Melody
Saat Keenan Wijaya pulang sambil membawa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, aku sedang melihat-lihat ranjang bayi. Anak itu memiliki sepasang mata yang persis sama dengan cinta pertama Keenan.
"Dia baru pulang dari luar negeri dan nggak punya tenaga untuk mengurus anak ini. Mulai sekarang, aku yang akan membesarkannya."
Suara Keenan dingin dan tegas, terkesan tidak memberi kesempatan untuk dibantah. Namun, tatapannya tertuju pada perutku yang sedikit membuncit.
"Kalau anak dalam kandunganmu ... gugurkan saja. Anak ini sangat sensitif. Untuk sementara, dia belum bisa menerima kehadiran adik."
Jari-jariku yang menggenggam hasil USG sedikit gemetar. Aku terdiam cukup lama.
Saking lamanya hingga rasa kesal dan bersalah yang ditahannya mulai terlihat di mata Keenan. Barulah aku mengangguk patuh.
"Oke, aku turuti kemauanmu."
Keesokan harinya, aku keluar dari ruang operasi seorang diri dan menyerahkan surat keterangan aborsi kepadanya.
Keenan meletakkan surat itu kembali ke atas meja dengan santai, lalu berkata datar, "Besok, penthouse dupleks di Peninsula akan dialihkan atas namamu."
Aku mengangguk tenang. "Oke, terima kasih."
Tidak melihat tangisan atau keributan seperti yang dia bayangkan, alis Keenan sedikit bergerak. Dia pun tidak berkata apa-apa lagi. Namun, dia tidak tahu kalau aborsiku hanya pura-pura, sedangkan rumah itu benar-benar menjadi milikku.
Lagi pula, dalam profesi kami sebagai wanita simpanan, ada sebuah aturan mutlak. Air mata harus sungguhan, hati harus pura-pura. Setiap rasa bersalah seorang pria harus bisa diuangkan.