SENDIAKALA
Sebuah cermin panjang memenuhi satu sisi dinding, dibingkai dengan ukiran kayu jati berwarna keemasan yang rumit dan indah.
Aku berdiri mematung di tengah ruangan, tangan ku sandarkan di depan perut dengan hati yang berdebar kencang. Rasanya seperti sedang memasuki kehidupan orang lain yang terlalu jauh dari dunia pesantren yang sudah aku kenal sejak kecil. Gaun demi gaun diperlihatkan padaku oleh tim perancang, kain sutra yang meluncur di tangan mereka seperti aliran air yang lembut, payet kecil berkilau seperti bintang di bawah lampu, dan renda yang menari lembut setiap kali digerakkan. Para perancang bergerak dengan cepat dan cekatan, menyematkan jarum sementara, mengukur pinggang, bahu,
Sikat na Kabanata