Air Mata Maduku
Entah bagaimana besok, apa dia bisa merawat ibu dengan baik?
Hingga malam tiba, Aku kembali memberi semua arahan pada Liana. Maduku itu terlihat kesal.
"Banyak banget, sih? Memangnya nggak pake pembantu di sini?" umpatnya.
"Loh, kan ada kamu. Apa bedanya?" sahutku seraya mengulum senyum.
"Kurang ajar! Dasar istri kampungan!" hardik wanita yang suka bercelana pendek itu. Matanya seakan hendak lepas dari tempatnya karena melotot padaku.