Amne
Setelah mendapati suamiku yang seorang kapten pilot memberikan cincin kawin kami kepada teman masa kecilnya yang seorang janda sebagai jimat pelindung, aku pun mengganti nama kontaknya menjadi “Kapten Felix”.
Saat aku mengalami pendarahan lambung akut, dia menerima telepon dari wanita itu yang mengatakan bahwa putranya mengalami mimpi buruk di tengah malam dan merindukan ayahnya. Tanpa ragu sedikit pun, suamiku langsung pergi begitu saja.
Dia berjanji akan menemaniku kontrol di rumah sakit. Namun, wanita itu menangis di bandara karena takut cuaca badai. Suamiku pun langsung mengubah jadwal penerbangannya demi menemani wanita itu terbang.
Aku lalu memotret surat hasil kontrolku dan mengirimkannya kepadanya, dengan disertai satu kalimat.
[Kapten Felix, semoga penerbanganmu lancar.]
Setiap kali, dia selalu menjawab.
[Jangan ribut, hidup ibu dan anak itu nggak mudah.]
Sampai akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh, suamiku berinisiatif memesan restoran yang sama dan mengatakan ingin memasangkan kembali cincin kawin itu di jariku.
Namun, di depan pintu restoran, wanita itu kembali menelepon.
“Felix, aku takut, bisakah kamu menjemputku? Didi bilang, dia cuma mengakuimu sebagai ayahnya ….”
Felix pun melirikku. Namun, baru saja dia ingin menjelaskan ….
Aku sudah terlebih dahulu menyerahkan kotak cincin di tanganku kepada pelayan.
“Tolong bantu buangkan ini.”
Lalu, aku berkata kepada suamiku.
“Kapten Felix, urus saja urusanmu sendiri!”