Maduku Sayang
"Sembako mah banyak penjualnya, Pak. Kalau mau coba yang belum ada, ya bakso bakar dan sosis bakar itu. Di dekat sini aku perhatiin banyak anak muda dan juga modalnya tidak banyak. Untuk sembako kan butuh bangunan lagi."
Aku mengangguk, begitu pun dengan Ferdila. Setelah itu Naren kembali membuka suara, dia mengaku ingin membantu mengurus semuanya hingga usaha itu bisa berjalan dengan baik. Aku percaya pada lelaki berkulit putih itu karena dia memiliki banyak uang, orang dan kenalan.
Pengaruhnya pasti sangat besar sebagai pewaris perusahaan dan selebgram. Aku tertawa kecil mengingat dia yang kini menyamar sebagai supir pribadi dengan memakai mobil sendiri.
Hot Chapters