เข้าสู่ระบบHati Alma mulai gundah saat tetangganya yang seorang janda beranak satu mengatakan jika dia mencintai Firman--suami Alma. Alma kira dia bisa menjalani semua, namun ternyata suaminya membalas cinta Sania hingga membuat dia terpuruk. Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan dilakukan Alma sebagai seorang istri?
ดูเพิ่มเติม"Ya Allah, Mas! Tolong angkat teleponnya ...."
Suara Ayu Lestari lirih, nyaris putus asa. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang hamil besar. Ayu berjalan mondar-mandir di ruang tamu yang temaram. Tangan kirinya menekan punggung bawah yang terasa ngilu. Perutnya yang besar hampir menyeret langkahnya, tetapi ia terus mencoba menyeimbangkan diri. Layar ponsel di tangannya kembali redup. Sudah lebih dari sejam ia mencoba menghubungi Jaka Daud, suaminya. Tetapi, hanya nada sambung yang menjawab. Di luar, langit semakin gelap, dan rumah itu terasa kian sepi. Ayu menatap ke bawah, matanya membulat saat melihat darah merembes di antara pahanya. Dingin menyergap tengkuknya. Tapi tidak ada kontraksi. Dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang semakin pendek. Ada sesuatu yang tidak beres. Ayu menggigit bibir, menelan rasa takut yang menekan tenggorokannya. Lalu, ia memberanikan diri untuk mengambil keputusan. "Aku harus ke rumah Mama mertua sekarang." Tekad Ayu sudah bulat. Sambil memikirkan ibu mertuanya, ia mengusap perutnya yang tegang. "Semoga saja Mama mau menolong aku ...." Ayu berusaha tetap tenang agar janinnya juga ikut tenang. Begitu pintu terbuka, kilat membelah langit. Sedetik kemudian, suara petir menggelegar mengguncang malam. Hujan turun tanpa aba-aba, menghantam tanah dengan deras. Ayu kembali menggigit bibir, merapatkan jaketnya. Lalu, meraih payung. Tak ada pilihan lain. Dengan langkah terseok, Ayu berjalan menembus dinginnya hujan. Tangan kanannya erat memegang pegangan payung. Sedangkan tangan kiri memegangi perutnya yang berat. Setiap langkah terasa seperti ujian. Kaki telanjangnya yang hanya beralas sandal tipis mulai basah dan licin di trotoar. Akhirnya, Ayu tiba di depan rumah mertuanya yang hanya berjarak tiga rumah saja dari rumahnya. Ayu menatap pagar besi tinggi menjulang di hadapannya dengan napas tersengal. Ia meraih bel di sisi gerbang, menekannya beberapa kali. Tak lama, ada pergerakan di balik pagar. Seorang satpam menyibak celah kecil, matanya mengawasi tajam sebelum akhirnya bersuara. "Ada apa, Mbak Ayu?" Suara satpam terdengar ragu, matanya mengamati Ayu yang basah kuyup di bawah hujan yang semakin deras. Ayu merapatkan payungnya, air menetes dari ujung rambutnya yang lepek. "Tolong bukain pagarnya, Pak! Saya harus ketemu Mama Hayati." Suara Ayu bergetar, entah karena hawa dingin atau putus asa. Satpam tampak bimbang, tangannya mencengkeram kunci pagar di pinggangnya. "Maaf, Mbak. Tadi Nyonya berpesan, tidak membuka pintu untuk siapa pun." Ayu mencengkeram besi pagar yang dingin, matanya nanar. "Pak, saya mohon! Saya mungkin mau melahirkan. Saya tidak bisa menghubungi Mas Jaka." Satpam menelan ludah. Wajahnya sekilas menunjukkan keraguan, tapi ia menggeleng cepat. "Maaf, Mbak. Saya tidak berani melanggar perintah Nyonya." Napas Ayu tersengal, dadanya terasa sesak bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga kepedihan. Di tempat yang seharusnya bisa Ayu datangi untuk berlindung, ia justru ditinggalkan begitu saja. Air matanya hampir luruh, tapi ia menahannya. "Pak, saya mohon! Bantu saya kali ini saja. Saya tidak punya uang sama sekali kalau harus pergi sendiri." Hening. Satpam menatapnya lama, sebelum akhirnya menghela napas berat. Tangannya merogoh saku celana, menarik selembar uang ratusan ribu yang sudah agak lecek. Ia menyelipkannya melalui celah kecil di pagar. "Maaf, Mbak. Saya tidak bisa bantu banyak. Mas Jaka juga tidak ada di rumah. Tapi ... mungkin ini cukup buat naik angkutan." Ayu menatap uang itu. Tangannya gemetar saat menerimanya. Ini bukan hanya selembar uang, tapi bukti bahwa di tengah dinginnya dunia, masih ada sedikit kehangatan yang tersisa untuknya. Air mata Ayu jatuh juga. "Terima kasih, Pak. Maaf ... saya ambil. Semoga kebaikan Bapak dibalas yang lebih besar." Satpam mengangguk pelan, matanya menyiratkan simpati. "Aamiin. Semoga persalinan Mbak Ayu lancar." Ayu menggenggam uang pemberian satpam dengan erat, seakan itu satu-satunya harapan yang ia punya saat ini. Ia menarik napas dalam, menelan isak yang hampir pecah. "Iya, Pak. Saya pergi dulu." Ayu melangkah menjauh dari rumah mertuanya dengan perasaan hancur. Udara malam yang dingin menembus kulitnya. Namun, itu bukan apa-apa dibandingkan nyeri yang menjalar di perut dan dadanya. Harapan yang tadi digenggam erat kini luruh bersama hujan. Ayu sendirian. Kakinya terus melangkah, melewati trotoar yang sepi. Cahaya lampu jalan memantulkan bayangannya yang bergetar di aspal basah. Darah masih merembes di antara pahanya, terasa lengket di kulitnya yang dingin. Perumahan elit di Pondok Indah ini seperti kota hantu—pagar-pagar tinggi menutupi kehidupan di baliknya. Tak ada suara manusia, hanya deru hujan dan gemuruh petir di kejauhan. Sesekali, mobil mewah melintas. Namun, tak ada satupun yang memperlambat laju atau sekadar melirik Ayu. Ayu tak lagi berharap. Ia hanya berjalan, menghitung langkah di kepalanya agar tidak kehilangan fokus. Dua kilometer terasa begitu jauh, setiap gesekan kain di antara pahanya seperti bilah pisau yang menusuk. Sampai akhirnya di ujung jalan, Ayu melihat papan nama tempat praktek bidan yang biasa dikunjunginya. Dengan sisa tenaga, ia meraih bel. "Assalamu’alaikum, Bu." Suara Ayu serak, hampir tenggelam karena air hujan. Gerbang terbuka sedikit, seorang asisten bidan muncul dengan wajah terkejut. "Ya Allah, Mbak! Hujan-hujan begini naik apa?" Ayu menggigit bibirnya yang membiru, tubuhnya menggigil hebat. "Saya jalan, Kak." Asisten bidan melangkah mendekat, matanya penuh tanya. "Memangnya tidak ada yang mengantar?" Ayu hanya menggeleng. Tangannya meringkuk di depan dada, mencoba menahan gemetar. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya muncul. Ia adalah bidan yang biasanya memeriksa Ayu. Matanya membelalak begitu melihat Ayu. "Mbak Ayu, kok masih besar saja perutnya?" Suaranya terdengar tegang. Ayu mencoba tersenyum tipis, tapi air mata lebih dulu meluncur di pipinya. "Belum ada kontraksi, Bu. Tapi, saya terus mengeluarkan darah." Wajah bidan langsung berubah. "Astagfirullah, Mbak! Ini harusnya sudah dioperasi, loh! Bukannya saya sudah bilang waktu periksa kemarin?"Sudiro dengan terpaksa menceraikan Sania, meskipun begitu Sudiro masih memberi Sania sebagian hartanya. Namun, Sania justru menolak pemberian Sudiro."Aku tak pantas mendapatkannya, berikan saja pada anakmu," kata Sania.Setelah surat gugatan sampai di tangan Sania, Sania memutuskan untuk pindah ke rumah Kurnia lagi bersama Ibra. Sania akan menjalani hidup berdua saja dengan Ibra. Dia ingin menjadi Ibu yang baik untuk Ibra mengingat dulu dia tak pernah mengurus Ibra.Sementara itu, kesehatan Firman memburuk. Dia menderita penyakit lambung. Pagi itu dia di temukan tak berdaya oleh anak buah bosnya. Bukan dibawa berobat, Firman justru di buang di pinggir jalan."Buang saja dia, gak ada gunanya lagi," kata Bosnya.Mereka membawa Firman dengan mobil saat malam hari. Dan meninggalkannya di jalanan yang sepi."Jangan buang aku!" lirih Firman.Mereka mengabaikan Firman dan meninggalkan Firman sendirian. Firman yang merasakan sakit di perutnya mencoba untuk berjalan mencari tempat istirahat.
Sampai di rumah sakit, Alma sudah masuk ruangan bersalin. Satria segera masuk untuk mendampingi Alma. Satria tak akan membiarkan Alma di dalam sendiri.Tidak berapa lama, Suara tangis bayi terdengar. Bayi laki-laki lahir dengan lancar dan sehat. Satria mengumandangkan adzan di telinga sang buah hati.Sebagai orang tua baru, Satria sangat antusias dalam menjaga buah hatinya. Bahkan dia tak mengizinkan Alma untuk melakukan aktivitas rumah tangga lagi."Sayang, apa kira perlu baby sitter?" tanya Satria setelah mereka pulang dari rumah sakit."Gak usah, aku sudah biasa melakukannya sendiri," jawab Alma.Dulu saat melahirkan Naomi, dia menjaga dan merawat Naomi sendiri. Firman gak mau jika mereka menggunakan jasa baby sister. Apalagi saat ini marak dengan kabar yang beredar balita di aniaya baby sisternya, hal itu membuat Alma takut."Aku ingin menikmati menjadi ibu, mengasuh dan merawat anakku," kata Alma."Iya benar, tapi aku tak mau kamu kecapean. Paska melahirkan itu sangat melelahkan,
Sania dilarikan ke rumah sakit, lukanya sangat parah. Sudiro menemani Sania dan menunggunya di depan ruang operasi. Satria dan Kurnia datang bersamaan."Dengan keluarga Ibu Sania?" tanya Dokter."Iya, Dok. Saya suaminya, Dok," jawab Sudiro."Keadaan Bu Sania sangat mengkhawatirkannya, Pak. Janin yang ada di dalam kandungannya tidak bisa tertolong. Dan karena lukanya sangat parah rahimnya harus di angkat segera," kata Dokter.Mendengar hal itu, Sudiro langsung lemas. Dia takut mengambil keputusan yang salah."Ini surat yang perlu ditanda tangani, Pak. Supaya segera kami angkat rahimnya, semua demi kebaikan Bu Sania," kata Dokter."Sudiro, lakukan saja. Yang penting saat ini nyawa Sania tertolong," kata Kurnia."Bagaimana kalau nanti dia marah, Bu. Dia sangat menginginkan kehamilan ini," kata Sudiro."Dia sudah punya Ibra. Untuk apa punya anak lagi. Semua demi kebaikan dia, ayo tanda tangani," kata Kurnia.Berkat dorongan Kurnia, Sudiro menandatangani surat itu. Dan operasi segera dilak
"Selamat, Pak. Istri anda hamil," jawab Dokter.Sudiro terkejut sekaligus bahagia, akhirnya apa yang diinginkan Sania terkabul. "Di kehamilan trisemester pertama, Ibu hamil memang mudah sekali capek. Jadi saya sarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang membuat lelah," lanjut Dokter.Dokter meminta Sudiro menemui Sania, di dalam Sania tampak senang sekali. Apa yang dia harapkan telah menjadi kenyataan."Aku hamil, Mas," kata Sania."Selamat ya, Sayang," ucap Sudiro."Mas, aku mau minta hadiah," kata Sania. Sikap manjanya seketika dia tunjukkan pada Sudiro. Sudiro hanya menganggukkan kepala."Aku mau sebagian harta kamu nantinya akan menjadi milik anak kita," kata Sania.Sudiro terkejut, pasalnya semua harta sudah 3/4 milik Satria. Namun, dia masih punya seperempatnya lagi."Ya," ucap Sudiro.Setelah itu mereka diperbolehkan pulang, Sania harus banyak istirahat agar kehamilannya tidak mengalami masalah.Seminggu setelah pulang dari rumah sakit, Sania meminta agar Sudiro memberikan s
"Oh dia udah biasa tinggal sama ibu, Mas. Lagian apa kata orang kalau kamu menikah dengan aku yang sudah punya anak," kata Sania."Loh kok gitu, apa salahnya? Harusnya kamu yang malu punya suami tua kaya aku," kata Sudiro.Ponsel Sania berdering, dia meminta izin mengangkat panggilan tersebut. Sania m
Esoknya setelah Naomi pergi sekolah diantar Firman. Firman segera pulang karena Alma ingin berbicara. Mereka berbicara di ruang tamu."Apa yang kamu inginkan, Mas? Merebut Naomi dariku?" tanya Alma tanpa basa-basi."Maksudnya apa, Alma?" tanya Firman."Jangan berlaga bodoh, Mas. Aku tahu kamu mendekati
"Sebenarnya aku...," Maisya terdiam sejenak. Dia hendak melanjutkan ucapannya tetapi mendengar pintu kamar diketuk. "Siapa?" tanya Maisya."Hanum," jawab Hanum dari luar kamar.Maisya segera mengakhiri panggilannya dengan sang Papa dan berjanji akan menelfonnya lagi nanti."Sedang apa kamu di dalam?" t
Alma mendapat antrian lebih dulu, jadi dua masuk ke ruangan dokter lebih dulu."Sore Bu Alma," sapa Dokter cantik yang tengah duduk."Sore, Dokter," balas Alma."Mari saya periksa!" ajak Dokter. Alma mengikuti Dokter ke ruangan periksa, di sana dokter memeriksa kandungan Alma.Tidak berapa lama, Alma da












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น