Pengorbanan Melahirkan Dibayar Dengan Perselingkuhan
Di hari pemulihanku dari depresi pascamelahirkan, Yanto yang sedang mengemudi mobil tiba-tiba berkata, "Aku sebenarnya punya keluarga lain di luar."
Kalimat yang datang tanpa peringatan itu membuat kepalaku berdengung.
Yanto menatap lurus ke depan, lalu melanjutkan dengan nada penuh keluhan, "Saat depresi pascamelahirkanmu kambuh selama bertahun-tahun ini, kamu selalu mau mati. Saat itu, aku juga hidup sengsara. Sekarang kamu sudah sembuh, aku juga harus meluangkan waktu untuk menebus istri dan anakku yang sebenarnya."
Butuh waktu yang cukup lama, aku baru susah payah mengeluarkan suara gemetar dari tenggorokanku. "Kalau begitu ... aku dan anakku ini termasuk apa? Palsu?"
Yanto tidak langsung menyangkal. Setelah terdiam lama, dia baru berkata dengan tegas, "Terserah kamu mau anggap ini bagaimana. Demi anak, kamu juga nggak akan tega pergi, 'kan?"
Tubuhku langsung terasa seperti kehilangan semua kehangatan. Aku yang tadinya berpura-pura telah sembuh dari depresiku pun langsung kembali ke keadaan semula.