PESONA MAS IPAR
Sekali lagi, aku membiarkan air mataku mengalir ke pipi.
"Lalu bagaimana dengan bajunya, Pak?" Tanya wanita itu.
"Pakai baju apa saja yang ada. Yang penting pantas untuk acara pernikahan. Tidak norak dan murahan."
Ah, kalimat murahan itu, mengingatkanku kepada kasus durian, juga pakaianku ketika akan memeriksakan kandungan dua tahun lalu bersamanya. Tiba-tiba, bibirku menyunggingkan senyum putus asa. Sementara wanita perias itu, langsung menginstruksikan asistennya untuk mengambil pakaian.