Kalau ngomongin seni kubisme di Indonesia, nama Affandi mungkin nggak langsung terlintas karena lebih dikenal dengan ekspresionismenya. Tapi beberapa sketsa awalnya justru menunjukkan eksperimen dengan geometri kubis! Aku suka cara dia memecah bentuk-bentuk alam seperti pohon atau wajah menjadi bidang-bidimensional, tapi tetap memberi jiwa lewat goresan spontan. Misalnya di 'Penari Bali' versi awal - lihat aja bagaimana siluet tubuhnya dipecah jadi segitiga dan trapesium, tapi gerakannya tetap hidup.
2026-06-09 07:24:58
6
Madison
Pemandu Novel
Staf
Pernah perhatikan mural di daerah Kota Tua? Beberapa tahun lalu ada seniman jalanan (sayangnya lupa namanya) yang bikin instalasi kubisme digital dengan tema wayang. Figura wayangnya dirombak jadi bentuk polygonal, tapi tetap bisa dikenali karakteristiknya. Ini bukti kubisme nggak cuma ada di lukisan klasik - medium kontemporer pun bisa jadi wadah eksperimen gaya ini. Aku selalu senang liat seniman lokal yang berani reinterpretasi aliran besar dengan konteks lokal.
2026-06-10 01:51:21
3
Henry
Pemandu
Editor
Di Galeri Nasional, ada satu lukisan menarik berjudul 'Ibu dan Anak' karya Sudarso. Ini contoh jarang kubisme ala Indonesia tahun 60-an. Yang bikin special: penggunaan warna earth tone alami palet Nusantara dipadu dengan struktur angular khas Picasso. Awalnya kupikir ini cuma pengaruh Barat biasa, tapi setelah lihat detailnya, ada pola kain tradisional yang sengaja 'dipecah' jadi bentuk kubis. Keren banget konsepnya - dekonstruksi budaya pakai bahasa visual avant-garde.
2026-06-12 03:17:46
10
Liam
Kawan Baca
Polisi
Barli Sasmitawinata adalah salah satu seniman Indonesia yang karyanya sering dikaitkan dengan pengaruh kubisme. Dia menggabungkan elemen tradisional dengan gaya modern, menciptakan visual yang unik dan penuh karakter. Karya-karyanya seperti 'Potret Diri' menunjukkan deformasi bentuk khas kubisme, tapi tetap mempertahankan nuansa lokal yang kuat.
Aku pernah melihat beberapa karyanya di pameran dan terkesan bagaimana dia bermain dengan perspektif fragmented, tapi tetap bisa menyampaikan emosi yang dalam. Karya-karyanya seperti jembatan antara seni Barat dan identitas Indonesia, sesuatu yang jarang ditemukan di era itu.
2026-06-13 10:46:32
4
すべての回答を見る
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
関連書籍
Aku seniman tattoo
rheza arcadia
0
2.7K
Kisah seseorang yang tidak bisa menggambar dan dituntut keluarga untuk menjadi seorang pegawai negri, tapi dia memilih terjun ke dunia tato yang saat itu masih tabu dengan modal nekad dan keyakinan, padahal dia awam dengan dunia tato dan gambar. Sempat diusir dan dikucilkan tapi dengan usahanya dan gigih, selalu rajin belajar dan berlatih pada akhirnya dia bisa membuat namanya besar di dunia tattoo international dan bisa berkeliling dunia dengan karyanya dan membuat orang tuanya bangga
Tahun 1963, di desa Galogandang, tiga anak kecil berusia 12 tahun bersahabat. Kasim, Fikri, dan Khairul. Di antara mereka bertiga, Khairul merupakan anak toke beras dan paling kaya di kampung. Namun, orang tua Khairul Pak Anwar dan Buk Rosma melarang anaknya itu bergaul dengan orang miskin. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Khairul diam-diam tetap berteman dengan kedua anak tersebut.
Suatu hari, Kasim dan Fikri belum makan seharian. Mereka minta makanan ke Khairul. Khairul mengatakan ibunya baru saja merebus ubi jalar. Mungkin dia bisa memberi mereka ubi rebus tersebut. Kasim dan Fikri sangat gembira. Mereka bertiga lalu pergi ke rumah Khairul ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Khairul menyuruh teman-temannya itu menunggu di dekat kandang sapi, sementara dia pergi mengambilkan ubi tersebut.
Ketika Khairul pergi, Pak Anwar ternyata sedang menuju ke kandang sapi dan memeriksa kandang tersebut. Hal rutin yang biasa dia lakukan setiap malam. Kasim dan Fikri langsung takut dan bergegas bersembunyi di belakang kandang. Sampai akhirnya Pak Anwar pergi.
Saat Khairul kembali, dia berpapasan dengan Pak Anwar. Pak Anwar bertanya mau ke mana malam-malam, dan Khairul gugup sambil mengatakan kalau dia hendak membuang sampah. Pak Anwar pun curiga. Tanpa sepengetahuan Khairul, dia menguntit anaknya tersebut.
Khairul yang merasa sudah aman, segera memanggil kedua sahabatnya. Mereka pun keluar dan semangat hendak memakan ubi. Saat itulah Pak anwar muncul lalu memarahi anak-anak tersebut. Pak anwar tidak segan-segan menurunkan tangan kasar ke Kasim dan Fikri. Sampai-sampai Fikri muntah darah dan Kasim merasakan tulangnya seperti mau patah setelah dibanting ke tanah oleh lelaki dewasa itu.
Ketika kedua orang tua anak tersebut tahu apa yang menyebabkan anak mereka sakit, dendam dan kebencian pun menyeruak. Pak Abdul selaku ayah si Fikri dan Pak Uday sebagai ayah si Kasim mencari Pak Anwar untuk membuat perhitungan. Mereka menuntut keadilan untuk anak mereka.
***
Cover dibuat menggunakan AI dari canva.com
Cerita klasik seorang Kanaya yang mengagumi laki-laki penghuni mimpinya. Setiap di waktu luang ia melukiskan wajah laki-laki dalam mimpinya ke dalam kanvas. Ia berharap laki-laki itu akan menemuinya suatu hari, seperti yang ia impikan. Akan tetapi, bagaimana jadinya jika laki-laki yang selalu ia impikan ternyata perpaduan wajah dua orang yang berbeda di dunia nyata?!
Mungkin ini termasuk cerita yang absurd, tapi Kanaya, gadis itu benar-benar mengalaminya.
Ketika mitos dan kehidupan modern beriringan maka itulah yang dirasakan gadis muda bernama Dyah Ayu Sekarjati. Kehidupannya berubah drastis ketika dirinya meneliti sebuah situs cagar budaya membuatnya hampir gila.
Apa yang terjadi dalam hidupnya menabrak batas hukum yang dimiliki dunia modern. Mitos yang menjadi legenda berubah menjadi kenyataan. Kalimat yang selalu diingatnya adalah "Wijaya Kusuma Sang Penguasa Segalanya"
Ibuku adalah seorang seniman forensik yang paling andal di kantor polisi. Dia tegas, berintegritas, dan sangat membenci kejahatan.
Namun, ketika menerima telepon darurat dariku, dia malah menegurku dengan tegas, “Kamu jelas-jelas tahu ini hari ulang tahun adikmu yang baru mencapai usia dewasa, tapi kamu malah mau pakai trik kotor ini untuk merusak suasana! Kalau kamu benar-benar diculik, biar saja penculik itu membunuhmu!”
Dia yakin bahwa ini hanyalah lelucon dan menolak datang ke kantor polisi untuk membuat sketsa. Akhirnya, dia melewatkan kesempatan terbaik untuk menyelamatkanku dan aku disiksa hingga mati.
Setelah laporan tes DNA keluar, dia bergegas pergi ke tempat kejadian dengan langkah yang goyah. Berdasarkan tulang-tulangku, dia mulai menggambar sketsaku dengan tangan yang gemetar.
“Ini nggak mungkin adalah Janice! Aku pasti salah gambar!”
Namun, tidak peduli berapa kali dia menggambar, sketsa yang dihasilkannya menampilkan dengan jelas wajahku saat aku meninggal. Ibuku yang selalu membenciku akhirnya meneteskan air mata.
“Benar-benar … nikmat sekali! Kamu sangat tahu cara memperlakukan wanita .…”
Aku adalah seorang fotografer anatomi tubuh. Lewat lensa kamera, aku telah menangkap ribuan ekspresi wanita yang menggoda dan liar.
Wanita di dalam jepretanku, tidak peduli seperti apa mereka sebelumnya, akan menjelma menjadi model kelas satu yang luar biasa cantik.
Itu semua karena mereka adalah hasil "didikanku" sendiri.
Di dalam kamar yang temaram, seorang wanita berlutut telanjang di atas ranjang dengan napas yang memburu. Pipinya merona merah, tatapannya sayu kehilangan arah, sementara bokongnya yang sintal tetap menungging tinggi di bawah cengkeraman tanganku.
Pernah lihat lukisan yang seolah memecah realitas jadi bentuk geometris? Karya Pablo Picasso seperti 'Les Demoiselles d'Avignon' (1907) itu pionirnya! Lukisan ini ngejutin dunia seni karena wajah dan tubuh perempuan digambarin pake sudut tajam dan perspektif aneh. Gue selalu kepikiran gimana Picasso berani ngebreak aturan realisme begitu.
Lalu ada 'Guernica' (1937)-nya juga, yang lebih kompleks. Ini lukisan anti-perang penuh simbolisme kubisme. Yang keren, tiap fragmen ceritain penderitaan berbeda. Karya Braque kayak 'Violin and Candlestick' (1910) juga iconic banget, nunjukin gimana benda sehari-hari bisa di-dekonstruksi jadi bentuk abstrak.
Pernah ngebayangin gimana rasanya nyemplung ke dunia mimpi yang penuh dengan simbol absurd dan imajinasi liar? Kalo lo penasaran sama gaya surealisme ala Indonesia, ada beberapa tempat seru buat eksplorasi. Pertama, coba cek Instagram atau Behance seniman lokal macam Arya Pandjalu atau Febrian – mereka sering ngepost karya yang bikin otak berputar, dari objek-objek sehari-hari yang dirombak jadi absurd sampai visualisasi mimpi yang bikin merinding. Galeri seperti Art:1 di Jakarta juga kadang ngadain pameran tematik surealisme, tapi better cek website mereka dulu biar nggak nyasar.
Kalo lo lebih suka gali sejarah, buku 'Surrealism in Indonesian Art' edisi terbatas bisa jadi harta karun. Meskipun agak susah dicari, beberapa perpustakaan seni kayanya punya salinannya. Oh, jangan lupa festival seni jalanan kayak ARTJOG di Jogja! Tahun lalu ada instalasi surealis raksasa berbentuk kepala manusia terbelah yang dalemnya penuh dengan miniatur gedung-gedung – bikin ngiler banget buat difoto dari segala angle. Yang menarik, banyak seniman muda sekarang juga ngembangin surealisme digital, jadi lo bisa nemuin kolase foto surreal atau animasi pendek yang nggak biasa di platform seperti Vimeo atau malah TikTok.
Ada beberapa seniman legendaris yang karyanya sangat lekat dengan kebudayaan Indonesia, dan salah satu nama yang langsung terlintas di kepala adalah Raden Saleh. Pelukis ini ibarat 'rockstar'-nya dunia seni rupa Indonesia di era colonial. Karyanya seperti 'Penangkapan Pangeran Diponegoro' bukan cuma technically brilian, tapi juga mengandung narasi perlawanan yang dalam. Ia berhasil memadukan teknik realisme Eropa dengan semangat lokal yang membara.
Kalau mau bahas yang lebih kontemporer, Affandi dengan gaya ekspresionismenya yang khas itu seperti 'jembatan' antara tradisi dan modernitas. Lukisan 'Potret Diri dengan Topeng' itu rasanya seperti teriakan jiwa yang ditumpahkan di kanvas. Uniknya, dia sering melukis langsung dari tube cat tanpa kuas - seolah-olah jarinya sendiri adalah perpanjangan dari emosi yang ingin disampaikan.
Jangan lupa juga dengan Basuki Abdullah yang lukisan realismenya tentang kehidupan keraton dan budaya Jawa itu sampai membuat orang Eropa terkagum-kagum di masanya. Karya-karyanya seperti 'Pertempuran antara Gatotkaca dan Antasena' itu menunjukkan penguasaannya yang luar biasa dalam menggambarkan dinamika tubuh manusia dan nuansa budaya wayang.
Di era sekarang, seniman seperti Heri Dono membawa estetika tradisional ke ranah yang lebih avant-garde dengan memasukkan elemen wayang dan mitologi ke dalam instalasi kontemporer. Karyanya seperti 'Theater of the World' benar-benar membuktikan bahwa kebudayaan Indonesia bisa berdialog dengan bahasa seni global.
Ada sesuatu yang magis tentang menyederhanakan kompleksitas alam Indonesia lewat gaya kubisme. Bayangkan gunung-gunung Jawa yang megah dipecah menjadi bidang-bidang geometris datar, dengan gradasi warna merah-oranye saat matahari terbenam. Pohon kelapa bisa diwakili silinder-silinder ramping dengan daun seperti segitiga bergerigi. Contoh lain: komposisi wajik dan trapesium untuk menggambar petak sawah di Bali, ditambah sedikit sentuhan emas untuk menangkap cahaya matahari yang menyentuh pucuk padi.
Kubisme juga memungkinkan eksperimen warna tak biasa - coba padukan hijau lumut dengan biru elektrik untuk laut, atau gunakan ungu tua sebagai bayangan di bawah kanopi hutan tropis. Kuncinya adalah memilih elemen alam yang paling iconic, lalu memecahnya menjadi bentuk-bentuk dasar yang masih bisa dikenali. Untuk sentuhan akhir, tambahkan tekstur kasar seperti batik pada beberapa bidang untuk memberi nuansa lokal.
Lukisan surealisme di Indonesia punya daya tarik magis yang sulit dijelaskan. Salah satu nama yang langsung terlintas di kepala adalah Raden Saleh, meski karyanya lebih condong ke romantisme. Tapi kalau mau yang benar-benar nyeleneh, lihat karya Agus Djaya. Pelopor seni modern ini sering memadukan budaya lokal dengan imajinasi liar. Karya-karyanya tahun 1940-an seperti 'Dunia yang Hilang' benar-benar membius mata dengan simbolisme aneh bin ajaib.
Seniman kontemporer seperti Handiwirman Saputra juga layak disebut. Dia menciptakan objek-objek sehari-hari tapi dengan distorsi yang membuatmu merinding. Pernah lihat lukisan sepatunya yang meleleh seperti lilin? Itu surealisme dengan sentuhan lokal yang genius. Yang menarik, banyak seniman surealis Indonesia justru terinspirasi oleh mitologi dan dongeng nusantara, bukan mimpi Freudian ala Barat.