Cinta, Dendam, dan Takdir
Saat seluruh keluarga merayakan ulang tahun adikku, aku dikunci di pabrik terbengkalai, dengan darah yang terus mengalir.
Adikku menyewa empat preman, menyiksaku hingga nyaris mati.
Dengan sisa tenaga, aku merangkak sedikit demi sedikit mengambil ponsel, lalu menelepon suamiku.
"Laurent, aku terluka parah, cepatlah datang selamatkan aku ... di pabrik yang nggak jauh, nggak akan menyita banyak waktumu."
Mendengar suaraku yang rendah hati dan lemah, suamiku mencibir,
"Elena, menangis nggak mempan, sekarang mulai jual kasihan, ya?"
"Kamu sampai tak segan melakukan apa pun demi merusak pesta ulang tahun adikmu. Cepat bawa hadiah dan pulang untuk minta maaf padanya. Kalau nggak, kali ini kamu nggak akan kuampuni!"
Belum sempat aku berbicara, dari seberang telepon sudah terdengar suara adikku memanggilnya.
Suamiku tidak tahu, pada detik telepon itu ditutup, aku sudah tidak membutuhkan pengampunannya lagi.
Dia juga tidak tahu siapa mayat berbau busuk yang membuatnya, seorang ahli forensik senior, mengernyit dan menghindar.
Itu adalah istrinya sendiri yang telah dia benci selama bertahun-tahun.