Suamiku Duda Bisu
Kanvas membuat setiap lukisan terasa nyata, layak dipajang, seolah punya napas sendiri.
Ia menyiapkan kanvas, cat, dan kuas.
Tak butuh waktu lama, garis-garis pertama mulai muncul. Tangannya bergerak luwes, tidak terburu-buru. Di rumah ini, ia tidak perlu bersaing dengan waktu atau hiruk pikuk seperti di atrium saat lomba dulu. Hanya ada suara kuas, napasnya sendiri, dan cahaya pagi yang masuk lewat jendela.
Hot Chapters