Mohini
Saat istriku dinyatakan hamil, di perjalanan pulang tiba-tiba dia berkata kepadaku, "Ada sesuatu yang mau kukatakan."
"Sebenarnya anak yang ada di dalam kandunganku adalah anak kakak ipar. Surat izin kelahirannya juga sudah selesai diurus."
Senyum di wajahku langsung membeku. Dia mengeluarkan selembar hasil Tes DNA dari dalam tasnya. Pada kolom ayah benar-benar tertulis nama Felix Gondo.
Dia berkata dengan nada yang begitu tenang hingga terasa mengerikan, "Hari itu kau demam tinggi dan tertidur di kursi belakang mobil. Kami melakukannya di kursi depan."
"Di tempat aku duduk sekarang ini."
Dalam sekejap, seluruh tubuhku seakan terjun ke dalam jurang es.
Aku membuka mulut, tetapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat sesuatu.
Setelah mengatakan itu, Salma Kurniawan menatap perutnya yang mulai membesar. Setiap kata yang keluar dari mulutnya menusuk hatiku.
"Kalau kau benar-benar nggak bisa menerimanya, aku bisa gugurkan. Tapi kuota surat izin kelahiran cuma ada satu. Kalau kesempatan ini hilang, kita berdua nggak mungkin punya anak lagi."
"Sekarang, aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Membiarkan anak ini lahir atau nggak, kau yang putuskan."