تصفية بواسطة
تحديث الحالة
الجميعمستمرمكتمل
فرز
الجميعشائعتوصيةمعدلاتتحديث
The Alpha’s Second Life

The Alpha’s Second Life

"I told you five years ago, Richard—your Omega is dead. I’m just the man paid to keep your father’s heart beating. Don’t confuse a business contract with a deathbed confession." Five years ago, Joshua Harrington was the "discarded runt" of the Harrington Pack. On a rain-slicked highway, his Alpha husband, Richard, made a choice: he saved his "fated mate," Bianca, and left a pregnant Joshua to plummet over a cliffside. The world mourned the weak Omega. The Pack moved on. Richard lived with a hollow chest and a "fated bond" that felt more like a cage than a blessing. But ghosts don't always stay buried. When the Harrington Patriarch is struck by a lethal silver-poisoning, only one surgeon in the world can perform the impossible: Dr. J, a cold, clinical genius who smells of sterile steel and holds the life of the Harrington lineage in his hands. When Dr. J walks into the boardroom, Richard’s wolf howls in recognition. But the man standing there isn't the submissive boy who used to wait up for him. Joshua is icy, powerful, and utterly indifferent to Richard’s Alpha command. He has a secret in the city—a son with Richard’s eyes and a "Silver-Rank" aura that could topple the Pack’s entire hierarchy. Richard wants his husband back. Joshua wants a divorce settlement. As the truth about the "fated mate" bond begins to unravel, Richard realizes he didn't just lose a spouse—he betrayed the True Blood heir. Now, the CEO Alpha must become a beggar, chasing a man who no longer needs him, in a world where a scalpel is deadlier than a claw. He left him to die. Now, he’ll have to learn how to live for him.
Werewolf
168 وجهات النظرمستمر
قراءة
أضف إلى المكتبة
Ruin Me, Ruin Himself

Ruin Me, Ruin Himself

On the day of the wedding, Galen Shaw forces me to crack walnuts with my bare hands for his so-called female buddy. My expression goes cold, and I refuse outright. "My hands are for holding a scalpel, not cracking walnuts for her!" He only chuckles and orders someone to hold me down. Then, he glues the walnuts to my palms himself. One by one, he slams them against the ground. "You cheated while studying medicine. Now that you've married me, forget about ever being a doctor again!" I grit my teeth through the pain. My fingers are aching, but I try to explain. "I went abroad to study medicine for you!" His so-called female buddy sneers in a shrill voice. "All that talk about the Shaw family's hereditary disease is nonsense! Galen has been perfectly healthy for over 20 years. Don't tell me you just want another excuse to cozy up with your precious senior?" The moment those words leave her lips, the faint thought of having someone bandage my hand disappears. A shadow crosses Galen's face. "Looks like you haven't learned your lesson!" He throws me into the basement and locks me there for three days. By the time I crawl out, my hands are completely ruined. Later, when Galen's hereditary disease finally surfaces, the doctor tries to comfort him. "This disease may be terminal, but there is still a way. Dr. Robinson has just returned from overseas. She's the only one in the world who can perform this surgery. "I hear that she's your wife."
قصة قصيرة · Emotional Realism
3.3K وجهات النظرمكتمل
قراءة
أضف إلى المكتبة
Semoga Dia Sebebas Angin

Semoga Dia Sebebas Angin

Pada hari jadi pernikahan kami yang ketiga, aku menunggu selama lima jam di restoran berbintang Michelin favorit Dion Bahlilah. Namun, dia tidak bisa dihubungi lagi. Pada akhirnya, aku melihatnya di unggahan sosial media milik kekasih masa kecilnya, Arina Purbaya. Dion menemaninya ke Benua Anarsia, benua yang sangat dingin. [Aku bilang aku sedang bad mood, dia langsung membatalkan seluruh janjinya untuk menemaniku bersantai.] [Ternyata, teman masa kecil lebih menenangkan daripada penguin.] Gambar yang menyertainya menunjukkan pemandangan yang sangat dingin, tetapi Dion dengan lembut memeluknya. Matanya memancarkan semangat membara yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tiba-tiba, aku merasa lelah. Aku menghentikan pertanyaan menyakitkan itu, menghentikan tangisan histerisku. Aku hanya dengan tenang menyukai unggahan tersebut dan mengirimkan pesan pada Dion. [Ayo bercerai.] Setelah beberapa lama kemudian, dia mengirim pesan suara. Nada suaranya menantang. “Oke, akan aku tanda tangani saat pulang.” “Lihat saja nanti siapa yang akan menangis dan memohon agar aku tidak pergi.” Orang yang menerima perlakuan khusus membuat mereka berani bertindak tanpa batasan, Dion pun sama sekali tidak mempercayainya. 'Tetapi Dion... Tidak ada seorang pun yang tidak bisa meninggalkan seseorang, hanya saja orang itu masih cinta. Tetapi mulai sekarang, aku tidak ingin mencintaimu lagi.'
قصة قصيرة · Romansa
6.5K وجهات النظرمكتمل
قراءة
أضف إلى المكتبة
Hybrid Desires: Claimed By My Creators' Husband

Hybrid Desires: Claimed By My Creators' Husband

Maturity Warning ️ This story is a dark romance intended for mature audiences (18+). It contains explicit sexual content, predatory behavior, power imbalances, blackmail and taboo themes. Reader discretion is advised. He calls me a monster by day, but claimed me like a slut by night. I am my mother's project and world's greatest miracle. I am her husband's greatest sin. I am a hybrid created in a secret basement with the DNA of my mother and sea creatures. I was designed to be the perfect daughter for my creator who couldn't conceive. But to her husband, I was nothing but a hideous monster that threatened his marriage. Rick despises me. He calls me a lab rat and treats me with a cold cruelty that should make me hate him. Yet my heart and body still aches for him. He punished me with his presence, but behind his mask of fate lies a hunger that contradicts his insult. The tension finally snaps when the house was empty and Rick claimed me as his prey in a violent, possessive act that brands me as his private obsession. But the outside world was waking up. Dr Morgan and his hounds are coming for me, to claim me as their asset. My mother, created a replica of me to be my mate, Kael. With the intention of saving her marriage and sending me away. Now, I am caught in a deadly crossfire. Rick swore to protect me from the Dr Morgan and Kael. But as Dr Morgan's men hunted me down. Rick must make a difficult choice; hand me over to the scalpel, or become a fugitive to keep me by his side. The experiment is over. The war for the miracle had begun.
Romance
201 وجهات النظرمستمر
قراءة
أضف إلى المكتبة
Para Pemburu dan Penghuni Tangguh

Para Pemburu dan Penghuni Tangguh

Jevior Likosta
Suatu ketika kerajaan Therazium, berhasil dikalahkan dan di invasi oleh para bangsa lain. Khaigor sang ksatria dan rekan-rekannya, berhasil menyelamatkan diri. Lalu bertemu dengan sekelompok yang bernama Gridor, Berthous, Megrito dan Nerdho, kelompok yang membasmi monster, kaum lain, prajurit rekrutan, bahkan mereka bisa dibayar. Khaigor bergabung menjadi Gridor sambil bekerja sebagai tukang besi dan serabutan, kemudian bertemu dengan tiga anak muda yang terdiri dari seorang perempuan yang lebih tua bernama Avery dari dua anak laki-laki tersebut bernama Verdis dan Neos, Khaigor berpetualang bersama mereka, kemudian dia mencari kembali ketiga sahabatnya yang masih penasaran akan keberadaannya apakah mereka masih hidup atau pun telah tiada. Tiga anak tersebut tumbuh menjadi pejuang tangguh di iringi dengan pembinaan dari Khaigor, Avery menjadi seorang prajurit dan dua temannya yaitu Verdis dan Neos menjadi Gridor. Sudut pandang antara pihak Gridor, Berthous, Megrito, serta Nerdho, kerajaan dan masyarakat memiliki perbedaan yang sebagiannya berselisih satu sama lain, yang tak dapat diterima sepenuhnya antar pihak. Meskipun begitu, mereka tetap menjaga persatuan mereka sebagaimana manusia tapi berbeda jika telah berperang dalam antar suku dan bangsa. Pada perbedaan lain manusia kerap kali berkonflik dengan orc dan goblin, yang juga dianggap menjadi ancaman mereka manusia. Gambar dari istockphoto.com
Fantasi
1.5K وجهات النظرمستمر
قراءة
أضف إلى المكتبة
Cinta Buat Yusra Saidah (Malaysia)

Cinta Buat Yusra Saidah (Malaysia)

Sm.mh
Yusra Saidah. Nama yang cukup indah. Raut wajah yang mampu menggetarkan hati seorang lelaki bernama Tengku Faiz Iskandar. Sekilas pandang dia tahu gadis itu turut menyukainya. Rezeki bagaikan turut menyebelahinya. Ada makna rupanya disebalik kepulangannya ke Malaysia, cuti semester kali ini. Namun, itu 7tahun berlalu. Dan hari ini, Yusra Saidah. Meskipun hanya menatap sekeping gambar gadis itu, Tengku Fairuz tahu hatinya sudah terpaut. Kerana janji yg terpatri antara dua insan, telah mengikat satu ikatan suci antara mereka. Yusra Saidah milik Tengku Fairuz sepenuhnya. Tiada sesiapa yang mampu menidakkannya. "Bukan senang untuk aku hidup dengan dia. Hati dia ada orang lain." Luah Tengku Fairuz kepada temannya, Syed Ammar. "Aku janji Shah, aku akan cuba cintakan suami aku seperti mana aku cintakan Abang Faiz dulu. Lagipun aku tahu Abang Faiz dah lama buang aku dari hati dia." Sayu suara Yusra Saidah bersama linangan air mata di pipi. "Abang cari Idah. Merata abang cari tapi abang tak jumpa. Abang tak pernah lupakan Idah. Idah dah janji dengan abang, Idah akan tunggu abang balik tapi kenapa bila abang balik, Idah dah bahagia dengan dia?" - Tengku Faiz Dulu kita bahagia tapi bahagia kita tidak selamanya kerana Dia sudah tetapkan yang jodoh itu bukan milik kita. Betapa kuat kita menggengam, akhirnya kita sendiri yang akan terasa sakit.
103.9K وجهات النظرمستمر
قراءة
أضف إلى المكتبة
Emergency Betrayal: Second Chances

Emergency Betrayal: Second Chances

Madam Pratt, my mother-in-law, was in critical condition after a car accident, desperately needing surgery. However, as the lead surgeon, I—Lilianne Davis—stood by, casually scrolling through short videos on my phone. My best friend, Tiffany Owens, who was also a doctor, was far more anxious than I was. She grabbed my hand and pulled me toward the operating room. “Lily, why are you still stalling? Hurry up and save her!” I took a step back, clutching my stomach in pain as her face twisted in shock. “I have cramps so bad I can’t even stand. You do it.” In my last life, the moment I heard about Madam Pratt’s accident, I had swallowed a painkiller and rushed into surgery, working for hours to stabilize her. I had barely stepped away from the operating table when alarms blared. “Lilianne, what have you done? The patient is experiencing acute hemolysis!” “Call the family now!” Gareth Pratt stormed in, his face twisted with rage. He slapped me hard in the face. “Lil, you’re a professional surgeon, yet you gave my mother the wrong blood transfusion?!” I froze, reaching for Madam Pratt’s medical report to explain, only to find that the A-type blood I had seen before had somehow changed to B-type. The medical board arrived, and a blood test revealed traces of hallucinogens in my system. “Unbelievable! Taking illegal substances before surgery? That’s a cardinal sin for a doctor!” In the chaos, Emma Pratt, Gareth’s teenage sister, grabbed a scalpel and stabbed me multiple times. Blood gushed from my arteries, and I collapsed in a pool of crimson. As my vision faded, I couldn’t understand what had happened. I had never taken illegal drugs. Besides, I was absolutely certain of Madam Pratt’s blood type. When I opened my eyes again, I had returned to the moment right before stepping into the operating room.
قصة قصيرة · Rebirth
3.6K وجهات النظرمكتمل
قراءة
أضف إلى المكتبة
Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan

Adikku Merebut Posisiku di Altar Pernikahan

Pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku, pengantinnya malah bukan aku. Upacara yang sudah kutunggu selama lima tahun berubah menjadi lelucon ketika Valentina, adik perempuanku, melangkah menyusuri lorong marmer dengan gaun pengantin putih. Lengannya melingkar di lengan Luca, pria yang seharusnya berdiri menungguku di altar. "Maafkan aku, Bianca," kata Valentina pelan. "Tapi hari ini kamu bukan lagi pengantinnya." Kemudian, dia menyentuh perutnya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Aku hamil anak Luca." Kata-katanya meledak di dalam kepalaku dan seluruh duniaku seolah-olah mendadak sunyi. Seakan-akan takut aku tak akan memercayainya, dia mengangkat sesuatu yang mengilap ke arah cahaya. Gambar USG hitam putih. Tertulis jelas, usia kehamilan 12 minggu. Mataku terasa panas dan perih. Dengan mata berkaca-kaca, aku menoleh ke arah Luca, mati-matian mencari apa pun. Penyangkalan, penjelasan, ataupun penyesalan. Namun, dia hanya menghela napas, lelah dan pasrah. "Bianca, aku minta maaf," katanya tak berdaya. "Valentina nggak punya banyak waktu lagi. Pernikahan ini ... adalah permintaan terakhirnya." "Aku akan menebusnya," tambahnya. "Kita bisa mengadakan pernikahan lain nanti." Ayahku, Moretti, berdiri di belakangnya dengan ekspresi dingin yang sama seperti yang selalu dia tunjukkan sepanjang hidupku. Aku tak pernah melihatnya tersenyum kepadaku, bahkan sekali pun. "Bianca," katanya tajam. "Adikmu sekarat. Biarkan dia yang menikah hari ini." Kakak laki-lakiku mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun, seolah-olah itu sudah cukup sebagai jawaban yang tegas. Sepanjang hidupku, mereka selalu memilih dia. Air matanya, keinginannya, kebutuhannya, semuanya lebih penting daripada aku. Hari ini pun tidak berbeda. Sesuatu di dalam diriku ada yang retak. Baiklah. Jika tak ada seorang pun di keluarga ini yang peduli padaku, aku akan pergi.
قصة قصيرة · Mafia
7.1K وجهات النظرمكتمل
قراءة
أضف إلى المكتبة
Kejutan Untuk Suami Sok Alim Ternyata Tukang Kawin

Kejutan Untuk Suami Sok Alim Ternyata Tukang Kawin

Mutiara Sukma
Sebuah pesan masuk ke dalam gawaiku, tak ada firasat apapun saat itu. Dengan santai pesan itu kubuka. Sebuah foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Mataku membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang kulihat, hingga berkali-kali aku memperhatikan bahkan sampai men-zoom foto itu sedetail mungkin, takut jika mata ini salah menyimpulkan. [Maafkan saya, Bu!] tulis si pengirim foto. Aku tak menghiraukan pesannya, butir demi butir air mengalir dari sudut mata, mengaburkan penglihatan. Menandakan bahwa foto itu membuat luka didalam sana. Sebuah foto resepsi pernikahan yang berlatarkan salah satu pemandangan di Puncak, tertampang nyata, sangat indah begitu pula dengan senyum dari kedua mempelai yang terlihat sempurna dan bahagia. Mas Arya, pengantin laki-laki yang kini sedang bersanding dengan seorang wanita muda dan cantik itu adalah suamiku. Suami yang sudah sepuluh tahun ini kuhaturkan bakti kepadanya. "Ma, Mama kenapa menangis?" cepatku susut air mataku dengan ujung jari, dan mematikan ponselku agar gambar yang begitu mengiris hati itu tak sampai terlihat oleh Alisa, putriku. "Ga, sayang. Mata Mama kelilipan," ungkapku asal. Kuraih tubuh mungil Alisa dalam pelukan, gadis lima tahun ini begitu sangat berarti bagiku. "Kak Alif mana sayang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Ada, Ma lagi di kamar, muraja'ah," Aku tersenyum getir. 'Mas, kita sudah punya putra dan putri yang begitu membanggakan, aku juga meninggalkan karierku demi berbakti kepadamu, kenapa masih saja curang dibelakang ku?' bisikku dalam hati. "Ma, Ayah kapan pulang?" Alisa bersandar didadaku, tanganku terulur membelai rambut panjang nan hitam milik Alisa. "Baru juga dua hari, Ayah pergi Nak, udah rindu aja," ujarku menggoda sambil menekan emosi dihati. Dua hari yang lalu, Mas Arya pamit akan ke Kalimantan mau mengurus bisnisnya. Aku yang tak begitu mengikuti perkembangan perusahaan, percaya saja padanya. Tak mungkin rasanya, Mas Arya mengkhianatiku dia lelaki yang baik, sholeh, penyayang dan selalu romantis. Namun, apa yang terjadi benar-benar diluar bayanganku
Romansa
1024.5K وجهات النظرمكتمل
قراءة
أضف إلى المكتبة
السابق
123456
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status