LOGINSebelum mendaftarkan pernikahan, kami pergi ke mal untuk mencoba perhiasan emas. Namun, Brian Adinata tiba-tiba menahan tanganku. "Kulit Marisa lebih putih darimu. Perhiasannya pasti lebih bagus kalau dia yang pakai. Biar dia aja yang mencobanya." Belum sempat aku menjawab, dia sudah cekatan memakaikan perhiasan itu satu per satu kepada sahabatku, Marisa Setyawan. Dia mengelapnya, menghangatkannya di telapak tangan, lalu memakaikannya. Begitu penuh perhatian, seolah sudah melakukan semua itu ribuan kali. Sepasang suami istri yang lewat tersenyum menggoda, "Pacar seperhatian ini susah banget dicari, lho! Harus dijaga baik-baik, ya, Nak!" Marisa melirik Brian dengan malu-malu, pipinya merona merah. Brian tidak menjelaskan apa-apa. Dia hanya menyerahkan kartu kepada pegawai toko sambil berkata, "Aku beli semuanya." Sepanjang kejadian itu, dia tidak sekali pun menanyakan pendapatku. Hari ini sudah sepuluh kali Brian menyuruh Marisa menggantikanku. Saat masuk mobil, Brian bilang Marisa lebih kurus sehingga tidak akan menghalangi pandangannya jika duduk di kursi penumpang depan. Saat merencanakan pesta pernikahan, Brian bilang Marisa lebih teliti, lalu menyerahkan seluruh urusannya kepada Marisa. Bahkan saat memesan gaun pengantin, dia beralasan bahwa selera Marisa lebih bagus, lalu menyuruhnya memilihkan gaun untukku. Sepertinya, dia selalu bisa menemukan kekuranganku dan menyuruhku mengalah demi Marisa yang dianggap lebih sempurna. Kalau begitu, cinta yang tak pernah terwujud ini biar kuserahkan padanya. Tujuan kami berikutnya adalah Kantor Catatan Sipil. Namun, aku menghindari tangannya yang hendak menggenggamku. "Nggak usah. Marisa lebih fotogenik daripada aku. Jadi, foto pernikahannya biar dia aja yang gantiin aku."
View MoreBrian sampai berkeringat dingin karena panik, tetapi dia nggak berani memaksa cincin itu masuk.Dia hanya terus mengulang kata-katanya dengan gugup dan terbata-bata. "Bukan gitu, Zhiu. Tanganku aja yang licin. Biar aku atur lagi, sebentar lagi pasti bisa masuk!""Tunggu, ya!"Begitu kata-katanya selesai, aku langsung menarik tanganku menjauh.Cincin yang basah oleh keringatku jatuh ke lantai, berdenting nyaring."Aku udah nunggu sembilan tahun, Brian.""Dari masa kuliah, aku udah suka sama kamu dan nungguin kamu. Nunggu sampai lulus, sampai pasangan-pasangan yang seangkatan dengan kita udah pada nikah dan punya anak, aku masih aja nunggu.""Kamu tahu nggak sih aku nunggu apa?"Belum sempat dia buka suara, aku buru-buru memotong dengan dingin."Aku nunggu kamu nengok ke belakang dan lihat aku, cuma lihat aku doang.""Bukan bawa-bawa Marisa, terus membandingkan dia sama aku, sampai ngejatuhin harga diriku habis-habisan.""Aku juga nunggu kapan kamu sadar sama perubahanku, sadar kalau ak
Mengabaikan Marisa yang menangis meraung-raung, Brian menghapus habis semua jejak wanita itu dari rumah.Dia mengusir Marisa beserta semua barang bawaannya keluar pintu.Bahkan sidik jari di kunci pintu pun tak luput dihapus. Saat menghapus sidik jari itu, Brian kembali mendengar suara sambutan pintu khusus itu.Dulu, saat merekam sidik jari Marisa, dia hanya ingin memudahkan sahabat Zhiu itu datang berkunjung.Siapa sangka, tanpa disadarinya, Marisa ternyata menyimpan niat terselubung. Dia tak berani membayangkan betapa pahitnya perasaan Zhiu jika wanita itu juga mendengar suara tersebut.Bagaimanapun, untuk Zhiu, Brian cuma menyediakan satu anak kunci.Sementara untuk Marisa, Brian sampai repot-repot merekam sidik jarinya.Penyesalan yang menyakitkan merayap di hatinya, membuat nada suaranya saat memperingatkan Marisa terdengar jauh lebih kejam."Dulu aku bersikap lunak cuma karena kamu sahabatnya Zhiu. Aku nggak pernah curiga, makanya kamu bisa memanfaatkan kesempatan itu.""Tapi
Brian menginjak pedal gas seperti orang gila, memacu mobilnya pulang dengan kecepatan tinggi.Dia ingin membereskan barang-barangnya, lalu buru-buru memesan tiket pesawat untuk mencari Zhiu.Dia tak mengharap Zhiu memaafkannya, dia hanya ingin menjelaskan semuanya.Setidaknya, dia ingin Zhiu mengerti bahwa di dalam hatinya, hanya ada Zhiu seorang.Dia hanya mencintai Zhiu!Namun, begitu memasuki kamar tidur, dia sampai terperanjat dan mundur selangkah melihat kondisi kamar itu.Kamar utama yang tadinya kosong melompong kini penuh sesak, dipenuhi jejak-jejak wanita lain.Sepatu hak tinggi Marisa, tas-tasnya, perlengkapan makeup-nya, tersusun rapi di berbagai sudut ruangan.Seolah-olah kamar ini memang miliknya sejak awal.Di atas ranjang kamar utama, ada gundukan selimut yang membentuk lekukan tubuh. Itu Marisa."Brian, kamu udah pulang? Gimana, udah selesai ngurus surat nikah sama Zhiu?"Dia berbaring di atas ranjang, di posisi yang seharusnya milik Zhiu, dengan nada riang dan manja.N
Mendengar itu, Brian langsung berseru tak percaya, "Nggak mungkin!" "Kita udah janji mau ngurus surat nikah hari ini, mana mungkin Zhiu pergi penugasan luar negeri? Lagian, masa iya langsung pergi lima tahun!" "Kamu bohongin aku, ya? Zhiu ada di samping kamu, 'kan?""Tolong bilang ke Zhiu, kalau dalam sejam dia nggak muncul juga, pernikahan kita batal!"Mendengar suara Brian yang makin mengamuk, rekan kerjanya terdiam sejenak, lalu akhirnya tak tahan dan bertanya."Kamu benaran udah janjian sama Zhiu?"Brian tertegun. "Maksudnya apa?"Rekan kerjanya menarik napas panjang, seolah ingin menumpahkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya sekaligus."Aku tanya, kamu udah diskusi sama Zhiu belum?""Atau jangan-jangan dari awal sampai akhir, rencana ini cuma keinginan sepihakmu dan si Marisa yang sok polos itu?""Kamu pernah nanya nggak, Zhiu ada waktu atau nggak, terus dia mau nggak diajak ngurus nikah sama kamu?"Raut wajah Brian sedikit berubah, tetapi dia masih bersikeras membela d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.