Short
Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama

Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama

By:  GunturCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sebelum mendaftarkan pernikahan, kami pergi ke mal untuk mencoba perhiasan emas. Namun, Brian Adinata tiba-tiba menahan tanganku. "Kulit Marisa lebih putih darimu. Perhiasannya pasti lebih bagus kalau dia yang pakai. Biar dia aja yang mencobanya." Belum sempat aku menjawab, dia sudah cekatan memakaikan perhiasan itu satu per satu kepada sahabatku, Marisa Setyawan. Dia mengelapnya, menghangatkannya di telapak tangan, lalu memakaikannya. Begitu penuh perhatian, seolah sudah melakukan semua itu ribuan kali. Sepasang suami istri yang lewat tersenyum menggoda, "Pacar seperhatian ini susah banget dicari, lho! Harus dijaga baik-baik, ya, Nak!" Marisa melirik Brian dengan malu-malu, pipinya merona merah. Brian tidak menjelaskan apa-apa. Dia hanya menyerahkan kartu kepada pegawai toko sambil berkata, "Aku beli semuanya." Sepanjang kejadian itu, dia tidak sekali pun menanyakan pendapatku. Hari ini sudah sepuluh kali Brian menyuruh Marisa menggantikanku. Saat masuk mobil, Brian bilang Marisa lebih kurus sehingga tidak akan menghalangi pandangannya jika duduk di kursi penumpang depan. Saat merencanakan pesta pernikahan, Brian bilang Marisa lebih teliti, lalu menyerahkan seluruh urusannya kepada Marisa. Bahkan saat memesan gaun pengantin, dia beralasan bahwa selera Marisa lebih bagus, lalu menyuruhnya memilihkan gaun untukku. Sepertinya, dia selalu bisa menemukan kekuranganku dan menyuruhku mengalah demi Marisa yang dianggap lebih sempurna. Kalau begitu, cinta yang tak pernah terwujud ini biar kuserahkan padanya. Tujuan kami berikutnya adalah Kantor Catatan Sipil. Namun, aku menghindari tangannya yang hendak menggenggamku. "Nggak usah. Marisa lebih fotogenik daripada aku. Jadi, foto pernikahannya biar dia aja yang gantiin aku."

View More

Chapter 1

Bab 1

Begitu aku selesai bicara, Brian Adinata langsung terpaku di tempat.

Dia melirik Marisa Setyawan yang tampak salah tingkah, lalu berkata dengan nada kesal.

"Kamu ini kenapa sih? Kok malah ngambek segala?"

"Bentar lagi kita nikah, lho. Bisa nggak sih kamu lebih dewasa dikit kayak Marisa? Jangan bercanda soal pernikahan, dong!"

Kurang dewasa. Itulah kekurangan ke-196 yang dia temukan dalam diriku.

Kami sudah berpacaran selama sembilan tahun, sejak kuliah hingga memasuki dunia kerja.

Namun, setiap kali Marisa ada di sana, Brian seolah selalu punya alasan untuk menyuruhku mengalah.

Karena Marisa lebih populer, Brian menyuruhnya menggantikanku menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.

Karena Marisa lebih supel, Brian menyuruhnya menggantikanku mengikuti wawancara pasangan.

Karena Marisa lebih jago bahasa asing, aku harus merelakan kesempatan mengikuti program studi lapangan bersama Brian untuknya.

Lama-kelamaan, semua orang mengira Brian dan Marisa-lah pasangan yang sebenarnya.

Sedangkan aku, sang pacar resmi, justru disembunyikannya bagai tikus yang takut cahaya.

Aku sering bertanya-tanya apakah diriku memang kurang baik, hingga akhirnya berusaha keras untuk berubah.

Demi bisa duduk di kursi penumpang depannya, aku memaksakan diri untuk diet ketat.

Saking kerasnya, aku sampai pendarahan lambung, dan kurus sampai pahaku lebih kecil dari lengan Marisa.

Namun, setelah sembilan tahun berlalu, kursi penumpang depan Brian tetap hanya untuk Marisa.

Barulah aku mengerti bahwa perlakuan istimewa tak membutuhkan alasan.

Melihat kami yang masih bersitegang, Marisa buru-buru menengahi.

"Brian, jangan marah-marah. Zhiu ngomong gitu pasti cuma karena kelaparan."

"Nggak usah buru-buru mengurus surat nikah. Kita makan dulu aja!"

Marisa merangkul lenganku, sementara tangan satunya menggandeng Brian, lalu membawa kami masuk ke sebuah restoran.

Seperti biasa, Brian memesan paket pasangan untuk dirinya dan Marisa, baru kemudian memesan satu porsi makanan untukku.

Dulu aku tidak mengerti. Aku bahkan pernah merengek agar bisa memesan paket pasangan dengannya.

Brian menatapku, seolah aku orang yang benar-benar tidak masuk akal.

"Marisa makannya lebih sedikit daripada kamu. Makanya, paket berdua lebih hemat. Jangan egois dan bikin orang lain harus keluar uang demi kamu."

Aku tak berani merengek lagi. Namun, belakangan aku pernah mencoba memesan paket berdua bersama seorang rekan kerja.

Ternyata Brian bohong. Porsi paket berdua sama saja dengan porsi menu satuan.

Masalahnya cuma satu. Dia tidak mau yang duduk berpasangan dengannya adalah aku.

Kali ini, aku sengaja bersikeras dan minta dipesankan paket berdua.

Namun, pelayan itu malah menatap kami dengan raut serba salah.

"Paket pasangan di tempat kami itu bonus dari tantangan pasangan. Apa kalian mau ikut tantangan?"

Brian memasang muka masam. Baru setelah Marisa memukul lengannya pelan, dia mengangguk dengan enggan.

"Boleh."

Pelayan itu lalu menyuruh Brian menyebutkan sepuluh kekuranganku.

Dia menjawab tanpa pikir panjang, "Pendiam, emosian, ceroboh, baperan, egois ...."

Dia menyebutkan puluhan kekurangan dengan lancar, sampai pelayan itu tak tahan lagi dan terpaksa menyela. Barulah dia berhenti.

Marisa menghiburku dengan nada iba, "Dia emang udah terbiasa nyari-nyari kekurangan orang. Kalau disuruh sebutin kekuranganku, dia juga bakal gitu kok."

Namun, Brian justru menatap Marisa dan berpikir lama sekali.

Saking lamanya, pelanggan di meja sebelah yang datang belakangan bahkan sudah membereskan barang-barang dan pergi, sementara Brian masih belum bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Marisa akhirnya tak tahan lagi dan memecah keheningan sambil bercanda, "Ih, mata kamu minus banget, sih. Kekuranganku yang paling jelas ini, jerawatan, nggak kelihatan?"

Brian malah nyeletuk, "Jerawatan juga tetap cantik."

Semua orang langsung terpaku.

Pelayan itu langsung tersenyum dan mengucapkan selamat. Mereka adalah pasangan pertama di restoran itu yang berhasil menyelesaikan tantangan "Cinta itu Buta", dan berhak mendapatkan bonus satu paket pasangan.

Aku mendongak, lalu pura-pura meliriknya dengan kesal.

Tak ada yang melihat, betapa perihnya mataku hingga nyaris tak kuasa membendung air mata.

Brian bisa menemukan berbagai macam kekuranganku, tetapi bahkan jerawat Marisa pun dianggapnya sempurna.

Aku kalah lagi, benar-benar kalah telak.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status