Hai Om, Aku Calon Istrimu!
“Ih, lucu kok. Biar ada sisi naturalnya.”
“Natural dari Hongkong!” gerutu Safa. “Aku lagi kucel, lagi berjuang nyuapin bocah nangis, masa dijadiin aesthetic footage?!”
Aku buru-buru menarik lengan Safa sebelum dia menjambak rambut Kak Luna.
“Sa, tahan emosimu. Fokus ke anak-anak dulu,” bisikku.
“Aku sudah fokus, Bee,” desisnya dengan rahang mengeras. “Tapi kalau dia upload mukaku yang lagi kayak tuyul kecapean itu, sumpah ya… aku sebar kelakuannya saat pura-pura jadi relawan.”