KAU MENDUA AKU PUN SAMA
“Ampun, Khai, Ampun.“ Dia berkata sambil tertawa pelan. Aku geleng-geleng kepala, lalu terdiam seketika saat pandangan kami bertemu dan merasakan denyar yang tak seharusnya.
“Bolehkan, Khai?“ Suaranya yang lembut, menarik kesadaranku. Tanpa menjawab, aku memberikan apa yang dimintanya.
“Makasih ya, Khai,“ katanya setelah memastikan kalau memang itu nomorku.
“Ya.“ Aku menyahut singkat.
“Nanti malam tunggu aku, ya.“ Aric mengerling jahil.
“Ish ...“ Aku mencebik dan buru-buru keluar dari mobilnya.
“Jangan lupa save nomorku,“ katanya. Aku mengangguk dan melambaikan tangan.
Hot Chapters