ログインKarena kakaknya sekarat, Inayah terpaksa menikahi Taksa, tunangan sang kakak. Meski demikian, keduanya berharap pernikahan mereka akan membuat wanita itu membaik. Sayangnya, semua tak sesuai harapan mereka. Lantas, mampukah Taksa dan Inayah menjalani pernikahan tanpa cinta dan tanpa dibayangi oleh Aretha?
もっと見るณ หมู่บ้านอี้เจี๋ยน เมืองไห่โจว มณฑลเหอหนาน
โจวเพ่ยชิง หญิงร้ายกาจและขี้เกียจประจำหมู่บ้าน แม้ว่าหน้าตาจะสะสวยและรูปร่างชวนมอง แต่กลับไม่มีใครคิดจะแต่งเธอเข้าบ้าน เนื่องจากวัน ๆ เธอไม่คิดจะทำอะไร นอกจากกินกับนอน นอกจากสองสิ่งนี้ หญิงสาวแทบไม่ทำอะไรเลย
“เพ่ยชิง วันนี้ไม่ทำงานเหรอ” ชาวบ้านคนหนึ่งเอ่ยถาม
“เห็นหรือเปล่าล่ะ ตาก็ไม่ได้บอดนี่นา”
“นี่ฉันอายุคราวแม่หล่อนแล้วนะ ฉันถามดี ๆ จะตอบดี ๆ ไม่ได้หรือไง”
“ฉันตอบแบบนี้ ไม่ดีตรงไหน”
มือข้างหนึ่งกำเมล็ดฟักทองไว้ ปากก็กำลังแทะในขณะที่ตอบ ซึ่งเป็นภาพที่ไม่ชวนมองเลยสักนิดเดียว ชาวบ้านคนนี้หน่ายใจกับอาการปากร้ายของโจวเพ่ยชิง ก่อนจะส่ายหน้าอย่างระอาและเดินจากไปอย่างไม่ชอบใจ
โจวเพ่ยชิงนั้นแอบชอบหลี่ฮั่นตง ลูกชายคนรองบ้านหลี่ ซึ่งเวลานี้เขาคือนายทหารอนาคตไกล
“เอ๊ะ! นั่นมันพี่ฮั่นตงนี่ เขาจะไปไหนกันนะ ตามไปดีกว่า” ทันทีที่เห็นชายในดวงใจ โจวเพ่ยชิงดวงตาเป็นประกาย รีบตามไปทันที
“พี่ฮั่นตง ครั้งนี้กลับมาหลายวันหรือไม่คะ”
หม่าหลันจี ลูกสาวคนรองบ้านหม่า เธอแอบชอบหลี่ฮั่นตงเช่นกัน และคงเป็นหญิงสาวเพียงคนเดียวที่ชายหนุ่มสนทนาด้วยอย่างเป็นกันเอง
“อืม ครั้งนี้พี่กลับมาหนึ่งสัปดาห์ หลันจีล่ะ สบายดีไหม น้าหม่าและน้าสะใภ้หม่าล่ะ ว่าง ๆ พี่จะเข้าไปทักทาย”
ใช่แล้ว บ้านหม่าและบ้านหลี่มีสัมพันธ์อันดีต่อกันเรื่อยมา แว่วว่าสองบ้านอาจจะเกี่ยวดองกันอีกไม่ช้า และทุกคนคิดว่าคงเป็นหลี่ฮั่นตงกับหม่าหลันจีนี่แหละที่ดูเหมาะสมกันดีแล้ว
“ค่ะพี่ฮั่นตง ฉันจะบอกพ่อกับแม่ไว้ให้ แล้วนี่พี่จะไปไหนเหรอคะ”
ท่าทางของหญิงสาวดูเขินอายไม่น้อย เมื่อรู้ว่าชายหนุ่มในดวงใจจะไปที่บ้านของเธอ ก่อนจะเอ่ยถามว่าชายหนุ่มนั้นจะไปที่ใด
“พี่ว่าจะเข้าป่าเสียหน่อย นี่ก็สายแล้วพี่ไปก่อนนะ”
“ค่ะพี่ฮั่นตง” หม่าหลันจีตอบกลับก่อนจะมองเขาจนสุดสายตา
ภาพของทั้งสองคนอยู่ในสายตาของโจวเพ่ยชิงตลอด เธอกำหมัดแน่นด้วยความเกลียดชังหญิงสาวจากบ้านหม่า ในใจนั้นคิดว่าไม่ได้การแล้ว เธอต้องจัดการบางอย่างเสียแล้ว ไม่อย่างนั้นพี่ฮั่นตงคงได้ตกเป็นของลูกสาวบ้านหม่าแน่
โจวเพ่ยชิงไม่สนใจเลยว่าทั้งสองจะเป็นคนรักกันหรือไม่ เธอต้องการเป็นคุณนายทหาร และเธอต้องทำมันสำเร็จ!
สามวันต่อมา โจวเพ่ยชิงสบโอกาส จึงวางแผนไปล้มทับ หลี่ฮั่นตง บุตรชายคนรองของตระกูลหลี่ คล้ายกับสถานการณ์จะเป็นใจทำให้มีชาวบ้านที่กำลังเดินผ่านทางนี้เห็นเหตุการณ์เข้าพอดี สุดท้ายแล้วทั้งคู่ได้แต่งงานกัน ด้วยความไม่เต็มใจของหลี่ฮั่นตง!
ทว่าความร้ายกาจของโจวเพ่ยชิงไม่หยุดอยู่เพียงแค่นั้น ในคืนเข้าหอ เธอยังวางยาสามีตนเองเพื่อมีความสัมพันธ์กับเขา หลังจากที่สามีกลับไปค่ายทหาร เขาก็ส่งเงินมาให้ที่บ้าน โจวเพ่ยชิงเรียกร้องจะเก็บของสามีเอง
เมื่อเห็นว่าสะใภ้คนนี้สร้างเรื่องสร้างราวไม่หยุดหย่อน คนที่บ้านหลี่เอือมระอาจนทนไม่ไหว จึงเรียกให้ฮั่นตงมาแยกบ้าน นั่นทำให้โจวเพ่ยชิงได้สร้างบ้านใหม่ หลังจากแยกบ้านได้ไม่นานหญิงสาวก็พบว่าตัวเองตั้งท้อง โจวเพ่ยชิงคลอดเด็กแฝดชายหญิง แต่เธอเลี้ยงดูพวกเขาไม่ค่อยจะดีนัก
วันหนึ่งหลี่ฮั่นตงกลับมาพร้อมกับอาการบาดเจ็บ เธอจึงขอหย่ากับเขา และหนีไปพร้อมกับเงินชดเชยก้อนโตที่สามีได้มาหลังปลดประจำการ โดยทิ้งสามีและลูกทั้งสองเอาไว้ตามยถากรรม
โจวเพ่ยชิงไปยุ่งกับผู้ชายที่ทำกิจการการค้าใต้ดิน หวังจะได้เป็นภรรยาของเขา และวันหนึ่งเพราะความหึงหวงของตัวเองที่ขาดสติ เกิดพลั้งมือทำร้ายน้องสาวของชายคนนั้นเข้า จึงทำให้ถูกเขาโกรธ ซึ่งเขาไม่ได้คิดจะจริงจังกับแม่ม่ายอย่างโจวเพ่ยชิงอยู่แล้ว จึงจัดการส่งตัวไปอยู่สถานที่ปลดปล่อยของบุรุษ!!
ทุกวันหญิงสาวต้องทนกล้ำกลืน ในใจนั้นหวนคิดถึงสามีและลูก รู้สึกผิดกับพวกเขาเป็นอย่างมาก รวมถึงทุกคนในครอบครัวของตัวเอง
“พี่ฮั่นตง ฉันขอโทษ อาเฉิน ซานซาน แม่ขอโทษ ขอโทษ”
ร่างกายของโจวเพ่ยชิงไม่สู้ดีนัก เนื่องจากเธอไม่ยินยอมใช้ร่างกายทำงานจนถูกทุบตี เวลานี้ลมหายใจเธอเริ่มแผ่วเบาแล้ว
"Aku tidak suka warna hitam," sungut Inayah ketika baru keluar dari toko pakaian. Ia menunduk untuk melihat dress hitam yang dikenakannya. Terlihat bagus, tetapi ia tak menyukai warnanya."Hitam lebih baik daripada putih." Taksa menyahut sembari terus berjalan menyusuri trotoar. Dengan Inayah mengenakan pakaian berwarna hitam, tidak akan menganggu penglihatannya jika sewaktu-waktu baju tersebut basah."Kamu sebenarnya ikhlas nggak sih beliin aku baju," sungut Inayah lagi."Ada Cidomo!" Inayah berseru riang sembari menunjuk Cidomo yang masih beroperasi padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Seketika ia melupakan perihal baju berwarna hitam yang tak disukainya."Aku mau naik Cidomo." Inayah mengguncang lengan Taksa dan memberikan wajah paling memelas yang ia bisa."Apa kamu nggak lapar? Daripada naik Cidomo, baiknya kita makan dulu. Aku takut kamu akan terjungkal naik Cidomo tanpa mengisi perut," omel Taksa seperti biasa. Matanya mengedar mencari restoran paling d
"Bener." Inayah nyengir. "Ini pertama kalinya aku naik bus.""Kita mau kemana ini? Padahal tadi aku berencana mau ke pantai Senggigi. Tapi sopir taksi pun tak merestui." Inayah menghela napas. "Tapi nggak papa deh, setidaknya batal ke pantai Senggigi, aku bisa ngerasain naik bus."Inayah mengangkat bahu tanpa beban dan memandang takjub sekitar. Taksa sampai heran karena Inayah tak terlihat kecewa batal pergi ke pantai Senggigi."Kita di sini cuma tiga hari," ucap Taksa membuat Inayah menoleh menatapnya."Aku tau. Bukannya kamu udah bilang, ya?" Heran Inayah."Cuma mengingatkan. Aku juga mau bilang kalau bus ini mau ke pantai Senggigi.""Serius?" Inayah menatap Taksa dengan berbinar. "Kok bisa kebetulan begini?""Bukan kebetulan, aku memang sengaja pilih tujuan ke pantai Senggigi."Inayah menutup mulutnya karena takjub. Ia takjub karena keinginannya dan keinginan Taksa bisa satu frekuensi. "Wah, kamu tau apa yang
"Kamu udah gajian, kan? Atau setidaknya kamu punya uang, kan?" tanya Inayah dan Taksa membuka mata mendengar pertanyaan aneh itu."Hmm." Taksa menyahut malas. Untuk apa pula Inayah menanyakan perihal uang padanya? Takutkah kalau dirinya akan terlantar di tempat asing ini?"Kamu punya uang, kan?" tanya Inayah lagi karena Taksa tak memberikan jawaban pasti."Memangnya ada apa? Kamu butuh uang? Kamu mau membeli sesuatu?" Taksa justru balik bertanya. Ia bangkit dari posisi rebahannya dan menatap Inayah sepenuhnya.Inayah mengangguk sembari meringis, "Aku gak tau kalau kita akan seminggu di sini, jadi aku cuma bawa persediaan baju untuk tiga hari. Kamu belikan aku baju, ya?"Taksa menghela napas dengan malas. Salahnya juga yang tak memberitahu Inayah bahwa mereka akan di sini selama seminggu. "Ya sudah, kita di sini cuma tiga hari aja, biar nggak perlu beli baju lagi," ujar Taksa kembali merebahkan tubuhnya.Inayah terbengon
"Ha?" Inayah linglung."Apa?" tanya Inayah karena Taksa menatapnya dengan wajah datar seperti biasa. "Kamu tadi bertanya, wanita bodoh mana yang mau jadi istriku dan jawabannya adalah, kamu. Kamu wanita bodoh itu."Lalu, Taksa berlalu meninggalkan Inayah lagi menuju resepsionis. Inayah menggaruk kepalanya yang tak gatal dan merutuk. Taksa benar, wanita bodoh itu adalah dirinya."Sabar Inayah. Sabar sampai setahun ke depan." Tapi setelahnya Inayah hampir meratap setelah memikirkan bahwa setahun itu adalah waktu yang lama. Sabar, sabar dan sabar, sepertinya hanya kata itu yang menjadi penguat untuk saat ini. Ia pasti bisa melewati cobaan ini sampai setahun ke depan. Ya, ia pasti bisa. Ia mudah berteman, bahkan dulu, tukang cilok di sekolahnya pun bisa akrab dengannya dan tak menutup kemungkinan, ia dan Taksa bisa berteman selayaknya teman."Saya menolak kamar itu dan akan memesan kamar sendiri." Inayah mendengar Taksa berbicara sedikit keras setelah mendekati lelaki itu yang lama sek
"Kemana orang tua kamu? Ketemuan di hotel, ya?" tanya Inayah ketika sudah sampai di bandara Lombok. Ia sempat menoleh ke sana ke mari, antara berharap dan juga takut bertemu dengan sosok yang diberi nama mertua. Bukan tanpa sebab, Inayah sering membaca dan juga mendengar cerita tentang mertua jahat.
"Ada apa?" tanya Inayah keheranan.Taksa tersentak dan menggeleng kecil. Ia menunduk untuk menghabiskan makan malamnya."Aku udah selesai." Inayah berdiri dan berniat meninggalkan Taksa."Tunggu!" Taksa berucap dengan cepat. "Ada yang mau aku omongin."Inayah kembali duduk dan memandang lelaki itu dalam
"Aku udah di jemput. Maaf, nggak bisa pulang sama kamu." Inayah melangkah cepat tapi Bumi tak kalah cepat menahan tangannya."Siapa yang jemput kamu?" tanya Bumi sembari mengedarkan pandangan. "Sua-mi aku." Gugup Inayah."Aku mau kenalan," sahut Bumi cepat."J
Bumi justru terkekeh. "Kamu terlalu mendalami peran, Inayah. Kamu cocok banget ambil jurusan seni peran.""Bapak masih nggak percaya?"Bumi justru menghentikan langkah hingga mereka semakin menjauh dengan mahasiswa lain."Jangan panggil bapak. Tinggal kita berdua di sini," sahut Bumi tak nyaman.Semenja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー