SENYAWA
Varo menoleh tersenyum sinis menatap Meera.
“Bukan gitu, Varo,” ucap Meera canggung karena tak terbiasa.
“Lalu?” tanya Varo lagi masih memperhatikan Meera yang akan menjawabnya.
“Aku sama kamu bukan mahram, mana boleh berada pada satu tempat tanpa mahramnya yang lain,” ucap Meera mencoba menjelaskan alasannya.
“Lakukanlah apa yang membuatmu nyaman saat aku mengantarmu, tapi aku tidak menerima penolakan,” ucap Varo lantang kemudian ia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalamnya tanpa menunggu Meera.
Hot Chapters