri diberi kedalaman yang sama, bisa jadi ceritanya justru lebih kaya dan relatable bagi penonton yang sudah menikah.
Pernah nggak sih perhatiin karakter-karakter minor di film Disney yang kayaknya cuma jadi 'latar belakang' aja? Misalnya adik-adiknya Moana yang nggak pernah dikasih dialog, atau teman-teman sekolah Mulan yang cuma muncul pas nyanyian. Lucu aja gitu, Disney bikin dunia yang super detail tapi beberapa karakter malah kayak properti hidup. Padahal kan mereka bisa jadi punya cerita seru sendiri. Aku malah suka ngayal-ngayal gimana kehidupan mereka di luar frame. Kayak... anak-anak desa di 'Encanto' yang nggak dapet keajaiban, pasti ada konflik menarik dari sudut pandang mereka!
Dulu waktu kecil malah lebih suka nge-rooting untuk karakter sampingan yang nggak sempurna. Mereka terasa lebih manusiawi dibanding protagonist yang selalu flawless. Sekarang nonton ulang, aku baru sadar betapa jarangnya Disney kasih panggung untuk anak-anak 'biasa' yang nggak punya bakat khusus atau garis keturunan kerajaan.