Ajip Rosidi

Grup WA Keluarga Suamiku
Grup WA Keluarga Suamiku
Najwa Anastasia. Perempuan yang sudah menjadi yatim piatu semenjak ia berusia 13 tahun, dan tinggal di panti asuhan. Setelah kedua orangtuanya meninggal. Najwa di buang oleh Om dan Tantenya, yang tega meninggalkan ia di sebuah panti asuhan pada malam hari. Setelah menikah dengan Beni. Najwa merasa kebahagiaan akan datang, tapi ternyata salah. Beni justru menggangtung kan urusan finansial pada Najwa. Keluarga Beni yang ikut mengusik, rumah tangganya. Hingga sang Ibu mertua menjodohkan Beni dengan wanita cantik bernama Delia yang berprofesi sebagai pramugari. Delia Anjani. Ia adalah wanita dari keluarga kaya raya, membuat Laras mertua Najwa silau akan semua itu. Semua terbongkar dari percakapan grup WA Keluarga Beni. Betapa sakit hati Najwa melihat mereka merencanakan pernikahan Beni dengan wanita idaman mertuanya. Tapu Najwa tak tinggal diam, akankah ia bisa membuat Beni menyesal. Ternyata keluarga Delia masih ada hubungan dengan Najwa. Memori masa lalu bangkit kembali. Kekayaan itu ternyata adalah hak Najwa. Semua yang di kenakan Delia, itu seharusnya adalah menjadi milik Najwa. *Apa yang akan di lakukan Najwa pada keluarga penghianat itu?*
9
76 Chapters
IKRAR TALAK UNTUKKU ADALAH MAHAR YANG KAU PINTA DARI SUAMIKU
IKRAR TALAK UNTUKKU ADALAH MAHAR YANG KAU PINTA DARI SUAMIKU
Sayaka adalah wanita yang dikhianati oleh suaminya, Farhan. Dan yang lebih paarahnya adalah, Farhan berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Bagaimana cara Sayaka menghadapi suami, dan juga keluarganya yang toxic itu? Saksikan kisahnya di, IKRAR TALAK UNTUKKU, ADALAH MAHAR YANG KAU PINTA DARI SUAMIKU.
9
158 Chapters
Aranjo
Aranjo
Mengandung konten 21+Menjalani sepuluh kehidupan di dunia fana dan melewati bencana cinta adalah hukuman yang di terima Aranjo, Dewi muda yang juga keturunan suku iblis. Aranjo di besarkan di alam langit dan dirinya dikucilkan karena darah iblis yang mengaliri tubuhnya. Ibu tiri dan dua saudarinya selalu menjebak dirinya, berharap Aranjo akan diusir selama-lamanya dari alam langit.Namun, dibalik hukuman yang diterima Aranjo dari Sang Kaisar ternyata memiliki tujuan tersendiri. Sang Kaisar yang selalu mendampingi Aranjo tumbuh dewasa ingin agar Dewi itu tumbuh menjadi Dewi Agung tanpa perasaan, yang mana tanpa perasaan akan memberikan kekuatan absolut yang tidak terbayangkan, seperti dirinya.Apakah hal berjalan lancar seperti kehendak Sang Kaisar? Atau......Follow IG @authorphoenix_
9.8
125 Chapters
Setelah Lima Tahun
Setelah Lima Tahun
Mereka mengira kami baik-baik saja. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di istana kami. Kenyataan yang membuatku harus memilih, bertahan atau melepaskan.Dia pria yang menghalalkanku lima tahun yang lalu ternyata masih menyimpan kisah yang belum usai dengan perempuan itu, masa lalunya.
9.9
158 Chapters
Penakluk Dunia
Penakluk Dunia
Ketika pria ini muncul --- Satu kata : Mendominasi! Dua kata : Tak terkalahkan! Tiga kata : Calon suami idaman! Saudaraku, ini adalah kisah tentang seorang pria yang mengolah Seni Ilahi. Dia mengejar kekuatan untuk menantang para dewa, menjadi penguasa di seluruh alam semesta! Namun, ada satu hal yang tidak dia sadari .... "Sejak kapan aku menguasai dunia? Bukankah aku hanya bersenang-senang selama ini?" Di Tian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia kebingungan.
9.8
758 Chapters
Kaisar Naga Beladiri S2
Kaisar Naga Beladiri S2
Manusia? Dunia tingkat rendah? Tidak ada cultivator atau dewa? bisakah dunia itu di injak semudah menginjak semut oleh para orang kuat dari atas dunia tersebut? Ini perjalanan baru Long Chen setelah terlahir kembali dari api Vermilion Bird, muncul untuk melawan cultivator kuat yang selalu menggunakan dunia tingkat rendah sebagai budak dan mainan mereka. Serta menemukan buruknya dunia dan orang-orang yang menjadi penguasa dari berbagai dunia tersebut. Melindungi, menghancurkan dan membentuk itulah tujuan baru Long Chen. Perjalanan yang membuat Long Chen bertemu dengan berbagai cultivator kuat dan bahkan yang disebut dewa. Melawan, mengalahkan, melindungi, itu semua sudah ada dalam hati Long Chen. Ia juga akan bertemu dengan orang tua yang belum pernah dilihat olehnya semenjak hari kelahiran. Apakah Long Chen akan menerima mereka? Atau Long Chen memutuskan untuk tidak berhubungan dengan mereka lagi? Bisakah Long Chen mempertahankan tujuannya atau ia malah jatuh sekali lagi dalam godaan yang sama seperti naga hitam. "Aku hidup untuk diriku sendiri, takdir? Takdir tidak dapat menghentikanku! Aku akan terus berdiri berapa kali pun aku jatuh. Selama aku masih bernafas tidak ada kata menyerah dalam hidupku."
9.6
946 Chapters

Apakah Ada Adaptasi Film Dari Karya Ajip Rosidi Yang Terkenal?

3 Answers2025-09-05 17:34:20

Baru saja aku menyelami arsip lama dan ngobrol dengan beberapa kolega pegiat sastra—hasilnya, jawaban simpelnya: adaptasi layar lebar besar dari karya Ajip Rosidi hampir tidak ada. Meskipun namanya besar di dunia sastra Indonesia, karya-karyanya lebih sering hidup lewat antologi, majalah, teater kampus, dan pembacaan puisi daripada film bioskop mainstream. Aku menemukan catatan bahwa beberapa cerpennya pernah dibawa ke panggung teater lokal dan ada pula produksi radio atau drama televisi skala kecil yang mengadaptasi cerita pendeknya pada era 70–90an, tapi itu biasanya untuk penayangan lokal atau pendidikan, bukan rilisan komersial yang luas.

Alasan menurut pengamat yang aku ajak bicara cukup masuk akal: banyak karya Ajip kental nuansa lokal, bahasa, dan filosofi Sunda yang sulit diterjemahkan langsung ke layar besar tanpa kehilangan kehalusan gaya tulisannya. Selain itu, industri film kita dulu kurang tertarik mengangkat cerita-cerita sastra yang bernuansa reflektif dan bukan genre populer. Jadi, daripada melihatnya sebagai kegagalan, aku lebih melihatnya sebagai kesempatan—karya-karyanya menunggu adaptasi yang peka dan berani, entah oleh sineas independen atau proyek festival film yang menghargai tekstur sastra.

Kalau kamu penasaran, saran praktisku: cek arsip lama TVRI, perpustakaan film seperti Sinematek, atau koleksi universitas; di sana kadang tersimpan rekaman teater radio atau dokumenter kecil yang jarang diketahui publik. Menurutku, membaca langsung karyanya juga memberi kepuasan tersendiri—narasi Ajip punya ritme yang enak dibaca dan sering membuka sudut pandang baru tentang budaya lokal. Aku selalu merasa lebih hangat setelah menenggelamkan diri dalam puisinya.

Apa Kontribusi Ajip Rosidi Pada Perkembangan Sastra Sunda?

2 Answers2025-09-05 22:29:59

Setiap kali aku membuka naskah-naskah berbahasa Sunda, aku selalu teringat bagaimana satu orang bisa mengubah lanskap literatur daerah dengan kerja keras yang konsisten. Ajip Rosidi bagi aku bukan cuma penulis produktif; dia seperti jembatan antara tradisi lisan yang mulai pudar dan dunia tulis yang lebih modern. Dia merekam cerita rakyat, menyimpan naskah-naskah lama, dan memberi ruang bagi bahasa Sunda agar tetap hidup bukan cuma di mulut orang tua tapi juga di lembaran buku dan koridor akademik.

Pengaruhnya juga terasa dalam hal pembentukan wacana: lewat esai, kritik, dan terbitan yang dia dukung, muncul pemahaman bahwa kesusastraan daerah itu punya nilai universal, bukan sekadar dokumen nostalgia. Aku terutama menghargai cara dia merawat kedua dunia—tradisi dan modernitas—tanpa meminggirkan salah satunya. Karena itu banyak penulis muda yang jadi berani menulis dalam bahasa daerah, eksperimen bentuk, atau menerjemahkan karya-karya penting supaya bisa diakses pembaca luas.

Yang paling mengena buatku adalah konsistensi dan kepedulian organisasinya: dia membangun ruang-ruang pertemuan, mengumpulkan bahan referensi, dan melatih generasi penerus dengan cara yang praktis—bukan sekadar teori. Dampaknya terasa sampai sekarang; perpustakaan, arsip, dan jaringan komunitas yang ia bantu bentuk masih jadi rujukan. Secara personal, karya dan kegigihannya membuat aku percaya bahwa pelestarian bahasa tidak harus romantis pasif, melainkan bisa aktif dan produktif—mendorong karya-karya baru tanpa kehilangan akar. Aku sering membayangkan betapa banyak cerita lokal yang mungkin hilang kalau bukan karena orang-orang seperti dia, dan itu membuatku makin termotivasi untuk membaca, mengoleksi, dan membagikan karya-karya sastra Sunda di lingkunganku.

Kapan Ajip Rosidi Menerbitkan Kumpulan Cerpen Pertamanya?

2 Answers2025-09-05 12:46:38

Suatu sore aku lagi menyusun tumpukan buku tua di rak, terus ketemu catatan tentang Ajip Rosidi yang bikin aku terpikir soal awal kariernya—ternyata kumpulan cerpen pertamanya diterbitkan pada tahun 1959. Rasanya aneh sekaligus menenangkan kalau memikirkan seorang penulis yang sudah aktif menulis sejak remaja bisa meluncurkan buku di akhir 1950-an, sebuah periode penuh gairah sastra dan transformasi budaya di Indonesia.

Satu hal yang selalu kusukai dari cerita-cerita awal penulis seperti Ajip adalah bagaimana semangat zamannya tercermin: nuansa perjuangan, keresahan intelektual, dan eksperimen bentuk terasa kental. Kumpulan cerpen pertamanya pada 1959 bukan cuma tanda bahwa ia memasuki dunia penerbitan resmi, tapi juga sinyal bahwa suara baru sedang muncul—suara yang nanti akan berpengaruh pada pembaca dan penulis muda setelahnya. Aku suka membayangkan betapa koleksi itu disambut di warung buku kecil, dipinjamkan dari tangan ke tangan, memicu diskusi hangat di kafe dan taman baca.

Buatku, mengetahui tanggal penerbitan seperti 1959 memberi konteks saat membaca karya-karya berikutnya. Kamu bisa melihat evolusi gaya, topik, dan kedewasaan bertuturnya dari satu kumpulan ke kumpulan lain. Kalau lagi duduk sendiri sambil menyeruput teh, aku suka membuka halaman depan edisi lama dan membayangkan suasana ketika buku itu pertama kali tiba di rak—sebuah pengingat lembut bahwa setiap penulis juga pernah jadi pemula yang penuh tekad. Itu membuat membaca karya-karya klasik terasa lebih hidup dan personal, bukan sekadar teks di kertas yang kaku.

Kapan Ajip Rosidi Mulai Terkenal Sebagai Sastrawan?

5 Answers2025-12-16 18:10:30

Membicarakan kebangkitan Ajip Rosidi di dunia sastra selalu terasa seperti membuka lembaran sejarah yang penuh warna. Kariernya mulai menanjak sejak akhir 1950-an, terutama setelah terbitnya kumpulan puisi 'Pesta' pada 1956 yang langsung menarik perhatian kritikus.

Yang membuatnya unik adalah bagaimana karyanya berhasil menyentuh tema-tema lokal Sunda dengan gaya modern, sesuatu yang jarang ditemui saat itu. Aku sendiri pertama kali jatuh cinta pada tulisannya setelah membaca 'Cari Muatan'—ada kesederhanaan yang justru kompleks dalam bahasanya. Puncak pengakuannya mungkin datang ketika ia memenangkan Hadiah Sastra ASEAN untuk 'Sebuah Rumah Buat Hari Tua' di tahun 1988.

Bagaimana Gaya Ajip Rosidi Berbeda Dari Penulis Lain?

3 Answers2025-09-05 12:47:07

Setiap kali aku menelaah teks-teks Ajip Rosidi, hal pertama yang terasa adalah kedekatannya dengan akar budaya—seolah dia menulis dari dalam rumah tradisi, bukan dari menara akademik yang dingin.

Gaya Ajip terasa hangat dan langsung: bahasanya lugas tapi tidak dangkal, penuh informasi historis dan etnografis yang disisipkan tanpa menggurui. Berbeda dengan penulis yang menonjolkan gaya puitik atau eksperimen bahasa untuk efek estetik, Ajip lebih sering memilih pendekatan dokumenter dan pengarsipan sastra, membuat karyanya berfungsi sekaligus sebagai pengajaran dan pelestarian. Aku suka bagaimana dia menyelipkan cerita rakyat, catatan lapangan, dan ulasan kritis dalam satu narasi yang mudah diikuti. Itu membuat pembaca awam pun bisa menangkap esensi budaya yang dibahas.

Selain itu, Ajip punya kecenderungan utk menjembatani generasi: ia tidak hanya menulis untuk kalangan intelektual tetapi juga mengajak pembaca umum agar peduli pada bahasa dan karya daerah. Jika dibandingkan dengan penulis yang lebih fokus pada estetika pribadi atau politik semata, Ajip memberi ruang yang lebih besar untuk konservasi budaya, pendidikan, dan pembentukan koleksi intelektual. Bagi aku, itu terasa seperti warisan konkret—bukan sekadar puisi indah, melainkan arsip hidup yang membantu kita memahami siapa kita dan dari mana kita berasal. Aku selalu pulang dari membaca tulisannya dengan rasa lebih ingin mencari dan menyimpan cerita-cerita lokal.

Apa Karya Terbaik Ajip Rosidi Yang Wajib Dibaca?

5 Answers2025-12-16 22:33:13

Membicarakan Ajip Rosidi selalu membawa nuansa nostalgia. Salah satu karyanya yang paling menggugah adalah 'Pesta'—kumpulan cerpen yang menggambarkan kehidupan masyarakat Sunda dengan detail memukau. Rosidi punya cara unik memadukan kritik sosial dengan keindahan sastra, membuat setiap kisah terasa hidup.

Selain itu, 'Anak Tanahair' juga layak dibaca. Novel ini mengeksplorasi identitas budaya dengan begitu dalam, seolah mengajak pembaca merenung tentang arti menjadi bagian dari suatu tempat. Gaya bahasanya sederhana namun penuh makna, cocok untuk mereka yang ingin memahami Indonesia dari kacamata sastra.

Mengapa Karya Ajip Rosidi Sering Mengangkat Budaya Lokal?

2 Answers2025-09-05 08:15:45

Aku kerap membayangkan Ajip Rosidi duduk di depan meja kayu, dengan tumpukan naskah dan kamus, menuliskan hal-hal yang membuat bahasa daerah dan budaya lokal terasa hidup lagi. Dalam pengamatan saya, karyanya sering mengangkat budaya lokal karena ia melihatnya bukan sekadar sebagai latar atau hiasan, melainkan sebagai sumber identitas dan ingatan kolektif. Ajip datang dari tradisi lisan, sehingga ia menghargai ritual, pantun, mitos, dan bahasa sehari-hari—elemen-elemen yang mudah hilang ketika modernitas dan bahasa dominan mengambil alih ruang publik. Menulis tentang ini adalah bentuk perlawanan lembut namun gigih: merawat memori, menegaskan martabat budaya kecil, dan memberi tempat bagi suara yang selama ini tersingkir.

Selain itu, saya merasa ada dimensi dokumenter dalam karyanya. Ajip bukan hanya penulis yang menciptakan fiksi; dia juga kolektor, penerjemah, dan penjaga warisan. Ini terlihat dari cara ia menarasikan adat, kosakata, dan tradisi dengan rinci—seolah-olah ingin memastikan generasi selanjutnya tidak kehilangan acuan. Di sisi estetika, penggunaan unsur lokal memperkaya tekstur cerita: ritme bahasa daerah, idiom khas, dan struktur cerita rakyat memberi nuansa yang otentik dan emosional. Bagi saya, itu membuat karya-karyanya terasa hangat dan manusiawi, bukan cuma pelajaran etnografi. Ada pula motivasi politik-kultural: menegaskan bahwa kebudayaan daerah adalah bagian dari kekayaan nasional, bukan primitive leftover. Kalau budaya lokal direpresentasikan dengan serius, ia mendapat pengakuan intelektual yang pantas, dan itulah yang Ajip lakukan lewat tulisannya.

Terakhir, secara pribadi karyanya menginspirasi rasa bangga akan akar. Saya sering merasa terhibur sekaligus tersentuh ketika menemukan detail kecil—nama makanan, upacara, atau ungkapan khas—yang membuat saya merasa dekat dengan leluhur dan kampung yang mungkin hanya saya kunjungi sekali. Dengan cara ini, Ajip membangun jembatan antara masa lalu dan sekarang; menyambungkan pembaca urban yang haus modernitas dengan tanah tempat cerita-cerita lama tumbuh. Itu alasan kenapa tema budaya lokal muncul berulang: bukan karena ketinggalan zaman, melainkan karena ia sangat relevan untuk memahami siapa kita dan dari mana kita berasal. Dan sebagai pembaca, aku selalu pulang dari karyanya dengan rasa bahwa sesuatu yang berharga berhasil diselamatkan.

Bagaimana Gaya Penulisan Ajip Rosidi Dalam Novelnya?

5 Answers2025-12-16 00:21:13

Membaca karya-karya Ajip Rosidi seperti menyusuri lorong waktu yang penuh nostalgia. Gaya penulisannya sangat kental dengan nuansa lokal Sunda, tapi sekaligus universal dalam menyentuh sisi kemanusiaan. Dialog-dialognya sering terasa seperti percakapan sehari-hari, membuat karakter-karakternya hidup dan relatif.

Yang menarik, ia sering menyelipkan falsafah hidup secara halus tanpa terkesan menggurui. Deskripsinya tentang alam pedesaan Jawa Barat begitu vivid, seolah kita bisa mencium bau tanah setelah hujan atau mendengar gemericik air di sawah. Ada semacam rhythm puitis dalam narasinya yang membuat prosa biasa terasa seperti puisi panjang.

Di Mana Ajip Rosidi Menyelesaikan Pendidikan Jurnalistiknya?

2 Answers2025-09-05 00:37:14

Salah satu hal yang selalu membuatku kagum dari perjalanan intelektual Ajip Rosidi adalah bagaimana latar pendidikannya membentuk cara pandangnya terhadap media dan sastra.

Ajip Rosidi menyelesaikan pendidikan jurnalistiknya di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) di Jakarta. Setelah menekuni pendidikan itu, ia langsung terjun ke dunia surat kabar dan penerbitan, yang jelas berpengaruh besar pada gaya menulisnya yang lugas namun puitis. Pengalaman di STP memberikan pondasi teknik jurnalistik — cara mencari sumber, merangkai berita, dan memahami peran media dalam masyarakat — yang kemudian ia padukan dengan kecintaannya pada kebudayaan Sunda dan kepedulian terhadap bahasa.

Kalau dilihat dari karya-karyanya dan kiprahnya mendirikan serta mengelola berbagai penerbitan, jelas pendidikan jurnalistiknya bukan sekadar gelar: itu jadi alat untuk memperjuangkan literasi, pelestarian budaya, dan pembentukan opini publik. Bagi aku pribadi, mengetahui latar pendidikan Ajip membuat karyanya terasa lebih utuh; bukan hanya seorang sastrawan yang menulis, tetapi juga seorang pemikir yang paham bagaimana kata-kata bekerja di ruang publik. Penggabungan unsur akademis jurnalistik dengan jiwa sastra itulah yang membuat jejaknya langgeng. Aku selalu merasa ada pelajaran berharga tentang disiplin menulis dan tanggung jawab intelektual setiap kali menelusuri jejaknya di dunia media dan kebudayaan.

Bagaimana Ajip Rosidi Memengaruhi Penulis Muda Indonesia?

3 Answers2025-09-05 02:19:36

Malam itu aku masih ingat saat pertama kali menemukan nama Ajip Rosidi di halaman belakang sebuah antologi sastra lama; namanya terasa seperti kunci yang membuka ruang-ruang bahasa yang selama ini kusangka tertutup. Pengaruhnya padaku sebagai pembaca muda bukan hanya soal teknik menulis, melainkan tentang sikap terhadap bahasa dan akar budaya. Dia menunjukkan bahwa menulis bisa menjadi jalan menjaga bahasa daerah—bukan hanya warisan museum, tapi napas hidup yang boleh dihidupkan lewat cerita, esai, dan puisi.

Di masa ketika aku kebingungan memilih gaya, cara Ajip menyunting, menerbitkan, dan menciptakan forum membaca memberi contoh praktis: sederhana, konsisten, dan merangkul. Aku meniru caranya menempatkan kesederhanaan narasi agar pesan kultural tetap jelas tanpa jadi berat; aku meniru etosnya untuk rutin membaca naskah-naskah lokal, mengarsip, dan mengajak teman-teman berdiskusi. Lebih dari itu, dia memperbolehkan penulis muda merasakan bahwa suara lokal bukan hanya untuk pasar sempit—suara itu punya tempat dalam wacana nasional.

Sekarang, ketika aku menuliskan cerita yang memuat dialek kampung atau mitos lokal, aku merasa ada warisan yang menuntun: menulis dengan hormat pada sumber, dan berani mengangkat hal yang dianggap 'kecil'. Itu memberi keberanian, bukan hanya teknik. Pengaruh Ajip padaku bukan sekadar pelajaran menulis, melainkan cara melihat dunia—bahwa kesetiaan pada akar bisa jadi kekuatan estetis dan sosial. Aku menutup catatan ini dengan rasa terima kasih yang hangat, dan selalu merasa mendapat semangat baru saat membuka kembali tulisannya.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status