Nggak bisa bohong, aku suka banget ngulik soal terjemahan 'Tales of Demons and Gods' versi Bahasa Indonesia karena sering ketemu variasi yang nyentrik.
Untuk komik (manhua) biasanya yang kita sebut 'sub Indo' sebenernya adalah terjemahan panel, bukan subtitle—jadi orang sering bilang 'scanlation' atau 'TL Indo'. Kualitasnya sangat bergantung ke kelompok penerjemah: ada yang literal sampai bikin terasa kaku, ada juga yang adaptif sehingga alurnya enak dibaca tapi kadang jauh dari nuansa asli.
Beberapa masalah yang sering muncul: konsistensi nama tokoh (ada yang ngubah atau tetap pakai pinyin), terjemahan istilah kultivasi yang nggak standar, serta penghilangan catatan budaya yang bikin beberapa lelucon atau istilah nggak kejelasannya. Kalau mau yang rapi, cari yang kasih catatan translator, penyuntingan teks bagus, dan tipe font yang tidak bikin mata pegel. Aku sendiri biasanya bandingkan dua versi kalau ragu—satu yang literal untuk referensi, satu lagi yang lancar dibaca—biar dapet konteks dan kenyamanan baca.